Padang, Prokabar – Meski dalam skala amat kecil, Minangkabau sudah lama mengenal LGBT, tapi sebutannya “pa anak jawi.”
Apa itu? Ini bermula pada surau atau sejenisnya yang menghimpun anak bujang tidur tidak di rumah.
Kesulitan mendapatkan wanita untuk pacar baik karena nasib buruk saja atau tersebab kontrol sosial masyarakat yang ketat.
Maka sejumlah kecil bujang di surau menyalurkan nafsunya pada teman sejennis secara kilat. Biasanya tanpa korban tahu.
Hanya sekadar itu, pada keseharian pelaku adalah pria perkasa, tidak melambai dan tidak terus-menerus.
Ia pria sejati seperti yang lain, cuma karena “alah tasasak gala ka napa,” maka ia berbuat demikian.
“Pa anak jawi,” itu kemudian habis berbarengan dengan habisnya surau sebagai tempat tidur anak bujang.
Lama, berpuluh tahun “kosong” maka datanglah LGBT. Lalu kini nomor satu di Indonesia. (nrs)
















