M. Afif Wafri
Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam
Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Dulu, mahasiswa dikenal sebagai agen perubahan. Sekarang? Mungkin lebih cocok disebut agen “Ctrl+C dan Ctrl+V berbasis AI”. Di zaman ketika satu pertanyaan bisa dijawab dengan ribuan karakter dalam satu detik oleh kecerdasan buatan, kita patut bertanya: apakah otak mahasiswa masih digunakan untuk berpikir, atau cukup jadi pengantar teks ke chatbot saja?
Media sosial? Jangan ditanya. Yang viral lebih cepat dipercaya daripada buku wajib kuliah. “Algoritma lebih penting dari argumentasi,” begitu kata seorang mahasiswa dalam nada bercanda, tapi sebenarnya serius. Fenomena ini bukan sekadar gaya hidup digital. Ia sudah masuk ke ranah paling sakral dalam dunia akademik: kreativitas dan orisinalitas berpikir.
Menurut laporan UNESCO berjudul “Technology in Education: A Tool on Whose Terms?” (2023), penggunaan teknologi digital yang tidak kritis justru dapat menghambat proses berpikir mendalam. AI memang memberi akses cepat pada informasi, tetapi terlalu mengandalkan teknologi bisa membuat daya analisis mahasiswa tumpul. Pendidikan tanpa refleksi kritis hanya menciptakan mesin fotokopi manusia.
Survei dari Katadata Insight Center pada 2023 mengungkap bahwa 63% mahasiswa Indonesia mengaku menggunakan AI seperti ChatGPT untuk menyelesaikan tugas kuliah. Yang mengejutkan, 41% di antaranya mengaku hanya sedikit memahami isi dari jawaban yang mereka salin.
Dalam konteks global, McKinsey Global Institute bahkan memproyeksikan bahwa pada 2030, sekitar 14% pekerjaan akan tergantikan otomatisasi. Bukan hanya pekerjaan rutin, tapi juga profesi berbasis pemikiran seperti analis data dan penulis konten. Maka, bukan tak mungkin, mahasiswa yang hari ini menyerahkan proses belajarnya kepada mesin, kelak akan kalah bersaing dengan mesin yang lebih cepat belajar darinya.
Seperti yang dikatakan Fyodor Dostoyevsky dalam novelnya Notes from Underground: “Man is a creature that can get used to anything.” Termasuk terbiasa tidak berpikir. Dan itu yang paling menakutkan.
Kini, mahasiswa bisa menghabiskan dua jam menyusun caption Instagram, tapi merasa lima menit terlalu lama untuk membaca tiga paragraf jurnal ilmiah. Ironis. Lebih ironis lagi ketika ada lomba esai, yang pertama dicari adalah “prompt terbaik buat AI”, bukan ide dari kepala sendiri. Kreativitas dikira tinggal klik. Intelektualitas cukup diserahkan ke mesin.
Padahal, AI dan media sosial bukan musuh. Mereka adalah alat. Tapi jika kita tidak belajar menggunakannya secara bijak, alat itu justru akan membentuk kita jadi produk pasif algoritma. Mahasiswa seharusnya jadi penantang zaman, bukan korban tren. Kita perlu merebut kembali ruang berpikir, ruang bertanya, dan terutama, ruang untuk salah. Karena hanya dengan berpikir dan berproses sendiri, kita bisa tumbuh.
Kreativitas bukan datang dari jawaban yang instan, tapi dari kebingungan yang ditekuni. Jadi, sebelum Anda mengetik “Tolong buatin makalah dong, ChatGPT,” coba tanya dulu ke diri sendiri: “Apa sebenarnya yang ingin aku katakan?”
















