Trending | News | Daerah | Covid-19

Opini

Mudik Virtual dan Gagasan

Dibaca : 297

Oleh : Arifki Chaniago , Intelektual

Padang, Prokabar — Puasa Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini berbeda. Ramadhan yang menjadikan rumah ibadah sepi, tak ada buka bersama, dan kegembiraan. Begitu juga dengan Idul Fitri yang tak ada sholat ID di masjid dan lapangan. Semua aktivitas disarankan lebih banyak di rumah, dibandingkan intensitas dikeramaian. Pendemi Covid-19 memaksa kita menjalankannya semua itu dengan cara berbeda, dari kebiasaan kita setiap tahunnya.

Pendemi memaksa kita jadi orang yang lebih sederhana. Ramadhan dan Idul Fitri bagi sebahagian kita, selain sebagai ibadah tahunan yang ditunggu. Secara materi pengeluaran lebih banyak dikeluarkan untuk memuaskan diri lewat silaturahmi tahunan dan memperlihatkan kesuksesan setelah bekerja satu tahun diperantauan. Namun, tahun ini semuanya merasakan kecemasan dengan wabah pendemi ini: pengusaha, pekerja, dan lainnya. Beban pikiran berbeda  sesuai dengan tangungjawab yang sedang dijalankannya.

Beberapa hari lagi Idul Fitri akan datang sebagai penutup berakhirnya bulan suci ramadhan. Bagi sebagian masyarakat yang pulang sebelum PSBB diterapkan berhasil berkumpul dengan keluarganya dan yang mendapatkan izin khusus sesuai dengan aturan yang berlaku. Tetapi, lebih banyak diantara kita yang memilih tetap dirantau, dengan memilih mudik secara virtual dan gagasan.

Mudik virtual adalah kepulangan kita ke kampung halaman secara digital, sedang mudik gagasan adalah kehadiran pikiran kita di tempat kelahiran tanpa harus ada hadirnya fisik. Pada masa pendemi ini, kedua ini harus kita lakukan demi memutus rantai virus, agar tak menyebar ke keluarga kita yang berada di kampung halaman.

Mudik virtual ini memang berat. Dulu, sebelum pendemi ini datang, sesulit-sesulitnya hidup diperantauan. Pulang lebaran terus diusahakan, ini tak hanya soal pembuktian kepada orang di kampung halaman. Tetapi kerinduan terhadap tanah kelahiran dan masakan lebaran yang dibuat oleh orang tua tak sanggub ditiadakan. Lagu-lagu bahasa lokal yang diputar di perantauan atau di kampuang halaman, memberikan nuasa berbeda, apalagi saaat lebaran tahun ini.

Hakikat Mudik

Mudik ke kampung halaman, selain soal rindu juga berhubungan dengan kebahagiaan. Ketika tahun ini rindu yang tak tertahankan, tetapi memberikan dampak kepada orang yang berada di kampung halaman: akhirnya rindu itu hanya mendatangkan kesengsaraan. Makanya, pada masa pendemi ini mudik secara virtual lebih baik dilakukan, baik yang berkeinginan mudik  yang melewati pulau ke pulau atau pun mudik lokal. Memaknai mudik dengan menghadirkan rindu dan kebahagian adalah inti yang seharusnya tak bisa dipisahkan. Kebahagian tanpa rindu dalam konteks “mudik” gersang, begitu juga rindu tanpa kebahagian, bikin sengsara.

Demi menyatukan rindu dan bahagia, mudik secara virtual pilihan tepat untuk bertemu dengan keluarga, sahabat, dan teman-teman masa kecil dikampung halaman. Kue-kue lebaran dimakan di rumah masing-masing, kita bisa melihatnya. Silaturrahmi virtual mempertemukan segalanya tanpa harus menghilangkan makna. Datang berkunjung secara langsung adalah kewajiban antara sesama manusia, tetapi pendemi mengharuskan kita melakukan segalanya secara virtual. Hal ini tentu tak mengurangi nilai silaturrahmi itu sendiri.

