Trending | News | Daerah | Covid-19

Opini

Konflik Paradoksal dan Komunikasi dari Surga Hingga ke Bintang Emon


Oleh : Sulthan Jiyad Muqsith Asmara *

Dibaca : 308

PARADOKSAL (perlawanan) komunikasi dan konflik sudah ada semenjak dari alam surga. Secara sederhana, paradoksal komunikasi dan konflik ini merupakan suatu peristiwa komunikasi yang menyebabkan konflik, lalu konflik itu diselesaikan lagi oleh komunikasi, lalu konflik lagi, lalu komunikasi lagi, dan seterusnya.

Secara sederhana hubungan paradoksal antara konflik dan komunikasi tersebut dirangkum oleh Hocker dan Wilmot (1997) dalam buku Interpersonal Conflict (konflik antarpribadi) dengan kalimat yang dikenal sebagai berikut; perilaku komunikasi sering menciptakan konflik.

Perilaku komunikasi mencerminkan konflik. Komunikasi merupakan alat untuk manajemen konflik yang produktif atau pun destruktif.

Bagaimana itu bisa terjadi? Merunut sejarahnya dari awal.

Ketika di Surga, Allah memberikan informasi kepada Nabi Adam AS untuk tidak mendekati pohon khuldi, hal ini tertera pada Qur’an Surat Al-Baqorah ayat ke 35, bahkan Allah juga menyatakan bahwa mendekati pohon itu adalah suatu kezaliman.

Sayangnya Allah tidak menjelaskan alasan kenapa pohon itu tidak boleh didekati. Setelah itu, datanglah setan untuk menggoda Nabi Adam AS dengan cara ingin menunjukkan pohon keabadian (Khuldi) dan kerajaan yang tidak pernah binasa.

Peristiwa ini bukan mengindikasikan bahwa pesan yang disampaikan Allah tidak lengkap, melainkan sebuah indikasi bahwa pesan itu berkembang.

Adam yang terayu godaan setan, malalui istrinya Hawa, kemudian mendekati pohon khuldi. Lalu Adam bersama Hawa, memakan buah tersebut. Sehingga durhaka lah Adam dan Hawa kepada Allah. Keadaan durhaka ini menjadi konflik pertama yang diterima oleh umat manusia.

Meski pun hanya konflik yang berada pada tataran konflik intrapersonal, dimana konflik itu hanya dirasakan dalam diri seseorang saja, tetap saja peristiwa ini mengindikasikan bahwa konflik itu dimulai dari komunikasi.

Lebih lanjut lagi, peristiwa keberkembangan pesan yang diprakarsai oleh setan menjadi bukti bahwa komunikasi memang menimbulkan konflik. Lalu konflik ini dapat terselesaikan dengan permohonan maaf Adam dan Hawa dalam bentuk tobat kepada Allah. Sama halnya dengan ibadah, tentu saja tobat ini merupakan salah satu bentuk komunikasi transendental (komunikasi yang berhubungan dengan Alam lain) manusia kepada penciptanya.

Singkat cerita, Adam dan Hawa terusir dari Surga sebagai wujud dari tobat mereka yang sudah diterima oleh Allah. Mereka ditempatkan di Bumi, dan Adam sebagai khalifah atau pemimpinnya. Hingga datanglah perintah menikah yang dikomunikasikan secara berantai dari Allah ke Adam, lalu ke keturunan Adam.

Perintah menikah ini mesti dilakukan secara silang, karena ketika itu Adam dan Hawa punya dua pasang anak kembar. Pasangan pertama, Qabil dan Iklama yang rupawan, sementara pasangan lainnya Habil dan Labuda yang tidak rupawan.

Dari sinilah konflik mulai dirasakan. Konflik salah satunya memang diakibatkan oleh perbedaan kebutuhan. Habil yang ketika itu menerima keputusan menikahi Iklima karena kebutuhannya akan ibadah kepada Allah, sementara Qabil yang tidak menerima keputusan untuk menikahi Labuda dikarenakan oleh kebutuhannya akan cinta seorang Iklima.

