Lubuk Basung, Prokabar – Pertemuan tidak terduga memberi warna dan diskusi hebat dengan sejumlah pemuda energik, aktif dan inovatif, Sabtu malam (3/12). Tukar pikiran itu bahkan sampai larut malam, tidak terasa saja sampai pukul dua Minggu dini hari (4/12).
Berawal dari undangan dari Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat, difasilitasi Reido Deskumar, salah seorang pemuda hebat yang berkarya mendampingi Gubernur Sumatera Barat, Buya Mahyeldi Ansyarullah sebagai Sespri, pemuda-pemuda hebat ini berkumpul berdiskusi sengit.
Saya bersama Fadly, Jefry, Reido Deskumar, Rahmat Filcher dan beberapa orang pemuda lainnya berkesempatan semeja, setelah kegiatan Penguatan Karakter Anak Usia Dini selesai malam itu.
Tidak jauh dari tema undangan yang dikupas, pendidikan menjadi pembahasan pelit dan rumit dari kebijakan pemerintah.
Rahmat Filcher mengemukakan terkait gonta ganti kurikulum salah satu masalah berat yang dihadapi setiap guru dan kepala sekolah.
“Guru pusing dan panik adanya gonta ganti kurikulum yang selalu membingungkan. Hal ini mempengaruhi konsentrasi guru untuk mendidik dan mengajar anak didik,” katanya.
Saya dan Fadly pun mencoba mengupas dan mencarikan solusi, bahwa kurikulum itu hanyalah kebijakan dan alur yang tidak harus diikuti secara penuh.
Kuncinya penyesuaian sesuai kemampuan guru dan sekolah untuk implementasi teori itu sesuai kemampuan individu dan organisasi satuan sekolah.
“Kurikulum itu hanyalah metode referensi kebijakan semata. Subtansi utamanya, kan pola didik yang pada hakikatnya tumbuh kembang anak harus disesuaikan potensi dan minat bakat anak. Intinya, anak didik tidak bisa kita sama ratakan kemampuannya menangkap pelajaran. Sesuai dominasi otak kiri atau otak kanan yang digunakan,” terangnya.
Pembahasan berlanjut kepada fenomena-fenomena yang terjadi di lapangan. Berbagai pengalaman satu sama lain terus berganti menjadi sumbangsih pemikiran.
Kondisi saat ini, sangatlah banyak tantangan dan rintangan. Hampir di seluruh pelosok negeri mengalami kondisi dan masalah yang sama.
“Pengaruh android disertai game online dan media sosial, lebih banyak pengaruh buruk. Kontrol sosial sangat sulit karena minimnya sumber daya manusia terkait mengendalian teknologi komuniksi ini,” tutur diantara pemuda itu.
Reido mencontohkan pengalaman yang dilalui saat bergerak di Kampung Halamannya. Aksi gerakan sesama mahasiswa pernah dilakukan. Namun semangat itu tidak berlangsung lama, akibat beragamnya persoalan. Apalagi sering kecemburuan sosial sesama penggerak, yang hanya sering salah paham semata membubarkan semangat dan persatuan.
Persoalan tersebut ternyata juga dirasakan setiap individu pemuda yang berasal dari berbagai daerah itu. Fadly bergerak di Lubuk Basung.
Jefry berkampung halaman di Tiku. Ada juga berasal dari Manggopoh, Garagahan, Kampung Palano, Maninjau, Koto Baru dan Palembayan.
Kemudian, saya mencoba memberikan pandangan tersendiri. Sebagai penggiat, pelaku dan pemerhati Budaya Minangkabau maka akar budaya harus kembali digali dan dihidupkan.
“Sejarah Minangkabau cukup beranjak lahirnya Pahlawan Nasional kita seperti Buya Hamka, Haji Agus Salim, Moch. Hatta, M. Natsir dan Rasuna Said. Mereka mendapatkan bekal pendidikan Agama Islam yang sangat kuat dan kental. Mereka didik dan diterpa ulama-ulama hebat dimasa mereka kecil. Dan sistem pendidikan yang mereka itu adalah Pendidikan Surau,” terang saya kepada rekan-rekan tersebut.
Angku Yus Datuak Parpatiah (Angku Bandaro Bodi) sama-sama sering kita dengar setiap ia memberikan materi.
Bahwa generasi kemerdekaan hingga reformasi merupakan generasi hampa dan minim pendidikan dari orang tua dan ninik mamaknya. Pada masa itu, gejolah perperangan selalu terjadi sehingga generasi pada masa itu tidak lengkap dan didapakan penuh seperti generasi sebelumnya.
Selepas Perang Padri dan adanya Sumpah Sati Bukik Marapalam di Puncak Pato lahirlah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Dan Surau sebagai wadah utama pendidikan formal di masa itu.
Orang tua, remaja, dewasa dan anak-anak laki-laki Minangkabau diterpa bersama secara gotong royong. Alim Ulama, Ninik Mamak, Cadiak Pandai, atau Angku Kadhi, Manti dan Dubalang berperan aktif. Bahkan satu persukuan memiliki satu surau tersendiri membina dan menerpa anak kemenakannya.
Wajar orang-orang terdahulu siap pakai, karena dari pendidikan agama Islam dan adat berupa tatanan nilai kehidupan didapakan secara lengkap.
Berkesenian, ilmu beladiri atau basilek, berpidato adat atau bapasambahan sebagai bentuk latihan berdiplomasi dan berdebat, bahkan permainan teka-teki menjadi ajang mengasah kecerdasan dan daya tangkap analisis sebuah pertanyaan.
Itulah perbedaan yang sangat jauh antara generasi terdahulu dengan generasi Z pada saat ini. Dan pola asuh dan pola pendidikan ini lah yang harus kita jemput kembali. Jelas harus kita sesuaikan dengan zaman dan kondisi saat ini.
“Surau, Rumah Gadang dan masjid adalah wadah atau sarana utama yang harus kembali dibangkitkan. Dan bangunan itu tidak sekedar bentuk fisik yang tampak dari kasat mata atau bunyi yang didengar semata. Melainkan makna tersembunyi yang jauh lebih bermakna sesuai nilai-nilai filosofi bangunan menjalin hubungan dan komunikasi kepada Allah SWT,” tutup diskusi. (rud)
