Mudik Gagasan

Efek mudik, salah satunya mendistrubusikan ekonomi dari kota ke desa. Pada saat mudik orang-orang yang berpenghasilan besar di kota akan memanfaatkan momentum mudik untuk membelajankan uangnya di desa. Mendatangi tempat-tempat pariwisata, makanan kuliner daerah, dan memberi uang kepada orang terdekat.

Selain itu, mudik gagasan penting untuk dibicarakan sebagai berbagi pengetahuan, pengelaman, cerita dengan orang di kampung halaman. Proses pengelolaan pengetahuan akan terjadi dua arah, baik dari perantau atau pun masyarakat desa. Bagi perantau bisa membantu masyarakat dengan ilmu yang dimilikinya untuk membagikannya di kampung halaman. Begitu juga, perantau juga mendapatkan pengelaman, yang didapatkan dari desa. Sinergi kota dan desa bekerja ketika “mudik” dimaknai tidak hanya memperlihatkan kesuksesan.

Pendemi Covid-19 jadi momentum bagi kita untuk mudik secara gagasan. Berbagai pengalaman daerah yang sukses menjalankan PSBB dan kerjasamanya masyarakatnya untuk memberikan dukungan kepada masyarakat yang ditulari oleh virus, misalnya, tetangganya bergantian membagi makanan tanpa harus mengusir dari tempat tinggalnya. Ini adalah pengelolaan pengetahuan yang harus disebarkan kepada masyarakat, gagasan bagi perantau yang tak mudik secara fisik bisa memberikan pendidikan dengan mudik secara gagasan.

Terkait mudik gagasan ini, tak hanya bisa dilakukan oleh para intelektul, akademisi, ilmuan dan warga lainnya. Politisi pun harus mengambil peran lebih dalam proses ini, karena selain materi yang dibutuhkan masyarakat (utama), masyarakat juga membutuhkan gagasan politisi melihat pendemi ini. Cara kerja seorang pemimpin, legislator dan senator hadir dihadapan masyarakat. Kegagalan daerah memberikan informasi dan data yang baik untuk penerima bantuan sosial.

Cerita yang saya dapatkan dari masyarakat, ada beberapa politisi yang hilang pada saat pendemi. Tak lagi muncul bertemu masyarakat, padahal konstituennya sedang kebingungan di daerah pemilihan masing-masing. Bantuan sosial yang tak kunjung datang, lapangan kerja pascalebaran, dan kecemasan kesehatan pada saat “ New Normal”. Pikiran-pikiran ini jarang keluar dari politisi-politisi kita pada saat krisis. Padahal sudah seharusnya seorang politisi mudik ke “daerah pemilihannya” secara materi dan gagasan untuk menghadapi pendemi. Risiko pemimpin pada bagian ini tak lagi bisa diperdebatkan, setelah kita jadi pemimpin dan wakil aspirasi masyarakat.

Demi memperkuat dan mensistematiskan gagasan politsisi, kita berharap, politisi-politisi juga menulis di media untuk menyampaikan gagasannya, yang tak hanya sekadar press release. Tujuaannya, agar kita tahu gagasan seorang politisi pada saat krisis, dan langkah yang lakukan pascakiris. Berbicara itu adalah proses yang paling banyak dan mudahdilakukan oleh manusia tentang apa saja yang inginia katakan—itu cendrung tak bisa dikontrol.Sedangkan menulis adalah  sistematis dari pikiran seseorang yang patut dipertimbangkan, dibahas, dibedah, dan dinilai kelayakannya.

Singkat kata, mudik virtual dan gagasan yang kita lakukan bukan berarti mengurangi  makna kembali ke tempat kelahiran. Justru, ketika kita tetap bisa mudik secara virtual dan gagasan denganmemberikan kontribusi postif itu lebih baik, dari pada hadir dengan kecemasan. (**)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top