Hingga akhirnya konflik mulai terbuka antara Qabil dan Habil.

Persaingan antara Qabil dan Habil dalam mempertahankan kebutuhan masing-masing- mereka tidak terbendung ketika itu, maka pilihan untuk menyelesaikan konflik dengan cara lain tidak dapat ditempuh.

Keduanya tidak ingin berkompromi, keduanya tidak ingin mundur, keduanya tidak ingin mengalah satu sama lain, dan tentu saja tidak ada jalan kolaborasi pada konflik ini.

Inilah konflik antar pribadi yang pertama di muka Bumi. Dan, tentu saja konflik ini diselesaikan lagi dengan menggunakan berbagai pendekatan komunikasi.

Konflik antarpribadi pertama di muka Bumi ini tentu saja diselesaikan melalui berbagai pendekatan komunikasi. Adam selaku khalifah ketika itu, mencoba untuk menyelesaikan konflik itu memberikan intervensi sebagai penengah komunikasi ke dalam konflik itu sendiri.

Setelah peristiwa konflik yang terjadi pada masa Adam dan Hawa, sebenarnya ada banyak peristiwa yang menggambarkan paradoksal konflik dan komunikasi ini. Hingga sampailah kita pada zaman sekarang ini.

Zaman di mana konflik dianggap biasa saja, bahkan dengan kemunculan pandangan interaksionis konflik yang dianut oleh orang-orang yang menganggap bahwa konflik itu dapat berdampak positif.

Selain pandangan interaksionis, ada juga pandangan tradisional yang menganggap bahwa konflik itu merupakan sumber perpecahan.
Untuk memberikan jembatan antara kedua pandangan tersebut, Louis Pondy memberikan pandangan baru bahwa konflik itu tidak hanya memberikan efek negatif, tetapi juga memberikan efek positif.

Louis Pondy lebih lanjut lagi menyatakan bahwa efek positif dan negatif ini tergantung kepada solusi yang didapat dalam penyelesaian konflik, solusi yang produktif akan memberikan efek positif, sementara solusi yang kontra produktif memberikan efek negatif.

Sebagai pakar manajemen konflik, Louis Pondy punya kepercayaan bahwa konflik itu dapat diselesaikan melalui upaya komunikasi. Kepercayaan Louis Pondy ini sampai sekarang masih bisa disaksikan di berbagai belahan dunia.

Di Indonesia contohnya, banyak konflik yang diselesaikan dengan komunikasi. Kita mulai saja dari sejarah kemerdekaan, ketika kependudukan jepang di Indonesia dianggap sebagai suatu konflik.

Ketika itu para kaum muda melakukan komunikasi dengan memproduksi pesan informatif, persuasif (ajakan), bahkan koersif (ancaman) kepada Soekarno sehingga proklamasi kemerdekaan indonesia dapat terwujud.

Lalu pada dekade tahun 1950-an, berbagai tekanan muncul dari luar indonesia. Dua kali agresi militer menjadi pertanda buruk bagi Indonesia sebenarnya.

Tapi dengan semangat perjuangan, bangsa indonesia memilih jalan komunikasi dalam bentuk diplomasi untuk mempertahankan kemerdekaannya.

Diplomasi yang dilakukan ketika itu terlihat sebagai strategi manajemen konflik, bangsa indonesia melakukan gaya menyerang (forcing).

Pada dekade ini juga konflik yang terjadi terlihat sebagai konflik eksternal antar bangsa dan negara.

Setelah dekade tersebut, Indonesia dihadapkan pada konflik yang sedikit lebih sempit.

Ada juga peristiwa G30-S/PKI, peristiwa reformasi 98, peristiwa Gerakan Aceh Merdeka (GAM), pemberontakan Organisasi Papua Merdeka (OPM), konflik Poso, dll.

Konflik-konflik tersebut merupakan konflik internal bangsa Indonesia.

Jika dirunut lebih jauh lagi, semua konflik itu dapat diselesaikan melalui komunikasi.

G30-S/PKI diselesaikan melalui pengadilan sebagai bentuk intervensi manajemen konflik. Reformasi 98 melalui penyataan mundur Presiden Soeharto sebagai efek dari pernyataan sikap rakyat Indonesia.

