Budaya

Mengenal Sosok Buya Hamka, Pejuang Empat Zaman Keturunan Para Syekh Terkemuka (02)

Oleh : Rudi Yudistira. S.S

Buya Hamka Keturunan Syekh Penyiar Islam Terkemuka di Ranah Minang.

Dalam Buku “Ayahku”, Buya Hamka mengupas habis sejarah diri beserta buyutnya yang merupakan ulama-ulama terkemuka menyiarkan Islam di Ranah Minangkabau ini. Tokoh Ulama tersebut merupakan nenek moyang Buya Hamka sendiri. Dimulai dari Syekh Abdullah Arif (Tuanku Pariaman atau Tuanku Nan Tuo), Syekh Abdullah Saleh (Tuanku Guguk Katur), Syekh Muhammad Amrullah (Tuanku Kisai) dan Syekh Abdulkarim Ambrullah atau Haji Rasul.

Syekh Abdulah Arif (Tuanku Pariaman atau Tuanku Nan Tuo)

Syekh Abdullah Arif atau lebih dikenal Tuanku Pariaman atau Tuanku Nan Tuo, merupakan buyut (keturunan ke empat dalam bahasa Jawa Canggah) dari Prof. Dr. H Abdul Malik Karim Amrullah. Menurut Hamka, Inyiak Tuanku Pariaman diketahui juga guru dari Syekh Burhanuddin di Ulakan Tapakis, Kabupaten Padang Pariaman. Hal tersebut diketahuinya setelah membaca buku karangan Sir Thomas Arnold berjudul “Peaching of Islam”, salinan bahasa arab halaman 404, mengutip dari keterangan De Hollander.

Tuanku Pariaman menurutnya berasal keturunan Arab datang ke daratan Sumatra bagian barat permulaan abad kesembilan belas. Di saat itu Islam mulai tumbuh dan dikenal pesat masyarakat Minangkabau. Konon, merupakan cikal bakal tumbuhnya pergerakan Padri. Hanya saja, beliau mengembangan Islam beraliran Syatariah dan memusatkan pengaruhnya di Empat Koto Agam, seperti di Koto Tuo, Koto Gadang, Balingka dan Guguak. Beliau juga sempat mengajar dan mendirikan surau di Galung, Banuhampu. Serta mengajar pula di Lawang dan Andalas (Matur) Empat Koto Maninjau (Bayur, Maninjau, Sungai Batang dan Tanjung Sani).

Di Koto Tuo, beliau memiliki seorang istri dan memiliki sepasang anak. Putranya di Koto Tuo itu berhasil menjadi seorang ulama dengan gelar Tuanku Sutan. Di Lawang Tigo Balai, Tuanku Pariaman juga memiliki seorang istri dan beberapa orang anak, serta lahir pula Tuanku Lawang. Di Sungai Batang, Tuanku Nan Tuo ini juga memiliki seorang istri, anak laki-laki dan anak perempuan. Anak laki-laki ini bergelar Labai Gigi Putih. Sedangkan yang perempuan bernama Siti Saerah (kemenakan dari Datuk Sati bersuku Melayu).

Syekh Abdullah Arif di Sungai Batang mendapatkan murid bernama Syekh Abdullah Saleh atau Syekh Guguk Katur (Ungku Syekh suku Tanjung). Ia akhirnya menikahkan anak perempuannya Siti Saerah dengan murid terbaiknya tersebut dan melahirkan Syekh Muhammad Amrullah (kakek Kandung dari Buya Hamka).

Pada masa perlawanan Ulama terhadap penjajahan Kolonial Belanda pada Perang Paderi, Tuanku Pariaman dipercaya Tuanku Imam Bonjol untuk menjaga Lawang dan Andalas (Matur) agar tidak masuk dan melintas menuju Bonjol sebagai Pusat Pertahanan Kaum Paderi. Sekitar 4000 pasukannya berupaya mempertahankan wilayah tersebut agar tidak dikuasai Belanda. Namun sayang, kekuatan Penajajah tersebut dengan sejata apinya lebih kuat ketimbang kemampuan perang yang dipimpin Tuanku Pariaman tersebut.

Pertahanan Kaum Paderi dipimpin Tuanku Pariaman berhasil dihancurkan Kolonial Belanda yang dipimpin Letnan Kolonel Vermeulen Kruger. Kekalahan beruntun pun terjadi setelah itu pada kaum Paderi, hingga akhirnya Tuanku Imam Bonjol tertangkap dan dipenjarakan penjajah Belanda tersebut.

Syekh Abdullah Saleh (Tuanku Guguak Katur) dan Syekh Moh. Amrullah (Tuanku Kisai).

