Budaya

Kutubchanah dan Manuskrip Haji Abdulkarim Amrullah (Haka)

Sungai Batang, Prokabar – Manuskrip adalah naskah tulisan tangan yang menjadi sumber sejarah tertulis (Filologi). Di Kutubchanah, perpustakaan sekaligus tempat Haji Abdulkarim Amrullah (Haka) atau Inyiak Rasul berkarya. Di Lokasi ini pula pengembangan Muhammadiyah pertamakali di Sumatra Barat. Kemudian dilanjutkan anak kandungnya, Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau Buya Hamka.

Kutubhchanah terletak di komplek Cagar Budaya Makam Haka, Muaro Pauah, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumbar. Didirikan Haka sebagai tempat mendidik ratusan murid dan melahirkan banyak karya berupa manuskrip (arab melayu).

Saat ini masih tersimpan banyak karya penting sebagai bukti perjalanan sejarah perjuangan dirinya bersama ulama lain. Perjuangan lebih terfokus melalui aspek pendidikan. Ia juga tokoh Pembaharuan Islam di Ranah Minang, bahkan Nasional.

Menurut Pramono, Peneliti sekaligus Pemerhati Manuskrip dari Fakultas Ilmu Budaya Unand, Kutubchanah berasal dari bahasa Turki yang berarti perpustakaan sekaligus tempat menulis. “Di sini tersimpan banyak karya dan bahan bacaan dari karya-karya Haka,” ungkapnya.

Menariknya, di sana beliau mendiri Muhammadiyah pertamakali di Sumatra Barat, pada 29 Mei 1925. Kemudian diikuti di Padang Panjang. “Yang penting bagi kami peneliti dari Universitas Andalas, karya-karya yang tersimpan di kutubchanah melalui pembiayaan langsung dari Wikipedia ini, bisa mendigitalisasikannya sehingga terabadikan dan tidak hilang sebagai bukti sejarah. Baik berupa manuskrip, tercetak, maupun majalah-majalah lama,” Ungkap Pramono.

Menarik baginya setelah melihat koleksi-koleksi di sana, ada banyak koleksi yang selama ini sesungguhnya tidak terakses oleh para peneliti sejarah. ” Seperti berkenaan dengan bagaimana sesungguhnya Haka merupakan, motor, tokoh utama dalam gerakan melawan ordonansi guru,” tuturnya.

Tempat inilah tersimpan notulen rapat siapa saja ulama yang hadir, dan gerakan seperti apa yang akan mereka lakukan untuk melawan kebijakan pemerintah kolonial Belanda. Terutama ordonansi atau pembatasan guru-guru agama yang mengajar di sekolah-sekolah partikulir atau swasta.

Tidak akan mungkin seorang alam besar dan ilmuan tanpa bahan bacaan yang tentunya begitu banyak. “Di sini kita akan melihat bebagai bacaan yang pernah dibaca Haka dari buku lokal hingga karya-karya Timur Tengah berbahasa Arab. Dan ini sangat penting dalam pembelajaran generasi penerus bahwa menjadi orang cersas itu membutuhkan banyak bahan bacaan,” terangnya.

Sayangnya, koleksi yang begitu penting itu saat ini sangat memprihatinkan. “Banyak manuskrip berlobang, koyak dan dimakan usia. Karya-karya edisi printetbook juga sudah diterbitkan juga cukup mengkuatirkan. Apalagi majalah-majalah lokal, Al Munir, Al Bayar, Al Basyir, Suarti yang merupakan majalah-majalah langka penting untuk melihat kearifan masyatakat Minangkabau pada era awal abad ke 20 itu,” kata Doktor Dosen Prodi Bahasa dan Sastra Minangkabau Unand ini.

Koleksi ini penting dalam dua hal. Pertama secara akademis, koleksi Kutubchanah ini akan memunculkan penelitian-penelitian baru dengan sumber-sumber baru seperti ada surat Rahma El Yunusia dan surat Siti Afifah (Bundo Kanduang Sungai Batang) kepada Haka untuk tetap memberikan siraman rohani di kalangan kaum wanita.

Kedua, secara sosial Kutubchanah melalui koleksi karya Haka, ini adalah identitas bangsa. Rekaman memori kolektif bangsa. Melalui koleksi ini kita terjembatani melihat fenomena apa yang terjadi pada awal abad ke 20 itu. “Kalau ini tidak diselamatkan, maka akan banyak sekali ingatan-ingatan kolektif kita yang tidak terbangun,” cemasnya.

Sesungguhnya era itu dinamika polemik, sangat kental. Tetapi itu terbatas perdebatan intelegtual. Sangat berbeda pola dan polemik saat ini. “Ulama menulis sesuatu, dibalas dengan karya pula. Kita belajar dari Haka tokoh reformis Pembaruan berhadapan Kaum Tua Inyiak Canduang. Perbedaan gagasan pemikirian, namun tetap menjaga Ukhuwah Islamiyah dan saling merindukan,” tutup Pramono. (rud)

Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top