Budaya

Meriahnya Hari Rayo Anam Masyarakat Jorong Sikaladi Tanah Datar

Tanah Datar, Prokabar – Berbagi macam tradisi dan budaya di bumi Minangkabau sampai saat ini masih dipertahankan eksistensinya, salah satunya merayakan hari rayo anam (lebaran 6) di pandam pekuburan kaum. Di Jorong Sikaladi, Nagari Pariangan, Kecamatan Pariangan, Tanah Datar misalnya, tradisi dan budaya merayakan hari rayo anam tersebut masih terus dilestarikan oleh masyarakat setempat.

Biasanya, pelaksanaan hari rayo anam dilaksanakan enam hari setelah ditetapkannya hari Idul Fitri atau 6 Syawal atau setelah menjalankan puasa Ramadhan selama 30 hari, dan dilanjutkan dengan puasa Syawal. Setelah melakukan puasa sunnah 6 hari selepas Idul Fitri, masyarakat kemudian baru melanjutkannya dengan tradisi yang disebut dengan rayo anam itu.

“Budaya seperti ini telah kami lakukan secara turun temurun dan diteruskan dari nenek moyang kami,” ucap M Amir Khatib Basa salah satu ninik mamak kaum Malayu.

Di pekuburan, tradisi rayo anam biasanya diisi dengan zikir bersama dan salawat. Hal ini ditujukan agar pendahulu dari anggota kaum, seluruh amal ibadahnya dapat diterima oleh Allah SWT. Selain itu, juga dilakukan makan bersama dengan masyarakat kaum di pandam pekuburan.

Selain itu, berkumpul di pekuburan juga sebagai bentuk silaturahmi masyarakat kaum dari pesukuan. Dengan berkumpul bersama, seluruh masyarakat kaum dapat saling mengenal baik antara masyarakat kampung maupun rantau.

“Disini kami melakukan zikir untuk pendahulu kami, dan juga silaturahmi sesama masyarakat suku melayu,” tambahnya.

Bagi masyarakat Sikaladi, rayo anam sangatlah meriah jika dibandingkan dengan hari raya Idul Fitri. Bagaimana tidak, pada hari rayo anam itu, seluruh anak kemenakan jorong Sikaladi, baik yang bermukim di kampung halaman maupun di perantauan berkumpul semuanya.

“Tentunya hari rayo anam ini sangat meriah bagi kami. Yang merantau biasanya pulang dari rantai bukan pada hari raya Idul Fitri. Melainkan sesudah hari raya. Idul Fitri hanya bagi kami di Kampung,” ujar M Amir yang juga seorang pensiunan pegawai negeri sipil.

Dari pantauan prokabar.com di Sikaladi. Memang kemeriahan hari lebaran sangat terasa pada hari rayo anam. Mulai dari pintu masuk Jorong Sikaladi, suasana kemeriahan hari rayo anam sudah kental terasa. Bagi kaum hawa, mereka menjujung talam di atas kepala untuk membawa makanan ke pekuburan, yang kemudian akan disantap secara bersama-sama.

Harapan terbesar masyarakat Jorong Sikaladi, tradisi dan budaya ini dapat terjaga kemasa yang akan datang dan tak tergerus perkembangan zaman.(eym)

Berani Komen Itu Baik
Loading...
To Top