Memantau Gas Rumah Kaca dan Kualitas Udara dari Bukit Kototabang

Penulis -

Selasa, 26 Maret 2024 - 09:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Dr. Sugeng Nugroho, M.Si      Kepala Stasiun GAW Bukit Kototabang, Wakil Ketua PERHIMPI Sumbar

Pada tanggal 7 Desember 1996, Stasiun Pemantau Atmosfer Global (Global Atmospheric Watch / GAW Station) Bukit Kototabang secara resmi mulai beroperasi ditandai dengan acara seremonial budaya dan sains yang dihadiri oleh Sekjen World Meteorological Organization (WMO) waktu itu, Dr. Obasi.

Stasiun GAW Bukit Kototang merupakan salah satu UPT BMKG di wilayah Provinsi Sumatera Barat. Saat ini merupakan 1 dari 30 buah stasiun sejenis yang ada di seluruh dunia dibawah program GAW dari WMO sebuah organisasi dibawah naungan badan dunia PBB (United Nations / UN).

Stasiun GAW Bukit Kototabang berlokasi pada sebuah bukit yang bernama Bukit Kototabang di Jorong Muaro, Nagari Koto Rantang, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat.

Semenjak diresmikan pengoperasiannya hingga saat ini, Stasiun GAW Bukit Kototabang telah beroperasi selama 28 tahun untuk turut serta berkontribuasi dalam pengamatan dan monitoring gas rumah kaca (GRK) dan kualitas udara. Selain melain GRK dan kualitas udara, Stasiun GAW Bukit Kototabang juga mempunyai tugas pokok dan fungsi (tupoksi) untuk mengamati beberapa ragam radiasi matahari, scattering (kebauran) atmosfer, beberapa unsur kimia atmoser dan fisis atmosfer.

Pengukuran GRK pertama kali dilakukan di Stasiun GAW Bukit Kototabang pada tahun 2004 bekerjasama dengan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), dan mulai saat itu hingga sekarang Stasiun GAW Bukit Kototabang termasuk dalam jaringan pengamatan GRK di dunia yang dilakukan oleh NOAA. Mulai tahun 2012, BMKG sebagai organisasi induk Stasiun GAW Bukit Kototabang menambah peralatan Picarro analyzer untuk monitoring GRK secara real time.

Data GRK hasil pengukuran tersebut kini sudah masuk dalam pusat database GRK dunia (World Data Centre for Greenhouse Gases / WDCGG) yang berpusat di Jepang sehingga hasil pengukuran GRK di Stasiun GAW Bukit Kototabang tersebut dapat menjadi referensi konsentrasi GRK secara global.

Sebagaimana sudah mulai banyak diketahui bahwa perubahan iklim yang terjadi karena dipicu oleh pemanasan global yang diakibatkan oleh perubahan kompisisi kimia atmosfer dan menumpuknya gas rumah kaca di atmosfer bumi. Hasil pengukuran GRK di Stasiun GAW Bukit Kototabang dari tahun 2004 – 2023 atau selama 20 tahun terakhir menunjukkan adanya peningkatan konsentrasi Karbon dioksida (CO2) dengan trend peningkatan kurang lebih sebesar 11%, dari semenjak awal program pengukuran GRK tahun 2004 dengan konsentrasinya dari 375 ppm meningkat menjadi sebesar 415 ppm pada tahun 2023. Karena Stasiun GAW Bukit Kototabang merupakan salah satu stasiun GAW global, maka hasil pengkuran tersebut juga dapat merepresentasikan konsentrasi CO2 secara global, yang artinya secara global pun konsentrasi akumulatif CO2 di atmosfer bumi mengalami peningkatan, seperti halnya pengukuran CO2 di Stasiun GAW Bukit Kototabang.

Selain CO2 yang merupakan spesies GRK paling dikenal oleh masyarakat, spesies GRK lainnya yang juga diukur konsentrasinya di Stasiun GAW Bukit Kototabang adalah Metana (CH4), Dinitrogen oksida (N2O) dan Sulfur heksafluorida (SF6). Seperti halnya konsentrasi CO2, hasil pengukuran konsentrasi CH4, N2O dan SF6 juga menunjukan peningkatan trend konsetrasi gas-gas tersebut di atmosfer bumi.

Parameter lainnya yang menjadi tupokasi utama Stasiun GAW Bukit Kototabang adalah melakukan pengamatan dan monitoring kualitas udara yang dilakukan dengan menggunakan beberapa indikator dari beberapa media atau proxy pengukuran, seperti gas (udara ambien), benda padat (particulate matter) berupa debu halus atau aerosol di udara dan cairan (kimia air hujan). Gas-gas yang termasuk dalam kelompok parameter kualitas udara antara lain Ozon (O3) permukaan, Karbon monoksida (CO), Sulfur dioksida (SO2) dan Nitrogen oksida (NOx) yang biasanya berupa Nitrogen monoksida (NO) dan Nitrogen dioksida (NO2).

