Trending | News | Daerah | Covid-19

Peristiwa

Menikmati Alam Rimbo Jauih Koto Gadang VI Koto Tanjung Raya (Danau Maninjau)

Dibaca : 1.1K

Agam, Prokabar — Danau Maninjau dengan keelokannya masih tersimpan rapat segudang misteri. Keindahan itu sesejuk embun dan kesuburannya sebagai kekayaan alam untuk kesejahteraan masyarakat. Namun sangat disayangkan, potensi alam itu belum mampu terkelola secara maksimal.

Seperti halnya yang terjadi di Rimba Jauih, Nagari Koto Gadang VI Koto, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat. Baru-baru ini masyarakat setempat dengan tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resor Agam mendapati belasan knop Raflesia Arnoldi serta belasan tumbuhan langka dan hewan liar di sana.

Tim BKSDA Resor Agam mendapat laporan dari warga setempat terdapat Bunga Raflesia Arnoldi tumbuh subur. Eksplorasi pun mulai dilakukan, 4 orang Tim BKSDA dibantu belasan orang pecinta alam masyarakat setempat, Rabu (3/6) lalu. Setelah sampai ditepi rimba dengan kendaraan roda dua dan satu unit minibus, pertualang dimulai dengan menempuh jalan sekitar beberapa kilometer ke dalam rimba itu.

Setengah perjalanan, rombongan menyempatkan diri menikmati anak sungai. Sekaligus menyantap hidangan makan siang, yang telah dipersiapkan sebelumnya. Melepas sedikit penat sambil meneguk jernihnya air bekas pegunungan.

Usut demi usut konon Rimba Jauih itu pernah menjadi lahan perkebunan Kolonial Belanda. Bahkan katanya ada sebuah bangunan lama berupa vila. Serta terdapat bantalan kereta api dan sebuah pohon berbentuk tulisan Masyumi.

Usai istirahat dan makan siang, perjalanan dilanjutkan. Akan tetapi rombongan tersebut dibagi menjadi dua tim. Satu tim menuju Air Terjun, sementara Tim BKSDA didampingi Tokoh Masyarakat lainnya menuju lokasi temuan Bunga Raflesia Arnoldi.

Baru saja melangkah, sekitar 200 meter dari anak sungai, sudah ditemukan sebuah Bunga Raflesia Arnoldi. Kejelian dan ketajaman panca indra Kepala Resor BKSDA Agam, Ade Putra teruji saat itu. Karena temuan bunga langka itu sempat terlingkaui sejumlah rombongan, yang sudah dahulu di depan.

M. Datuak Tumanggung Sati, Tokoh Masyarakat sekaligus ninik mamak Koto Gadang VI Koto menjelaskan Rimba Jauih diketahui memiliki beragam pohon beringin dan air terjun. Keutuhan alamnya masih cukup terjaga, beserta flora dan faunanya.

Berbagai satwa liar seperti Kijang, Kancil, Babi Hutan, Kura-kura, Harimau, Orang Hutan, Siamang. Serta tumbuhan langka lainnya, sebagai bukti keasrian alam, masih banyak terlihat di sana.

Hal itu terbukti dengan beragam temuan tumbuhan yang bahkan belum diketahui jenis dan spesiesnya. Banyak temuan tumbuhan yang belum terdeteksi dari tim BKSDA sendiri.

Ekplorasi hutan itu bertujuan memastikan keutuhan alam, melihat dan meneliti hutan belum dirusak orang tidak bertanggung jawab. Keasrian hutan sangat terjaga, berkat dukungan masyarakat adat setempat. Mereka mampu menjaga anak kemenakannya, untuk tidak melakukan penebangan hutan secara membabi-buta.

“Kami sengaja menggandeng BKSDA Resor Agam, memastikan titik koordinat dan batas Rimbo Jauih dengan Cagar Alam Maninjau. Sekaligus memastikan keadaan kondisinya masih terjaga,” ungkap M. Datuk Tumanggung Sati.

Banyaknya ditemukan tumbuhan dan hewan langka di sana, membuat ketertarikan tersendiri pada masyarakat. Sehingga dapat dimanfaatkan untuk peningkatan ilmu pengetahuan serta kesejahteraan masyarakat. “Meski demikian, potensi itu harus dimanfaatkan sesuai ketentuan hukum dan diketahui pihak berwenang. Agar tidak terjadi pelanggaran hukum dan perusakan alam nantinya,” terangnya.

Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam lebih, lokasi yang dituju akhirnya ditemukan. Bunga Raflesia Arnoldi yang dicari sudah mulai menghitam. Menandakan umur bunga langka itu segera berakhir.

Ade Putra, Kepala Resor BKSDA Agam menjelaskan, kondisi Rimbo Jauih Koto Gadang VI Koto memang masih terbilang sangat asri. Banyaknya ditemukan tumbuhan langka dan satwa liar, menjadi bukti keasrian hutan tersebut. “Selama eksplorasi, ditemukan 6 titik tumbuh Raflesia Arnoldi serta tumbuhan langka lainnya. Ini merupakan titik ke 14 yang sebelumnya 13 titik sebaran Kabupaten Agam,” tuturnya.

Sejumlah hewan yang dilindungi, juga masih banyak berkeliaran dan bermain di rimbo jauih tersebut. Berharap, hukum adat di Nagari Koto Gadang VI Koto diperkuat dan ditegakan di tengah masyarakat. Sehingga kelestarian hutan, semakin lebih baik untuk anak cucu nantinya.

“Di sisi lain, pemanfaatan Rimbo Jauih ini juga bisa berupa sport tourism seperti traiking, hiking, camping dan lainnya. Potensi wisata seperti Agrowisata, Wisata Alam berupa Air Terjun dan pemandangan indah Danau Maninjau, juga sangat menanti. Tentu harus tetap dengan pola alami, tanpa harus melakukan pembangunan betonisasi. Cukup pemanfaatan alam dengan cara alam pula,” pungkas Ade. (rud)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top