Syekh Abdullah Saleh atau Tuangku Syekh Guguak Katur merupakan murid terbaik Tuanku Pariaman di Empat Koto Maninjau, terutama di Nagari Sungai Batang. Ia juga minantu atau suami dari anak perempuannya bernama Siti Saedah. Menurut catatan Hamka dalam bukunya “Ayahku” halaman 38 (cetakan ke IV, Juli 1982) menyebutkan beliau dikenal dengan sebutan Ungku Syekh Suku Tanjung. Beliau terfokus pada Ilmu Tasauf dengan mempelajari kitab “Hikam Ibnu Athaillah”. Beliau juga suka mengamalkan pelajaran Imam Al Ghazali tentang khalwat. Khalwat merupakan menyendiri sendirian di tempat yang sunyi untuk berzikir dan beribadah. Dan Syekh Abdullah Saleh atau Tuanku Guguk Katur sangat senang berkhalwat di suraunya, di Guguk Katur. Di sebelah surau tersebut beliau membangun sebuah air pemancuran terdapat sebuah hamparan batu menyerupai guguk. Di sana beliau sering melaksanakan khalwat dan tahajjud, sehingga jejak tapak surau meninggalkan bekas dan dapat dilihat pada saat itu.

Dari Pernikahan Syekh Abdullah Saleh dengan Siti Saedah, lahirlah Syekh Muhammad Amrullah (Kakek Buya Hamka) dan saudara kembarnya bernama Bayanullah atau Haji Umar. Mereka lahir pada bulan Rajab 1256 Hijriah atau 1839 Masehi di Sungai Batang.

Menurut Nasbir Khatib Sinaro, salah seorang Tokoh Ninik Mamak sekaligus ulama di Sungai Batang kepada penulis menyebutkan, Syekh Muhammad Amrullah dari kecil sudah dididik oleh ayah kandungnya Syekh Abdullah Saleh hingga khatam Al Qur’an. Tahun 1270 Hijriah atau 1853 Masehi, di saat berumur 14 tahun beliau dibawa kakeknya Tuanku Pariaman ke Koto Tuo untuk mendalami ilmu yang lebih dalam lagi tentang Agama Islam.

Pada tahun 1282 Hijriah atau 1864 Masehi, Ia diberi mendapat gelar Fakih Kisai dan mendapat ijazah mengajarkan ilmu tafsir, fiqih, tasauf dan ilmu-ilmu alat seperti nahwu, sharaf, manthik, ma’ani, bayan dan badi’. Di usia 26 tahun itu ia kembali ke kampung halaman dan menyiarkan agama Islam. Tidak beberapa lama kemudian itu, Syekh Abdullah Arif atau Tuanku Pariaman meninggal Dunia.

Dan disaat itulah Syekh Muhammad Amrullah atau Tuanku Kisai mulai ramai dikunjungi murid-murid dari Empat Koto Agam, IV Koto Maninjau, Lawang dan Matur. Mereka berbondong-bondong ke Surau Air Selubuk (Masjid Jami’ak atau saat ini bernama Masjid Syekh Amrullah di Jorong Nagari, Sungai Batang) untuk mendapatkan pendidikan Agama Islam dari Tuanku Kisai.

Setelah lama menerima murid dan memberikan ilmu yang telah didapatkan, merasa belum cukup untuk diberikan kepada murid-muridnya, maka timbulah hati untuk menggali ilmu lebih baik lagi. Tuanku Kisai akhirnya memutuskan pergi ke Mekkah bersama salah satu dari tiga Istri pada saat itu bernama Siti Salamah. Selama lima tahun menuntut ilmu dan berguru kepada Ulama Sayid Zaini Dahlan, Syekh Muhammad Hasbullah dan beberapa ulama lainnya. Ia pun berjumpa dengan para sahabatnya Syekh Ahmad Khatib dan Syekh Taher Jalaluddin yang sama-sama menuntut ilmu pada saat itu.

Syekh Muhammad Amrullah diketahui meninggal pada 1325 Hijriah atau 1907 Masehi. Pada masa itu, pergejolakan paham Tharikat Naqsyabandi yang disiarkan Syekh Abdulkarim Amrullah, anak dari Syekh Muhammad Amrullah mendapat pertentangan hebat dari semua ulama yang mengamalkan Tharikat Syatariah. Bahkan pada saat pemandian dan pemakaman Tuanku Kisai tersebut sempat dilanda perdebatan persoalan Kenduri (meniga hari, menujuh hari, hingga menyeratus hari kematian almarhum) antara Haji Rasul dan sahabatnya dengan Tuanku Laras bersama Adik Kandung Haji Rasul bernama Haji Muhammad Nur Amrullah.

Berani Komen Itu Baik
Loading...
To Top