Particulate matter (PM) yang termasuk dalam kelompok indikator kualitas udara adalah PM2.5 artinya debu halus (mikrokospis) dengan diameter partikel sebesar lebih kecil dari 2.5 µm (mikrometer) begitu juga dengan arti PM10. Indikator kualitas udara juga dapat diketahui dari kandungan unsur-unsur kimia yang ada di air hujan atau sering disebut kimia air hujan (KAH). Seperti halnya data GRK, beberapa data parameter kualitas udara hasil pengukuran di Stasiun GAW Bukit Kototabang, yaitu PM2.5, PM10 dan koefisien scattering atmosfer juga sudah masuk dalam pusat database aerosol dunia (World Data Centre for Aerosols / WDCA) yang berpusat di Norwegia.

Kegiatan pengamatan GRK dan kualitas udara tersebut selain sebagai bentuk tanggungjawab tupoksi Stasiun GAW Bukit Kototabang, tapi mempunyai makna lebih jauh lagi, yaitu sebagai bukti kontribusi dan peran serta BMKG secara khusus, dan bangsa Indonesia pada umumnya untuk ikut berpartisipasi menjaga planet bumi dari dampak pemanasan global. Pemantauan GRK dan kualitas udara yang dilakukan di Stasiun GAW Bukit Kototabang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari program Pemerintah Indonesia maupun badan atau organisasi dunia yang konsen terhadap pembangunan dan lingkungan untuk secara bersama-sama melawan perubahan iklim yang timbul sebagai dampak terjadinya pemanasan global akibat meningkatnya konsetrasi GRK di atmosfer bumi.

Stasiun GAW Bukit Kototabang tentunya juga berkontribusi kepada pemerintah dan masyarakat Sumatera Barat dalam memberikan informasi klimatologi dan kualitas udara untuk wilayah Sumatera Barat. Produk informasi berupa hasil monitoring dan prakiraan kualitas udara selalu disampaikan kepada pemerintah dan masyarakat Sumatera Barat setiap harinya melalui berbagai media dan kanal informasi kekinian yang dikemas dalam berbagai bentuk infografis.

Stasiun GAW Bukit Kototabang secara tidak langsung juga berperan serta dalam menduniakan Bukit Kototabang. Hal ini dapat dibuktikan dengan cara melakukan searching pada mesin pencarian dengan kata kunci “bukit kototabang” maka akan muncul banyak hasil pencarian yang tidak hanya tentang Stasiun GAW Bukit Kototabang akan tetapi juga hal-hal lain yang terkait dengan kata kunci tersebut baik yang bersumber dari dalam dan luar negeri.

Keberadaan Stasiun GAW Bukit Kototabang telah menghantarkan Bukit Kototabang kedalam kancah pemetaan global pada mesin pencarian sehingga menjadikannya lebih dikenal oleh masyarakat secara luas di dunia maya.

Tantangan kedepan terkait dengan Stasiun GAW Bukit Kototabang adalah bagaimana menjaga keberlanjutan keberadaan Stasiun GAW Bukit Kototabang tetap berada di Bukit Kototabang dan tetap berstatus sebagai stasiun GAW Global. Menjadi tugas bersama, antara pemerintah, ninik mamak dan masyarakat setempat serta stakeholder lainnya untuk menjaga kelestarian lingkungan di Bukit Kototabang dan sekitarnya sebagai syarat mutlak untuk keberlanjutan keberadaan Stasiun GAW Bukit Kototabang agar tetap berada di Bukit Kototabang hingga 30, 50 bahkan 100 tahun kedepan.

Semoga keberadaan Stasiun GAW Bukit Kototabang tetap memberikan berkah. Selamat Hari Meteorologi Dunia (HMD) ke-74, ayoo….bersama-sama kita berada di Garda Terdepan Aksi Iklim, at the Fronline of Climate Action.(*)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi
Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur
IKHLAS itu MUDAH
Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional
Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak
Munajat Cinta di Sepenggal Tanah Surga
Muktamar NU ke-35, Menentukan Arah Khidmah NU dan Masa Depan Umat
Di Tanah Kelahiran, Harapan Kami Menggantung di Ujung Pena Regulasi

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 11:11 WIB

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi

Selasa, 29 September 2026 - 10:10 WIB

Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur

Minggu, 13 September 2026 - 05:44 WIB

IKHLAS itu MUDAH

Rabu, 2 September 2026 - 13:57 WIB

Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional

Senin, 31 Agustus 2026 - 15:36 WIB

Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB