Artikel

Monas, Semennya dari Padang. Emas dari Bengkulu. Uangnya dari Aceh

Jakarta, Prokabar.

Monumen Nasional (Monas) di Jakarta yang gagah itu dibangun untuk harga diri Indonesia. Di puncaknya ada “api nan tak kunjung padam.”

Monas dibangun memakai Semen Padang, sebab waktu itu pabrik Semen Gresik baru berdiri. Emasnya dari Rejang Lebong, residen Bengkulu, Provinsi Sumsel. Sekarang jadi Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu.

Monas tingginya 132 meter (433 kaki). Pembangunan dimulai 17 Agustus 1961 di bawah perintah Presiden Sukarno, dan dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975. Tugu ini dimahkotai lidah api yang dilapisi lembaran emas yang melambangkan semangat perjuangan yang menyala-nyala.

Sukarno secara seremonial menancapkan pasak beton pertama. Total 284 pasak beton digunakan sebagai fondasi bangunan. Menurut wikipidia 360 pasak bumi ditanamkan untuk fondasi museum sejarah nasional. Keseluruhan pemancangan fondasi rampung pada Maret 1962.
Meskipun pembangunan telah rampung, masalah masih saja terjadi, antara lain kebocoran air yang menggenangi museum. Monumen secara resmi dibuka untuk umum dan diresmikan 12 Juli 1975 oleh Presiden Republik Indonesia Soeharto.

Sebanyak 28 kg dari 38 kg emas pada obor Monas tersebut merupakan sumbangan dari Teuku Markam, seorang pengusaha Aceh yang pernah menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia.

Juga sumbangan dari warga Kabupaten Lebong, yakni H Lukman Hakim. Menurut Bengkuluekspres.com H Lukman merupakan salah satu pengusaha tambang emas tradisional di Lebong Simpang yang masuk wilayah Desa Mangkurajo Kecamatan Lebong Selatan.

Berani Komen Itu Baik
Loading...
To Top