Trending | News | Daerah | Covid-19

Opini

Memetik Pelajaran Di Balik Covid-19

Dibaca : 332

Agam, Prokabar — “Sudah nyata bahwa hidup hanya semata-mata rantai kesulitan yang sambung-menyambung. Kesusahan tidak dapat dielakan dan hanya dapat ditempuh dengan hati tabah,” (Buya Hamka).

Ketika pola pikir seseorang hanya tertuju kepada sisi negatif dan memperturutkan nafsu emosionalnya, maka dari sinilah akar masalah itu tumbuh subur menjadi kebencian. Karena setan dan iblis telah bersarang dalam jiwa dan raganya. Entah didasari niat dan harapan tidak tercapai sesuai keinginan, atau mungkin suatu sikap ketidakpuasan terhadap sesuatu kebijakan diluar batas kemampuannya.

Adalah sebuah kewajaran itu terjadi dan manusiawi jika masih dalam batas normal dan tidak berlebih-lebihan. Mampu meredam dan kembali memahami bahwa setiap manusia itu memiliki keterbatasan berfikir, bertindak dan merasakan. Karena kesempurnaan itu hanya milik Sang Pencipta.

Jadi, sudah tidak sewajarnya pula disaat musibah besar ini terjadi, seseorang ataupun sekelompok orang masih berbuat kegaduhan, hasutan ataupun cemooh-cemooh yang menyurutkan semangat. Tidak ada masalah jika ingin menyuarakan atau memberi saran, namun tentu memiliki budi pekerti. Selayaknya umat muslim atau orang timur nan menjunjung nilai-nilai moralitas yang tinggi.

Disaat musibah Covid-19 ini berlangsung, seakan menghadapi perang tidak bertuan. Musuh ada, tapi tidak tampak sama sekali. Bahkan entah darimana, sudah banyak saja orang terpapar karenanya.

Tekanan demi tekanan, kebijakan demi kebijakan terus dilakukan pemangku kekuasaan, agar dapat mengatasi musibah yang sudah menjadi masalah di dunia ini. Sudah tidak sedikit orang menjadi korban. Namun kenyataannya, masih saja sebagian pihak tetap acuh tak acuk. Parahnya ada pula yang memiliki usaha mengkacaukan keadaan dengan menyebar berbagai berita dusta. Sehingga membuat bingung dan kebodohan dari sebagian kalangan orang.

Propaganda Elit Global katanya, Covid-19 sebagai senjata kimia pembunuh massal lanjutnya. Atau virus yang sudah dimanipulasi atau apalah, sesungguhnya terlalu melenceng sebagai orang untuk berbicara tentang hal tak penting itu. Entah siapa dalang penyebar isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan tersebut. Lupakan sejenak!

Jangan kira berita tak jelas tersebut tidak mempengaruhi otak dan pemikiran dari pembacanya. Permainan logika yang cukup tinggi, membius orang yang mengkonsumsi informasi tersebut. Sehingga musuh nyata yang sesungguhnya dihadapi di depan mata menjadi hambar dan seakan kebohongan dibuat-buat. Tertuduh pemerintah yang telah berupaya dengan kemampuannya, untuk melakukan pencegahan. Memutus mata rantai penyebaran Covid-19 ini. Terlepas dari kepentingan busuk, berbaik sangka adalah kearifan dan kebijaksanaan untuk bisa bersatu memerangi wabah ini.

“Ada kalanya bencana memang justru bisa mendamaikan dunia. Itu yang masih kita tunggu,” begitu harap Dahlan Iskan, dalam tulisannya di DI’s Way berjudul Tuduhan Konspirasi.

Serangkaian ulama besar yang biasanya fokal akan Keesaan Allah SWT dari berbagai media, mengakui bahwa Covid-19 ini adalah ancaman nyata musuh bersama. Cara memeranginya hanya dengan cara membatasi diri dari keramaian atau dikenal dengan istilah Phcycal Distancing. Dan itu salah satu usaha yang memang diyakini menjadi perintah yang Maha Kuasa, menghindari mara bahaya yang dihadapi umat-NYA ini.

