Agam, Prokabar – Suasana Lebaran tidak hanya menjadi ajang liburan ke objek wisata alam semata. Melainkan juga dapat dimanfaakan ke objek wisata religius dan edukasi. Hal tersebut dapat dirasakan di Maninjau, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam.

Ratusan Perantau dari berbagai daerah seperti Jakarta, Singapura, Malaysia, berbondong-bondong memanfaatkan liburannya ke Museum Hamka. Museum yang semakin tacilak dan lengkap perpustakaannya.


Yusril, salah seorang perantau asal Nagari Koto Kaciak, sengaja jauh-jauh berkunjung. Ia mengaku, sudah lama tidak ke Museum tersebut.
“Buya Hamka adalah sosok Tokoh Nasional yang patut dan selalu menjadi suri teladani bagi kami di Maninjau. Ia dan karyanya memberi kami inspirasi dan semangat juang yang hebat,” kata Yusril.

Ada 3 nilai keteladanan yang patut kita contoh lanjutnya. Pertama semangatnya menuntut ilmu. Kedua, Semangat nasionalis yang tidak hanya memikirkan perut dan nasip dirinya sendiri. Melainkan berperan besar untuk umat Muslim dan Bangsa Indonesia. Ketiga, mengembangkan ilmu yang dimiliki, mengamalkan serta membagi ilmu tersebut kepada ribuan murid yang pernah belajar langsung darinya.

“Museum ini sangat penting dan perlu dijaga kelestariannya. Melihat dan riwayat sejarahnya, jelas sangat penting untuk generasi penerus berikutnya. Nilai-nilai Inyiak Deer (panggilan ayah dari Hamka, Kiyai Haji Abdul Karim) bersama Hamka memberikan spirit, spritual dan intelektual kepada masyarakat yang hendak merantau keluar daerah,” lanjutnya.
Kunjungan di hari lebaran ini biasanya mencapai ratusan orang perantau setiap tahunnya. Mereka berkunjung ingin kembali mendapatkan spirit, motivasi dan wawasan Hamka yang telah ditinggalkannya.
“Selain dapat melihat benda bersejarah Buya Hamka, di sini juga dapat langsung membeli buku Tafsir, Ilmiah, Novel, Cerpen serta fiksi dan non fiksi karya Buya Hamka. Dapat bermanfaat menambah ilmu pengetahuan kita,” terang Pensiunan ASN tersebut.
Museum Hamka Butuh Perhatian
Akhiar Saputra, penjaga sekaligus pemelihara Museum Hamka tersebut mengutarakan, perhatian dari Pemda setempat kepada petugas dan Museum sangat rendah. Saat ini, lampu penerangan mati diduga adanya kabel yang putus di atas loteng.

Cat Dinding, Tembok dan Pagar juga perlu diperbarui. Yang lebih penting lagi, honorer penjaga dari Rp 1,5 Juta malah berkurang menjadi Rp900 ribu perbulannya. Kondisi ini menjadi keluhan utama dari Akhiar Saputra.
“Saya merasa tidak sanggup lagi menjadi petugas jaga dan pemelihara museum ini. Setiap melaporkan masalah ini ke pihak terkait, hampir tidak mendapat respon dari Pemerintah,” tutup Penjaga Museum Hamka tersebut. (rud)
















