Trending | News | Daerah | Covid-19

Kuliner

Lamang Tapai, Sajian Pilihan Saat Lebaran

Dibaca : 500

Padang, Prokabar – Penganan dari beras ketan dan berada di tabung bambu ini, begitu unik. Orang Padang menyebutnya lamang. Untuk bisa mencicipi lamang, bambu harus dibelah dulu. Jika tak hati-hati membelah bambu maka tangan akan terluka. Sebab bambu yang digunakan membuat lamang adalah bambu yang disebut talang, kulitnya tipis dan gampang melukai tangan.

Jika Anda tak sempat membuat lamang karena memang membutuhkan waktu dan kesabaran, maka dapat membeli yang sudah matang. Pedagang lamang ini banyak dijumpai berjejer di sepanjang Jalan KH Ahmad Dahlan, dekat Mesjid Raya Sumbar, Kota Padang.

Pedagang lamang di pinggir jalan ini juga tak aman berjualan, karena di larang berjualan di lokasi itu. Tetapi mereka selalu kucing-kucingan dengan petugas Satpol PP Kota Padang dan tetap bertahan berdagang hingga saat ini.

Salah satunya adanya Ezi. Wanita berusia 45 tahun itu mengaku sudah berjualan lamang tapai sejak 5 tahun lalu. Awalnya hanya dia dan adik suaminya saja yang berjualan di sana. Tetapi saat ini jumlah pedagang lamang tapai terus bertambah dan ada pula pedagang buah-buahan dan keripik sanjai.

Menurut Ezi, pelanggannya adalah para pengendara yang melintas di kawasan itu. Sejak pagi mulai pukul 10.00 WIB, dia sudah memarkir gerobaknya di Jalan KH Ahmad Dahlan. Saat petang dia kembali ke rumah. Tetapi jika dagangannya belum habis, Ezi bertahan hingga malam. Dia tak hanya menjual lamang tapai tetapi juga lamang pisang dan lamang baluo.

“Lamang tapai adalah lamang yang dimakan dengan tape ketan hitam. Sedangkan lamang pisang adalah beras ketan yang dicampur dengan pisang. Selanjutnya lamang baluo adalah beras ketan yang ditengahnya diberi kelapa bergula aren,” katanya.

Selama Ramadan, Ezi tetap berjualan lamang. Tetapi lamang yang dibikin tak sebanyak hari biasa. Saat ini, dia hanya memasak 3 gantang beras ketan. Beras ketan sebanyak itu bisa menghasilkan 12 batang hingga 13 batang lamang. Dari berjualan lamang, dia bisa mengantongi uang Rp400.000 hingga Rp500.000 per hari.

“Lamang tapai satu batang dijual Rp45.000 hingga Rp50.000. Lamang pisang Rp60.000 per batang dan lamang baluo Rp 65.000 per batang,” terang Ezi.

Ezi tak hanya berjualan dengan gerobak, tetapi juga melayani pesanan konsumen. Jelang Lebaran ini, cukup banyak pesanan pelanggan yang harus dipenuhinya. Biasanya, kata Ezi, yang membuat lamang itu adalah suaminya. Setelah Subuh, mereka langsung bekerja membuat lamang.

“Tidak sulit membuat lamang. Beras ketan ditambahkan garam dan vanili serta santan. Kemudian dimasukkan ke dalam bambu. Agar lamang menjadi wangi, jangan lupa masukkan daun pandan di dalam bambu,” terang Ezi.

Bambu berisi beras ketan kemudian dibakar dengan kayu api. Jangan lupa membalik-balikkannya agar merata matangnya. Lama waktu pembakarannya sekitar 3 jam. Setelah itu, lamang siap dihidangnya.

“Lamang ini tak hanya enak dimakan dengan tape, tetapi juga dengan rendang,” katanya. (dvi)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top