Maninjau, Prokabar.com – Takbir berkumandang indah di setiap surau, masjid dan mushalla. Selepas Sholat Magrib dan Isya berjemaah, umat muslim selalu melantunkan Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar Walillah Ilham. Lantunan takbir itu menggema di seluruh alam Minangkabau. Termasuk di Selingkar Danau Maninjau, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat.
Sebulan penuh menunaikan ibadah puasa di bulan suci Ramadan, menjadi berkah bagi umat Islam. Berlomba-lomba perbanyak amalan dan ibadah penuh taqwa, berharap mendapat ampunan dari gelimangan dosa selama hidup.
Untuk memperindah hari kemenangan itu, ada kebiasaan unik dari anak nagari Salingka Danau Maninjau. khususnya di Nagari Maninjau dan Nagari Tanjung Sani, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam.

Tradisi Barakik-rakik, sejenis permainan tradisional yang telah ada sejak ratusan tahun lalu. Sebagai masyarakat dengan suku bangsa Minangkabau berlandasan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah tentunya, nilai religius sangat kuat dan kental pengamalannya.
Melalui kreatifitas dan inovatif yang tinggi dari anak nagari ini, membuat penampakan estetika dan atraksi semakin menarik mata memandang sebagai pentas pertunjukan masyarakat. Sesuai alam yang dimiliki, panggung pertunjukannya berada di atas permukaan air Danau Maninjau.
Keberadaan tradisi ini, memperkuat karaktersitik masyarakat dengan tingkat kecerdasan, kegigihan, kekompakan dan religius. Wajar banyak lahir Pahlawan Nasional berasal dari Selingkar Danau Maninjau ini. Sebut saja Buya Hamka, Rangkayo Rasuna Said, Muhammad Natsir, AR. Sutan Mansur, Dr. H. Abdul Karim Amrullah, Isa Ansyari dan lainnya.
Secara konsisten dan berkelanjutan, tradisi penyambutan hari kemenangan Idul Fitri ini terus lestari dan berkembang. Berharap kedepannya lebih bermanfaat meningkatkan iman, taqwa dan kesejahteraan masyarakatnya.
Dari tradisi ini terdapat sejumlah gabungan kesenian dan permainan tradisional. Sebagai warisan budaya intelektual Minangkabau di Salingka Danau Maninjau.
Seperti Meriam Bambu atau Badia-badia Batuang, Ornamen atau Gomaik Masjid atau Rumah Gadang, Rakik-rakik atau alat transportasi danau, lampu togok atau lampu pelita serta sejumlah penampilan kesenian tradisi seperti Tambua Tansa. Sedangkan item modern penambah daya tarik lainnya berupa, drum untuk rakitan mengarungi, papan lantai, lampu hias dan kembang api.
Dengan rakitan bambu sudut persegi panjang ini, menjadikan rakitan berhias itu dapat berlayar mengarungi riak danau. Sebagai bentuk ketangguhan dan kegigihan hidup anak danau menghadapi banyak tantangan dan rintangannya.

Keindahan Tradisi Barakik-rakik terlihat cantik dan memukau pada malam hari. Karena atraksi ini lebih mempertajam visual bentuk rakik-rakik dengan rangkaian lampu hias dan lampu pelita. Namun dibalik keindahan visual itu, tersembunyi makna religius sebagai penganut Sufisme atau Ilmu Tasawuf.
Malam adalah waktu yang tepat untuk perenungan, introspeksi diri atau muasabah diri. Hakikat hidup dapat diserap melalui perenungan diri, sehingga jiwa dan raga manusia dapat lebih tawaduk berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga kesucian diri membersihkan jiwa dan raga, dapat diperoleh setiap Insan.
Satu bulan penuh individu muslimin melatih diri menahan hawa dan nafsunya. Menahan rasa lapar dan haus, menahan hasrat dan keinginan berlebih-lebihan, menahan diri dari kesombongan dan keangkuhan diri.
Menyadari penghambaan diri kepada Sang Khalid, adalah mentaati segala bentuk perintah dan amalan terbaik, serta menjauhi diri dari segala bentuk larangan berujung dosa Dan laknat ALLAH.
Amalan-amalan terbaik sesuai sunnah dan perintah selama ramadan, membuka lebar pintu taubat hingga pengampunan dari ALLAH SWT. Menutup rapat pintu neraka dan mengurung setan-setan penjerumus manusia. Sehingga umat muslim dapat fokus menghambakan dirinya kepada Sang Pencipta.
Inilah cobaan dan tantangan sejatinya Illahi memberi Rahmat dan Ridho-NYA kepada Insan Muslimin. Menundukan hawa dan nafsu sebagai cobaan terberat yang harus dikendalikan dengan baik. Dan Ramadan adalah bulan melatih diri untuk hal demikian.
Jika seorang insan manusia dapat melaluinya dengan baik, tingkatan Iman dan Taqwa akan terlihat dari perbuatan atau tindakan sehari-hari. Perubahan diri mencerminkan insan manusia sejati sesuai Ajaran Islam yang tersampaikan melalui Rasullullah SAW beserta kitab Suci Al Quran.
Pertanyaannya, apakah Tradisi Barakik-rakik sebagai wujud penghambaan diri Insan muslimin? Apakah benar-benar wujud rasa syukur dan penghambaan diri dari Anak Nagari Maninjau dan Tanjung Sani kepada ALLAH SWT dengan nilai Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Atau hanya melaksanakan ritual duniawi dan hiburan tanpa nilai-nilai budaya nan Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah?
Tidaklah guna Tradisi Barakik-rakik jika hanya untuk hiburan duniawi semata dan jauh dari Nilai-nilai Islam. Padahal, Tradisi ini semestinya mengambil hikmah Ramadan Penuh Rahmat dan Ridho-NYA, dengan hari puncak Idul Fitri.
















