Padang Berdarah Lagi: Tawuran, Tradisi yang Diminati

Penulis -

Senin, 21 April 2025 - 13:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh Nabil Makarim

Alumni Student Literacy Camp (SLC) 2025

“Kekerasan hanya akan membawa kehancuran bagi diri kita sendiri dan orang lain.”

— B.J. Habibie

Kalimat itu bukan sekadar kata-kata bijak, tapi peringatan yang sayangnya sering diabaikan. Buktinya? Sore itu di Padang, langit mulai memerah saat suara jeritan pecah di sudut kota Padang, kekerasan kembali menunjukkan keganasan. Bukan di medan perang, tapi di jalan umum, tempat orang seharusnya merasa aman. Seorang mahasiswa, pulang kuliah, tersungkur di trotoar. Bukan karena kecelakaan. dan juga karena begal. Tapi dia hanya sedang tidak beruntung, melintas di waktu yang sial dan tempat yang salah. Tawuran pecah, dan dia jadi korban yang salah sasaran.

Kasus ini bukan satu-satunya, tawuran bukan hal baru di Padang. Tapi kini, tak lagi sekadar aksi iseng remaja, sekarang mulai menjelma jadi “tradisi”. Bahkan, oleh sebagian anak muda, dianggap keren, berani, dan layak direkam lalu dibagikan ke media sosial. Ada yang bawa senjata tajam, ada yang sengaja bikin video sambil teriak-teriak. Konten kekerasan pun ramai ditonton, dibagikan, dan yang lebih mengerikan ditiru.

Tawuran Meningkat, Korban Bertambah

Menurut data dari Polresta Padang, dalam rentang Januari hingga April 2025, sudah terjadi lima kasus tawuran besar di wilayah Kota Padang. Dari kasus-kasus itu, tiga korban mengalami luka berat, dan dua di antaranya bukan pelaku maupun bagian dari kelompok manapun. Mereka hanya warga biasa, seperti mahasiswa yang tadi diceritakan.

Bahkan menurut Kapolresta Padang Kombes Ferry Harahap, dalam sebuah konferensi pers yang digelar awal April, pihaknya mencatat ada kenaikan trend tawuran hingga 30% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Lokasi yang sering jadi titik panas antara lain Kuranji, Pauh, dan kawasan Tabing menjadi momok penduduk sekitar. Mirisnya, aksi tawuran ini didominasi oleh kelompok remaja usia 14 sampai 20 tahun, sebagian besar masih pelajar. Beberapa kelompok aneh mulai merancang tawuran layaknya event: menentukan waktu, tempat, hingga membagi konten dokumentasi.

Dari Kenakalan Jadi Konten

Kalau dulu tawuran dianggap memalukan, sekarang malah jadi bahan pamer. Video tawuran diunggah ke media sosial, lengkap dengan efek suara, caption menantang, dan komentar penuh pujian semacam ajang pansos menjadi selebritas jalanan.

Ini bukan sekadar soal emosi, tapi soal pencitraan. Mereka ingin dianggap jagoan, ingin terlihat keren. Apalagi di era media sosial, satu video viral bisa langsung mengangkat geng jadi sorotan. Entah karena bangga, atau hanya ingin eksis, para remaja ini mulai menjadikan kekerasan sebagai identitas. Menurut pantauan beberapa akun penggiat anti kekerasan di Sumbar, terdapat lebih dari 20 video tawuran remaja Padang yang diunggah ke social media dalam dua bulan terakhir. Beberapa langsung viral, dan itu justru makin memicu kelompok lain untuk “ikut tampil”.

Siapa yang Bisa Jadi Korban?

siapa saja!. Tawuran hari ini tidak mengenal batas, tidak hanya terjadi di sekitar sekolah, tapi juga di jalan raya, dan Kawasan padat yang dipenuhi masyarakat melintas. Korbannya bisa siapa pun yang sial melintas. Yang lebih parah, sebagian kelompok sudah mulai membawa senjata tajam, polisi bahkan sempat menyita parang, gir motor, hingga panah rakitan dari tangan pelajar. Ini bukan lagi “tawuran ala anak sekolah”, tapi sudah mengarah ke kekerasan yang lumrah. Bayangkan jika semua ini dibiarkan, jalanan bisa berubah jadi arena perang, dan kota jadi ladang konflik yang sewaktu-waktu bisa meledak.

Kenapa Tawuran Diminati?

Ada yang bilang karena kurang kegiatan positif, ada juga yang menyalahkan lingkungan. Tapi satu yang pasti, banyak dari mereka merasa tidak punya tempat untuk menyalurkan diri. Remaja butuh eksistensi, mereka ingin diakui, dan didengar. Tapi ketika tak ada yang mau mendengar, mereka bicara dengan cara yang salah. Lewat kekerasan.

Selain itu, tekanan hidup, keluarga yang cuek, sekolah yang kaku, dan lingkungan yang longgar juga jadi pemicu. Tawuran jadi semacam pelarian, layaknya ruang untuk membuktikan diri. Masalahnya, pelarian ini berisiko tinggi, luka trauma, berujung di balik jeruji besi, bahkan kematian. Semua itu nyata, tapi sayangnya belum semua sadar.

Lalu Kita Harus Apa?

Pertama, jangan normalisasi kekerasan, tawuran bukan hal biasa, kekerasan ini harus dilawan dan dicegah. Kedua, sekolah dan orang tua harus lebih aktif. Bukan sekadar mengajar atau memberi hukuman, tapi juga mendampingi, tanyakan perasaannya dengan memperhatikan pergaulannya. Jangan sampai mereka merasa sendiri dan akhirnya cari teman di jalanan. Ketiga, pemerintah dan komunitas perlu menciptakan ruang aman, memberikan Fasilitasi anak muda untuk berkarya. Karena tanpa pilihan, mereka akan kembali ke yang paling mudah”kekerasan”. Dan keempat, aparat harus tegas, jangan tunggu viral dulu baru bergerak. Penindakan harus cepat, konsisten, dan mengidentifikasi para pemicu dan penyebar konten kekerasan yang membahayakan generasi muda.

Kota Ini Tak Pantas Terus Berdarah 

Padang bukan kota kekerasan, tapi tempat anak muda belajar, berkarya, dan bermimpi. Tapi akhir-akhir ini, jalanan lebih sering dipenuhi bentrok dari pada tawa. Tawuran seolah jadi hal biasa, padahal yang tumbang bukan musuh, tapi sesama. Kalau terus dibiarkan, kita sedang membiarkan kekerasan tumbuh jadi kebiasaan. Dan kalau kekerasan sudah jadi tradisi, jangan salahkan suatu hari kita tak lagi punya masa depan yang aman. Karena kalau darah terus mengalir di jalanan, itu bukan cuma luka di tubuh kota, tapi juga bukti bahwa kita semua sedang gagal jadi dewasa.

Penulis : Opini

Editor : Nofal Wiska

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi
Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur
IKHLAS itu MUDAH
Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional
Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak
Munajat Cinta di Sepenggal Tanah Surga
Muktamar NU ke-35, Menentukan Arah Khidmah NU dan Masa Depan Umat
Di Tanah Kelahiran, Harapan Kami Menggantung di Ujung Pena Regulasi
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 11:11 WIB

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi

Selasa, 29 September 2026 - 10:10 WIB

Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur

Minggu, 13 September 2026 - 05:44 WIB

IKHLAS itu MUDAH

Rabu, 2 September 2026 - 13:57 WIB

Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional

Senin, 31 Agustus 2026 - 15:36 WIB

Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB