Tanah Datar, Prokabar – Masjid Raya Limo Kaum merupakan salah satu masjid tertua di Kabupaten Tanah Datar. Diperkirakan, usia masjid ini telah lebih dari 300 tahun.
Masjid ini juga telah terdaftar sebagai bangunan cagar budaya. Berdasarkan sejarahnya, pada mulanya masjid ini tidaklah berdiri di lokasi saat ini, melainkan di Jorong Balai Batu dan dibangun pada abad ke 17.
Struktur bangunan Masjid Raya Limo Kaum memiliki bentuk yang unik dan dipengaruhi oleh kebudayaan hindu. Hal tersebut dapat dilihat bentuk atap masjid yang menyerupai Pagoda. Keunikan lain yang dimiliki masjid ini yaitunya masjid memiliki tiang cukup banyak dan berukuran besar. Menurut salah seorang pengurus masjid, setiap tiang pun memiliki makna dan bersentuhan dengan pendiri serta adat istiadat di Minangkabau.
Tiang utama atau tiang macu terdapat di tengah masjid. Tiang ini juga melambangkan sebagai tiang pucuk pimpinan adat di Limo Kaum yaitunya Datuak Bandaro Kuniang. Tiang-tiang lainnya juga memiliki makna yang masih bersentuhan dengan sejarah pembangunan masjid dan orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Beberapa tokoh penting yang terlibat dalam proses pembangun mesjid ini seperti, Datuak Bandaro Kuniang, Siam Datuak Basa, Ipok Datuak Nan Khatib dan Mak Jali Tuanku Ambuyut.
“Masjid ini berada tepat di tengah-tengah nagari Limo Kaum,” sebut Ilal Najmi, salah seorang masyarakat setempat
Masjid ini dibangun dengan menggunakan kayu sebagai bahan kontruksinya. Antara satu kayu dengan kayu lainnya dihubungkan dengan pasak atau penyangga
“Kayu-kayu masjid didatangkan dari Talago Gunuang, Kecamatan Tanjung Emas dan ditebang dari bukit Sangkiang hingga bukit Dadieh,” ujarnya
Setiap yang datang ke masjid ini juga dapat menaiki tiang utama hingga ke puncak atau menara masjid. Dari atas menara, bisa dilihat bentangan alam Tanah Datar 360 derajat.
Kini, Keberadaan Masjid Raya Limo Kaum tidak hanya sebagai bangunan kuno atau bersejarah, melainkan sebagai bukti sejarah dan perjalanan panjang agama Islam di ranah Minangkabau dan khususnya di Tanah Datar.
Dibulan ramdahan ini, mesjid raya Limo Kaum selalu disesaki oleh jamaah yang datang dari berbagai daerah, terutama pada salat tarwih.
“Sampai saat ini, Masjid Raya Limo Kaum masih dimanfaatkan masyarakat untuk melaksanakan ibadah lima waktu,” katanya
Sebagai bangunan bersejarah, masjid Limo kaum membutuhkan sentuhan renovasi atau perbaikan. kondisi tiang masjid mulai dimakan rayap, dikhawatirkan dapat merusak keasliannya.(eym)
















