Bola

Lari dari Negaranya, Legenda Turki itu Jadi ‘Ojol’ Di Washington

Washington, Prokabar – Roda kehidupan terus berputar, termasuk untuk seorang pemain kelas dunia seperti Hakan Sukur. Legenda sepakbola Galatasaray dan Turki yang tercatat sebagai pepegang rekor gol tercepat di Piala Dunia itu, sekarang berprofesi sebagai driver ojek online (Ojol) dan penjual buku di Washington, Amerika Serikat,

Dia mengklaim kehidupannya itu dikarenakan berseberangan dengan presiden negaranya yakni Recep Tayyip Erdogan yang disebutnya “mengambil semuanya” dari dia. Mantan penyerang berusia 48 tahun itu, yang juga pernah memperkuat Torino, Parma, Inter Milan hingga Blackburn Rovers, mengaku diperlakukan sebagai musuh oleh Turki bahkan semua asetnya disita negara.

Sukur mencetak lebih dari 250 gol di level klub selama berkarier, selagi 51 gol ia ciptakan untuk Turki dari 112 penampilan. Dia sempat bergabung dengan partai AKP yang dipimpin Erdogan pada 2011, namun keluar dua tahun berselang setelah dilaporkan ada beda pendapat.

“Kemudian setelah itu semuanya dimulai. Batu-batu dilempar ke butik milik istri saya, anak saya diperlakukan kasar di jalan. Saya menerima banyak ancaman untuk setiap komentar saya. Ketika saya pergi, mereka menahan ayah saya – dan semua yang saya miliki disita.

“Saya tidak punya apa-apa lagi di dunia ini. Erdogan mengambil semuanya dari saya; kebebasan saya, hak saya untuk menjelaskan, untuk mengekspresikan diri, untuk bekerja.”

Ayah Sukur sekarang menjadi tahanan rumah, setelah dilepas dari penjara usai didiagnosis kanker. Ibunya juga didiagnosis serupa. “Ini sangat sulit untuk mereka, Semua orang yang dekat dengan saya mengalami masalah finansial. Saya membuka kafe di sini [di Washinghton, California] untuk sementara waktu. Namun orang-orang aneh yang datang, dan bermain musik Dombra.”

Dombra sendiri adalah musik yang disebut AKP sebagai musiknya orang-orang Turki. Sukur juga baru tahu bahwa, ketika ada mahasiswa Turki di Amerika yang mengajaknya berswafoto, pelajar tersebut lantas dipenjara selama 14 bulan.

“Sepakbola di Turki, seperti di kebanyakan tempat, tidak bebas dan tidak mandiri. Namun kami justru diserang oleh media setempat [karena bersuara]. Mereka ingin memastikan bahwa atlet lain terintimidasi untuk membuka mulut.

“Saya hanya melakukan hal-hal yang legal di negara saya, di publik. Namun karena nama saya adalah Hakan Sukur, saya diperlakukan untuk mengintimidasi orang. Bisakah mereka menunjukkan catatan kriminal yang saya lakukan?

“Tidak. Mereka hanya menyebut saya sebagai ‘pengkhianat’ dan ‘teroris’. “Saya adalah musuh pemerintah; bukan musuh negara, bangsa Turki. Saya cinta bendera dan negara saya,” imbuhnya.(*/mht)

Berani Komen Itu Baik
Tirto.ID
Loading...
To Top