Trending | News | Daerah | Covid-19

Opini

Memaknai Idul Fitri Ditengah Pandemi Covid-19


Penulis: Rusma Yul Anwar Wakil, Bupati Pesisir Selatan

Dibaca : 453

IDUL FITRI adalah suatu penantian sukacita bagi umat muslim, setelah satu bulan penuh menjalani peperangan melawan hawa nafsu dan itulah hari kemenangan yg dinantikan, hari kembalinya kita ke kondisi awal ( fitrah).

Idul fitri 1441 H saat ini ternyata dirayakan berbeda jika dibandingkan dengan sebelumnya. Idul fitri kali ini kita jalani dengan kerelaan hati melepaskan beberapa kebiasaan yang selama ini mengandung nilai spritual maupun nilai sosial.

Idul fitri tahun ini sunyi dari kegembiraan dan kemeriahan, tradisi pun juga berubah seiring dengan adanya langkah untuk pencegahan penyebaran Covid-19. Pemerintah dan pemuka agama meminta warganya untuk melakukan penyesuaian antara ibadah dan kewaspadaan, karena dalam agama islam menganjurkan pada umat muslim untuk selalu waspada terhadap apapun.

Nasrul Abit Indra Catri

Lebaran identik dengan mudik, disaat lebaran warga perantau untuk memenuhi kebutuhan spritualnya, terpanggil kembali untuk pulang ke tanah leluhurnya, untuk melaksanakan shalat Ied bersama saudara dan handai teladan, bersilaturahmi dengan saudaranya. Tapi beberapa kebiasaan itu tahun ini tidak dapat lagi dinikmati setelah munculnya pandemi Covid-19.

Tradisi itu sementara waktu harus dilupakan, karena untuk menghambat penyebarannya, pemerintah dengan terpaksa harus mengeluarkan larangan mudik bagi warganya, bahkan tata cara shalat Idul Fitri pun pemerintah perlu mengeluarkan himbauan untuk melaksanakan dirumah saja. Sekiranya warga masih berkeinginan melakukannya di mesjid maka ada protokol pelaksanaan yang harus disepakati.

Dalam hal ini, penulis mencoba mengajak kita bersama meskipun hari raya idul fitri di tengah Covid-19, mari kita maknai nilai-nilai mulia yang bisa dipetik umat muslim dari situasi serba pelik begini. Seperti yang kita ketahui, tidak semua orang memahami protokol kesehatan dalam menghadapi Covid-19 dan bagaimana menanamkan kesadaran bahwa prinsip melawan kemudaratan mestinya lebih didahulukan ketimbang berbuat kebaikan.

Selanjutnya, adapun pemberlakuan kebijakan untuk melakukan social distancing sebagai implementasi dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) masih berlangsung. Bahkan saat perayaan idul fitri tiba.

Dampaknya, Ramadan tahun ini yang baru selesai kita tunaikan tentu saja menjadi sangat berbeda. Berbagai kebiasaan yang kerap dilakukan mulai dari gaya hidup, tradisi sampai dengan prinsip utama yaitu beribadah pun harus mengalami penyesuaian.

Biasanya, kebiasaan berbuka puasa bersama dengan keluarga, karib kerabat dan rumah makan berjejeran disepnjang jalan atau tempat-tempat perbelanjaan seperti pasar ‘pasa pabukoan’. Kemeriahan sahur bersama, bahkan salat tarawih berjamaah di masjid menjadi dibatasi. Satu-satunya yang dapat dilakukan adalah diam di rumah dan melakukan semua aktivitas positif agar tidak mengalami tingkat stres yang begitu tinggi.

Jadi, ada apa sebenarnya dengan peristiwa ini? Bukankah bulan Ramadan adalah bulan suci yang sangat dicintai Rasul dan Allah, tapi mengapa kenyataannya seperti ini. Mari sama-sama kita maknai. Bukankah agama pun sudah mengingatkan kita untuk mengikuti Allah, Rasul dan pemimpin yang baik.

Caranya, mari kita bersama-sama evaluasi apa esensi dari peristiwa ini. Salah satu hal utama yang dilakukan Rasul saat bulan Ramadan dibanding bulan-bulan lainnya adalah dengan meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadahnya.

Sementara, apa yang selama ini dilakukan kebanyakan orang dalam menjalankan ibadah puasa? Ada suatu pergeseran keutamaan yang terjadi dalam mengamalkan ibadah puasa, tentu untuk mendapatkan kemenangan di hari raya idul fitri ini.

Hal lainnya adalah tradisi mudik, yang ternyata tidak semudah dibayangkan. Bagi mereka yang memaksakan untuk pulang kampung sesungguhnya memiliki resiko tinggi, terutama bagi mereka melakukan perjalanan jauh dengan kendaraan.

Untuk menyikapi hal-hal yang abnormal saat ini, sudah selayaknya kita mengutamakan berbuat baik yang terutama kepada diri sendiri, keluarga, dan masyarakat luas. Tujuannya adalah agar kita tidak termasuk kepada kedzholiman seperti yang dibenci agama. Lalu, dari kebaikan-kebaikan yang kita lakukan itu tentunya akan berdampak pahala untuk tanbungan kita mencapai kata menang (fitrah) sesungguhnya.

Hari raya Idul Fitri kali ini, sudah selayaknya kita maknai sebagai proses penempatan diri dari segala apa yang telah kita lakukan dalam masa pandemik yang mengkhawatirkan.

Terlebih, belum ada kepastian kapan ujian berat ini akan berakhir. Sehingga, kita akan selalu mempersiapkan diri untuk terus berbuat baik kepada siapa saja, setidaknya kita tidak turut menjadi bagian sebagai penyebar keburukan.

Entah itu menyebar berita hoaks, tudingan terlebih virus. Ikuti anjuran protokol Covid-19 juga termasuk dari ibadah, karena sesungguhnya agama pun tidak pernah memberatkan umatnya namun kita selaku umat pun tidak diperkenankan juga untuk memudah-mudahkan segalanya.

Taqabbalallahu minna wamingkum, shiamana washiamakum. Minal aidin walfa’idhin mohon maaf lahir dan batin,(**)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top