Trending | News | Daerah | Covid-19

Artikel

Membangkitkan Sejarah Di Surga Bumi Maninjau

Dibaca : 1.0K

Agam, Prokabar — Keberagaman geografis dan keelokan alamnya, membuat semua mata terpana. Keindahan memukai, mengkucak kagum setiap insan yang datang. Baru saja melintasi Matur negeri di atas awan, maka tertataplah keelokan panaroma danau bernama Maninjau. Sebuah danau yang lahir dari letusan Gunung Api Sitinjau berusia sekitar 700 tahun lalu.

Entah sudah berapa juta manusia yang menikmati keindahan alamnya. Tidak satupun terdengar ocehan dan cemooh akan keelokan alam itu. Hanya rasa syukur dan pujian terlafalkan kepada Sang Maha Pencipta, karena serasa berada di surga bumi Allah.

Dari Puncak Matur, Puncak Lawang dan Lawang Park sama indahnya mata memandang. Pesona yang begitu tabjub, memberi kedamaian, ketenangan dan kesejukan.

Sejuk sungguh seasri udara tanpa dosa debu seperti hidup di kota-kota besar. Mengotori udara dari limbah pabrik, limbah udara mesin-mesin dengan bahan bakar masih dari alam itu juga.

Panaroma dari atas kaldera dan perbukitan, sisa letusan Gunung Api Sitinjau. Adalah suatu nikmat terindah yang selalu dirasakan anak cucu adam dan hawa. Saksi bisu pertahanan terakhir Kaum Padri dipimpin Tuanku Nan Tuo (Syekh Abdullah Alif atau Tuanku Pariaman) melawan Penjajah Kolonial Belanda.

Sangatlah merugilah kita, masih ada rasa keluh kesah dan tak mampu menjadikannya sebuah peluang atau potensi terhebat itu. Untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran hidup masyarakatnya.

Tidak sedikit tokoh besar yang menyempatkan diri, terpukau dengan magnet atau energi alam Danau Maninjau. Sampai-sampai, Ir. Soekarno, Presiden Pertama RI, sahabat baik Buya Hamka mengukirnya dengan sebuah Pantun:

“Jika adik memakan pinang, makanlah dengan sirih hijau, jika adik datang ke Minang, jangan lupa singgah ke Maninjau…” Soekarno.

Pantun Soekarno itu terketik rapi dalam “Kenang-kenangan Hidup”. Bung Karno berucap, “Maninjau yang indah permai”. Dengan danaunya yang dahsyat, dengan sawahnya bersusun, dengan jalannya berkelok, terlukis dalam sanubari Bung Karno sebagai negerinya sendiri. (M. Subhan Kompasiana.com/2011).

Rasa syukur itu memang harus diimbangi ilmu pengetahuan yang baik, sehingga dapat mencapai perpaduan manusia dengan alam dan Sang Pencipta-NYA. Ilmu memahami sejarah terbentuknya Danau Maninjau. Sejarah kedatangan umat manusia ke Danau Maninjau. Ilmu memahami geografis alam berupa tanah, udara, air, pohon, flora dan fauna beserta seisi alam seluruh yang ada di dalamnya.

Ilmu pengetahuan itulah yang akan membuat mereka mampu membangkitkan potensi dan peluang besar itu. Membuat mereka sejahtera bersama dan makmur bersama.

“Iman tanpa Ilmu, ibarat lentera di tangan bayi. Namun ilmu tanpa iman, ibarat lentera di tangan pencuri,” Buya Hamka.

Sudah berapa banyak pencuri yang mengkuras dan membabat alam Danau Maninjau itu, hingga akhirnya menimbulkan bencana besar. Telah berapa banyak korban jiwa akibat segelintir orang yang katanya berilmu, merusak alam Danau Maninjau beserta Hutan Cagar Alamnya? Padahal alam telah diciptakan dengan keseimbang terbaik untuk makluk-NYA.

Keindahan, kesuburan, kesejukan dan keelokan alam serta budaya itu, melahirkan banyak Tokoh Pahlawan Nasional dan Pejuang Hebat asal Danau Maninjau (Kecamatan Tanjung Raya, Agam).

Dalam buku Kenang-kenangan 70 tahun Buya Hamka, ulama pejuang itu menulis; “Saya sangat terkesan pada desa kelahiran saya. Saya sudah sering keliling dunia, tapi rasanya tidak ada pemandangan yang seindah Maninjau. Desa itu pun mempunyai arti penting bagi hidup saya. Begitu indahnya seakan-akan mengundang kita untuk melihat alam yang ada dibalik pemandangan itu…”

Kalimat terakhir, ” …Begitu indahnya seakan-akan mengundang kita untuk melihat alam yang ada dibalik pemandangan itu… “.

Satu uraian kalimat itu, memberi sejuta makna dan sangat memberi dampak besar bagi masyarakat Danau Maninjau, terkhusus di Kampung Halaman Buya Hamka itu. Jika dicermati kata-kata itu, sudah semestinya rasa syukur tidak hanya dirasakan, didengar dan dilihat saja. Semestinya, mampu menggunakan akal pikiran untuk menggali potensi diri dari alam dan budaya mereka sendiri.

Budaya Alam Minangkabau, dengan kesukuan atau salah satu klan terbaik di NKRI. Klan dengan memiliki falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Klan yang terkenal dengan kecerdasan intelektual, mentalitas dan loyalitas terhadap bangsa dan negara Indonesia ini.

Rela berkorban dan siap miskin meski menjabat kekuasaan tinggi di negara ini. Dan pendiri bangsa itu bernama Bung Hatta, H. Agus Salim, Buya Hamka, Rasuna Said, Rohana Kudus, M.Natsir dan sebagainya.

Dan sudah saatnya pula, putra-putri daerah Danau Maninjau, kembali bangkit dari alam sadarnya, menggali dan memanfaatkan kekayaan alam dan budayanya guna kemakmuran, kesejahteraan mereka. Tentu dengan tetap menjaga keseimbangan dan sesuai Kepatuhan kita kepada Allah SWT. Memperdalam pengetahuan jati diri disertai ilmu pengetahuan lebih yang lebih luas. Mengenal jati diri sejarah leluhur dan Keislamanan yang telah dititipkan melalui nenek moyang mereka terdahulu di sana.

Ulama Tua (Tuanku Nan Tuo, Syekh Guguk Katur dan Syekh Muhammad Amrullah dsb), Hingga ulama pergerakan pembaharuan seperti Syekh Abdul Karim Amrullah, Yusuf Ambillah, A.R. Sutan Mansur sampai pada Buya Hamka.

Dan merugilah hanya memanfaatkan alam dan budaya tanpa memikirkan keelokan jangka panjang. Bahkan hanya mengambil keuntungan sesaat dan berdampak buruk pada masa akan datang.

Kelestarian alam dan budaya yang elok itu, harus dipertahankan. Bahkan harus terus maju seiring tekanan globalisasi. Bertahan dan terus melawan budaya krisis moral dan “malu”. (*)

 

Penulis : R. Rajo Intan, Jurnalis dan Alumni FIB Unand


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top