Oleh : Aidil Rahman Novesar
72 tahun berlalu semenjak kita merdeka, waktu yang sudah senja jikalau lah di analogikan sebagai umur manusia, pada usia seperti ini manusia sudah tidak lagi seaktif dulu, energi nya sudah banyak berkurang, kalaupun masih banyak, infrastruktur tubuh terkadang tidak sanggup lagi untuk mengakomodirnya, bahkan terkadang banyak yang sudah lebih dahulu menghadap yang kuasa sebelum mencapai usia tersebut
Namun, untuk sebuah usia Negara, memang bukan waktu yang paling lama, namun juga bukan negara yang masih balita, mungkin kalau ukuran negara kita ini sudah berumur 30-an, umur disaat ambisi menggebu, tenaga masih kuat, otak masih encer, keinginan untuk membuktikan diri dan menjadi lebih baik sedang berada dalam puncaknya, seharusnya
Tulisan ini sebenarnya adalah kekhawatiran saya tentang padangan bangsa terhadap manusianya, barusan saya membaca di suatu surat kabar , bahwa Indonesia akan mendatangkan dosen asing untuk menajar di Indonesia, dan akan digaji 40-65 juta yang dinilai sesuai dengan “standar” gaji dosen asing
Belajar sampai akhir hayat itulah kewajiban kita ,memang, tidak ada yang salah dengan mendatangkan dosen asing, tidak ada yang salah jikalau kita belajar kepada yang lebih pintar daripada kita, memang sudah kewajiban diri kita untuk selalu memperbaiki diri setiap saat.
Dilihat dari sisi akademik, sangat bagus, universitas di Indonesia memang belum ada yang masuk 100 besar universitas top dunia, pada update an terbaru universitas Indonesia menduduki peringkat 277 dari 959 perguruan tinggi di 84 negara di dunia, peringkat yang cukup baik namun masih banyak ruang untuk berkembang
Namun dari sisi penghargaan terhadap bangsa, apakah memang dosen asing digaji 65 juta dan dosen lokal yang digaji 10-20 juta memiliki kemampuan yang berbeda sangat jauh seperti gajinya?, apakah ada penilaian yang seimbang dalam penentuan dosen asing yang akan mengajar dibandingkan dengan dosen lokal yang berprestasi ?, apakah memang dosen asing yang pasti lebih bekualitas dibandingkan dengan dosen lokal yang ada? Seandainya memang ada pelnilaian yang “fair’ apakah jika dosen lokal yang lebih berkualitas bisa mendapatkan gaji yang sama dengan dosen asing ?
Jawabannya tentu saya tidak tau, pengusul program inilah yang saya rasa lebih patut untuk memberikan jawaban, namun tujuan saya disini adalah, apakah memang sumberdaya kita tidak berdaya jika dibandingkan dengan sumber daya asing? Ataukan memang setelah 72 tahun merdeka, pikiran kita masih terjajah.
Selama 350 tahun dijajah belanda, 3,5 tahun dijajah jepang, bukan waktu yang sebentar, waktu yang cukup lama untuk menanamkan pemikiran bahwa bangsa asing adalah bangsa yang jauh lebih superior, pemikiran yang diturunkan dari generasi ke generasi, terbaca dalam cerita dan sejarah yang membuat pemikiran kita merasa bahwa kita memang inferior
Kita bisa saja berdebat panjang, sudah tentu ada pro dan kontra, namun jika kita jujur sedikit aja, sudah berapa berita berita wanita Indonesia dinikahi pria berkebangsaan eropa atau amerika atau wanita eropa menikahi pria indonesia, didatangi pejabat daerah, petinggi pemerintahan disiarkan di surat kabar, seolah terlihat ada kebanggan jikalau dinikahi pria “bule” adalah suatu kebanggan, seperti ketika 300 tahun yang lalu ketika penjajah menikahi warga jajahannya.
Sudah saatnya kita menghargai sumber daya, berikan keleluasaan kepada rakyat sendiri untuk bisa berkembang, berikan perlakuan yang sama pada sumber daya potensial, tidak ada masalah jika memberikan gaji lebih, tapi gunakan penilaian yang adil dan terukur, bukan hanya karena “asing”, jangan lagi mengiyakan bahwa kita adalah inferior, revolusi mental jangan hanya menjadi slogan, pemerintah harus menaikkan derajat penghargaan kepada sumber daya nya, disanalah sumber daya akan berkembang dan memajukan Negara ini. Dan menuju 73 Tahun Indonesia Merdeka, ini adalah PR kita bersama dan harusnya bisa kita selesaikan.
















