Lebaran, momen tahunan untuk berkumpul dan bersilaturahmi dengan keluarga. Lebaran adalah puncak dari kemenangan, puncak melepas rindu, dan puncak dari kebahagiaan. Bagi kita sebagai makhluk sosial, tidak ada yang lebih indah dari berinteraksi. Kami, prokabar.com, menyadari bahwa lebaran adalah momentum dimana interaksi adalah yang paling hebat. Saling menyapa, bersalaman, berpelukan, dan berbagi adalah interaksi yang hebat itu. Berlandaskan itu, prokabar.com merancang platform interaksi di website kami. Melalui halaman "mudik yok" warganet disuguhkan beragam informasi yang bermanfaat. Ada info lalu lintas, info cuaca, cctv dan berita seputar mudik, termasuk destinasi wisata di Sumatera Barat. Tidak hanya itu, prokabar.com juga menyediakan fasilitas "message" di sudut kiri bawah halaman web. Dengan fasilitas ini pengunjung bisa berbagi foto teks dan video. Lalu tim kami akan menayangkan informasi yang anda bagikan. Yang lebih heboh lagi, sepanjang libur lebaran, prokabar membuat lomba artikel dengan tema umum lebaran di Sumatera Barat. Hadiah totalnya Rp. 10 juta. Lomba ini terbuka untuk umum, termasuk perantau yang sedang pulang kampung. Prokabar mengajak warganet untuk berbagi informasi di prokabar.com. informasi anda akan sangat bermanfaat bagi orang lain. Selamat Lebaran, sempurnakan pulang kampung anda bersama prokabar.com Salam Tim redaksi
Budaya

Makan Bersama Sambut Ramadhan, Tradisi Pajak-pajak Rang Pangian


Batusangkar, Prokabar – Bukan pajak, tapi pajak-pajak, sebuah istilaj lokal untuk makan bersama di Pangian, Lintau, Tanah Datar, Sumbar. Kali ini untuk menyambut Ramadhab.

Tradisi ini diikuti seluruh masyarakat. Saling sapa dan memaafkan. “Ini tradisi kami,” kata salah seorang tokoh masyarakat, Arfianto Datuak Tan Kayo di Batusangkar, kemarin

Baca Juga :  Ratusan Orang Berfoto di Masjid Raya Sumbar. Kenapa?

“Pajak-pajak merupakan sebuah tradisi berupa makan-makan ke sungai atau kebun milik warga yang bertujuan untuk meningkatkan silaturahmi serta bermaaf-maafan,” katanya.

Ia menyebutkan tradisi ini sudah ada sejak zaman nenek moyang dahulu. Biasanya diadakan di lokasi yang dekat dengan sumber air, sebab setelah makan-makan akan dilanjutkan dengan mandi-mandi.

Dalam pelaksanaan tradisi ini ia menjelaskan setiap orang memiliki peran tersendiri. Pria mencari ikan di sungai. Kaum ibu akan mempersiapkan keperluan memasak, serta anak-anak yang akan mencari kayu bakar untuk memasak makanan.

Baca Juga :  Tiga Hari Lebaran, Perantau Mulai Bergeser ke Riau

“Biasanya tidak butuh dana yang besar untuk pelaksanaan tradisi ini, setiap peserta akan patungan membawa beras dan alat yang akan dibawa untuk memasak. Dari sini rasa kebersamaan muncul dan juga sikap gotong royong, itu makna sebenarnya selain mempererat silaturahim,” jelasnya. (*/cpp)

Berani Komen Itu Baik

To Top