Padang, Prokabar – Sebagian besar pengangguran di Sumbar kini masih didominasi lulusan Diploma, karena terbatasnya lapangan usaha atau industri yang butuh kualifikasi pendidikan tinggi.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Padang, Wahyu Purnama menyampaikan kondisi tersebut tidak jauh berbeda dengan
komposisi pengangguran berdasarkan tingkat pendidikan tahun-tahun sebelumnya.
“Setelah itu jenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA),” ungkapnya dalam Laporan Ekonomi Keuangan Sumbar 2019 yang dikutip Prokabar di Padang, Rabu (20/11).
Dalam laporannya, Bank Indonesia mencatat tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2019 sebesar 5,29 persen.
Angka itu turun dari periode yang sama di tahun sebelumnya, 5,55 persen, dari 2,69 juta orang angkatan kerja.
Dari jumlah itu, tingkat pengangguran untuk kategori diploma 10,86 persendan. Kemudian disusul kategori SMA, 7,80 persen.
Untuk tingkat SD ke bawah hanya 2,66 persen. Sebab, lulusan pendidikan rendah cenderung menerima pekerjaan jenis apa saja.
Sebagian besar pengangguran terdapat di wilayah perkotaan, 6,40 persen. Sedangkan pedesaan 4,34 persen.
Di Sumbar yang paling tinggi adalah Kota Padang dan Bukittinggi, 9,18 persen dan 7,15 persen.
Selain minimnya penerimaan tenaga lulusan Diploma, lanjutnya, kondisi itu disebabkan kegiatan usaha di Sumbar masih didominasi kegiatan informal
“Itu seperti sektor pertanian serta sektor perdagangan sebagai lapangan usaha
utama,” terangnya.
Di Sumbar, ulasnya, sebagian besar serapan tenaga kerja masih di sektor informal, 37,7 persen atau 959,56 ribu orang.
Sedangkan pekerja informal 1.585,2 ribu orang atau 62,3 persen. “Ini harus ada solusinya, sehingga serapan tenaga sektor formal makin tinggi,” tutupnya. (tds)
















