Budaya

Literasi Sebagai Konsep Dasar Membangun Nilai-nilai Filosofi dan Karakter Anak

Pariaman, Prokabar – Literasi adalah kemampuan seseorang membaca, memahami dan mengolah huruf atau aksara yang kemudian dituangkan ke dalam sebuah karya tulis (menulis). Namun perkembangannya literasi saat ini tidak hanya mengenai membaca dan menulis, namun sudah masuk pada kultur berkaitan dengan sosial dan politik.

Literasi telah hidup dan berkembang sebagai landasan pendidikan anak sejak nenek moyang kita terdahulu, khususnya memberikan edukasi nilai-nilai kebaikan kepada anak. Dahulu, orang tua atau nenek atau kakek si anak, sering menceritakan sebuah kisah dongeng sebagai media pelajaran, pengalaman dan edukasi pembentukan karakter secara alamiah pada anak.

Mereka mengajarkan anak arti sebuah kebaikan, kebahagiaan, kebersamaan, kekompakan, kesederhanaan, kepahlawanan dan ketangguhan dalam cerita anak tersebut. Dan nilai-nilai seperti reliqius, jujur, mandiri, kerja keras, sopan santun/ tata krama, peduli sosial, nasionalis, cinta tanah air, disiplin, rasa ingin tau, mandiri dan sebagainya dapat terbentuk dengan cerita anak yang dikisahkan orang tua pada anaknya sejak dini.

Penjelasan tersebut disampaikan Kepala Balai Bahasa Kalimantan Selatan, Imam Budi Utama sekaligus narasumber Diseminasi Gerakan Literasi Nasional, oleh Balai Bahasa Sumbar, di Balairuang Walikota Pariaman, Selasa (24/7).

Menurutnya, cerita anak adalah cerita yang dibacakan diperuntukan anak dibawah 15 tahun. Ada juga cerita kontennya bercerita tentang anak, tapi belum tentu semuannya diperuntukan atau dikonsumsi untuk anak. Terutama mengandung konten bahasa fulgar dewasa.

“Cerita anak terdapat nilai personal, seperti memberi hiburan atau kesenangan, memberi imajinasi, memberi aneka pengalaman hidup, dan mengembangkan kemampuan memahami perilaku manusia (pembentukan watak),” kata Imam.

Saat ini lanjutnya, terdapat beberapa urgensi dari pembangunan sumber daya manusia sebagai pondasi pembangunan bangsa. Keterampilan abad 21 siswa berkarakter, literasi dasar, dan kompetensi mewujudkan keunggulan bersaing generasi emas 2045. Mirisnya, kondisi saat ini adanya kecenderungan kondisi degradasi moralitas, etika dan budi pekerti.

“Menurut sebuah pelajar di Amerika tidak kurang setiap sebulan membaca 30 buah novel. Di Indonesia pelajar dan mahasiswa kita nol baca novel (sastra),”ungkapnya.

Ia melanjutkan, negara maju dgn peradapan lebih tinggi menganggap novel adalah sebuah kebutuhan sebagai pelajaran memahami lingkungan. Dan pemahaman itu kepada kita masih belum didapatkan.

Ia mengatakan adapun beberapa fenomena pendidikan yang dialami Indonesia saat ini, seperti orentasi melenceng dari tujuan pendidikan nasional mengejar target kognitif dari pada sikap dan prilaku, hanya fokus pengajaran dari pada pendidikan.

Dilanjutkan besarnya populasi sekolah, siswa dan guru, Sinergi tanggungjawab semua pihak belum optimal. Tantangan globalisasi, Terbatas pendampingan orang tua dan keterbatasan sarana dan infrastruktur.

Disamping itu tuturnya, paling utama adalah kerohaniannya. Mengeluh bukan menyelesaikan masalah tapi menjadikan tantangan untuk dapat menyelesaikannya.

“Kritalisasi Nilai Karakter itu adalah Religius, nasionalis, integritas, gotong royong dan mandiri. Sedangkan filosofi nilai karakter terdapat empat bagian penting yakni Olah hati (etika), olahraga (kinestetik), olah pikir (literasi) dan olah karsa (Estetika),”tutup Kepala Balai Bahasa Kalimantan Selatan tersebut. (rud)

Berani Komen Itu Baik
Loading...
To Top