Dan rasanya tidak perlu lagi kita membantah dengan dalil-dalil lainnya. Penegasan mulai dari MUI Pusat hingga ke daerah, sampai Aa Gym dan Abdul Somad ikut serta dalam hal tersebut.

Jika kondisi suatu daerah sudah ada yang terpapar, ya sangat dianjurkan sekali untuk sholat di rumah saja. Termasuk sholat Jum’at diganti sholat Zuhur, sholat tarawih maupun sholat fardu lainnya diimbau untuk di rumah saja. Kan bisa sholat berjemaah dengan anak dan istri, bisa jadi Imam lagi bapaknya.

Nah, agak aneh rasanya masih ada umat Islam itu sendiri tidak mau mengikuti Ulamanya yang dipastikan Ilmu keagamaanya lebih dalam dan lebih luas. Ulama yang menyatakan itu pun sudah teruji universitas ternama. Bahkan banyak kalangan dari berbagai organisasi islam mengakui Ilmu Agama Islamnya. Setiap berdakwah memiliki nilai berbobot dan bergizi tinggi untuk Qolbu dan logika. Padat, beragam sudut pandang dan kaya referensi.

Dari banyak kalangan ulama itu menegaskan, melalui musibah yang dihadapi ini, sudah semestinya menjadi momen evaluasi diri, memuasabah diri atau introspeksi diri dari apa-apa yang telah kita kerjakan selama ini. Kita marah dilarang sholat berjemaah di masjid, namun kita sendiri lupa, bahwa fungsi masjid itu sesungguhnya tidak hanya semata untuk sholat berjemaah saja.

Dahulunya, masjid bagi ulama-ulama terdahulu beserta pengikutnya merupakan pusat segala pusat aktivitas kehidupan masyarakat. Apalagi untuk pendidikan intelektual, Keagamaan, sosial dan budaya. Melalui Masjid, di Ranah Minang lahirlah cendikiawan-cendikiawan hebat seperti Syekh Burhanuddin, Syekh Abdul Karim Amrullah, Syekh Abdul Ahmad, Syekh M. Djamil Jambek hingga Prof. Dr. Abdul Malik Karim Amrullah atau Buya Hamka.

Sekarang, apakah fungsi masjid saat ini masih seperti dulu. Dan jawaban klasiknya ya tidak, kan sudah ada pesantren-pesantren dan sekolah-sekolah formal yang lebih modren.

Dan kenyataannya, pendidikan masa dulu yang dianggap kuno dan kolot itu, ternyata lebih banyak melahirkan ulama hebat ketimbang saat ini. Ideologi, prinsip, mentalitas, kejujuran, ketulusan, kecerdasan, konsisten dan patriotisme dalam memperjuangkan kebenaran itu lebih baik dari saat ini. Dan mereka itu jebolan Pondok Pesantren yang memusatkan aktifitasnya di surau-surat atau di masjid. Dan hendaknya, itu jadi cambuk bagi kita dalam menfungsikan masjid sebaik-baik dari orang terdahulu kita.

Dari ulama-ulama ternama itu juga mengatakan, ini adalah bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-hambanya untuk lebih mendekatkan diri kepada-NYA, anak-anak, istri dan orang tua mereka yang selama ini mungkin sering terabaikan. Akibat terlalu sibuk mengejar duniawi atau terlalu sibuk dengan ibadah individualnya sendiri. Seperti Surat At-Tahrim ayat 66:

وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Telah banyak kalangan menjelaskan, bahwa hikmah wabah ini, berdampak besar terhadap lingkungan dan alam di Bumi. Udara Jakarta yang biasanya dipenuhi asap kendaraan yang begitu kotor, sekarang sudah bersih dengan langit biru. Dan kondisi tersebut hampir dirasakan di kota-kota besar di berbagai belahan dunia, yang mengambil kebijakan Lockdown. Wallahu a’lam bish-shawabi. (Rud)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top