Peristiwa GAM yang diselesaikan melalui diskusi antara TNI, Jusuf Kalla, dan tokoh GAM. Begitu juga peristiwa konflik Poso. Bisa dikatakan semua penyelesaian konflik itu dapat diselesaikan dengan upaya komunikasi.

Selain konflik-konflik tersebut di atas.

Belakang ini ada satu peristiwa yang sedang viral, yakni; unggahan komika Bintang Emon tentang kasus peradilan terdakwa penyiraman air keras kepada Novel Baswedan.

Kasus ini tak kalah menarik jika dilihat dari kaca mata paradoksal konflik an komunikasi.

Dimulai dari Bintang Emon yang mengunggah video pendeknya di akun media sosialnya.
Pemanfaatan media sosial dalam unggahan Bintang Emon tersebut merupakan salah satu ciri dari keluasan kajian komunikasi, tepatnya komunikasi massa.

Melalui upaya penyampaian pesan oleh Bintang Emon selaku komunikator di media sosial, hingga timbulnya tuduhan penggunaan narkoba atas dirinya dan juga Bintang Emon dilaporkan ke aparat hukum sebagai buntut dari unggahannya tersebut.

Singkatnya, Bintang Emon mendapatkan konflik baru atas unggahannya, yang membuat ia mesti punya strategi manajemen konflik untuk menyelesaikan konflik atas dirinya ini. Terlihat Bintang Emon mengunggah sebuah foto yang berisi surat keterangan bebas narkoba dari salah satu klinik rumah sakit, lagi-lagi Bintang Emon melakukan upaya komunikasi massa untuk menyelesaikan tuduhannya.

Tidak sampai di situ saja, setelah Bintang Emon dilaporkan ke Kemenkominfo oleh Charlie Wijaya, warganet mulai memberikan dukungan dan pembelaan sebagai simpati terhadap Bintang Emon di media sosial.

Dukungan dan pembelaan ini kemudian memberikan efek baru lagi, di mana Charlie Wijaya terpaksa mencabut laporannya atas Bintang Emon.

Hal ini memberikan bukti bahwa kekuatan komunikasi massa yang begitu massive sebagai upaya penyelesaian konflik yang sedang dihadapi oleh Bintang Emon.

Dewasa ini, banyak peristiwa yang menggambarkan tahapan konflik. Tentu saja penyelesaiannya dilakukan menggunakan upaya komunikasi.

Hanya saja ada yang merasa bahwa upaya komunikasi mulai dibatasi, sehingga ketakutan terhadap konflik menjadi sesuatu yang wajar terjadi.

Seolah-olah pandangan interaksionis konflik yang selama ini dirawat menjadi pudar perlahan. Dan, masyarakat kembali memiliki pandangan tradisional dalam menghadapi konflik.

Melihat berbagai peristiwa konflik belakangan ini, alangkah baiknya kita berpandangan bahwa penyelesaian konflik yang menemukan solusi negatif itu diakibatkan oleh pembatasan komunikasi.

Setelah komunikasi dibatasi, solusi konflik yang kontraproduktif pun dianggap biasa. Di sisi lain, pembatasan komunikasi seolah menjadi strategi baru dalam penyelesaian konflik.

Biasanya pembatasan komunikasi dilakukan oleh pihak yang mendominasi atas konflik yang terjadi.

Sedikit kembali kepada awal mula manusia, yakni surga.

Sementara konsep Surga dalam Islam menjadi satu-satunya keadaan dan tujuan ideal kehidupan manusia. Kalau begitu sudah sepantasnya strategi penyelesaian dan manajemen konflik didasarkan kepada upaya komunikasi seperti yang pernah terjadi di Surga.

Jadi, kalau seandainya hari ini ada yang berusaha untuk menutup komunikasi untuk menyelesaikan konflik, sama artinya dengan mengingkari peristiwa surga,(**)

* Penulis adalah : Mahasiswa program Pascasarjana Ilmu Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan, Universitas Andalas


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top