Kolom Piala Dunia 2026; The Last Philosophy, Ketika Ronald Koeman “Mengkhianati” Belanda

Penulis -

Sabtu, 4 Juli 2026 - 22:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh Rizal Marajo (Wartawan Utama)

Babak 32 besar Piala Dunia 2026 sudah tuntas. 16 negara sudah menggenggam tiket untuk pertarungan menuju perempat final. 16 laga di fase gugur 32 besar, telah melahirkan banyak drama dan kejutan di lapangan hijau.

Ada tangis yang pecah setelah perjuangan melelahkan terbayar oleh tiket ke 16 besar. Ada drama pilu, ketika tiket sudah berada dalam genggaman terlepas di menit bahkan detik-detik akhir pertandingan.

Sebut saja drama yang seketika merubah sejarah yang sedang ditulis Senegal di Lumen field Stadium di kota Seattle. Unggul 2-0 sampai menit 86 dari Belgia, tapi dalam tempo tiga menit Belgia mampu mencetak dua gol yang membuat skor 2-2 di ujung waktu normal dan memaksakan perpanjangan waktu.

Ketika suporter kedua tim sudah pasrah pertandingan bakal diakhiri dengan adu penalti, Belgia mendapat penalti di penghukung extra time atau menit 120+5. Gol yang tak ubahnya hukuman mati yang membuat mimpi indah Senegal berantakan untuk lolos ke 16 besar.

Tak kalah dramatis, Jepang wakil kebanggaan dan harapan Asia, memberikan penampilan memikat nan apik, dan mampu memberikan perlawanan setimpal kepada tim sekelas Brasil.

Tapi sebuah gol Brasil di ujung waktu mengakhiri semangat bushido Ayase Ueda dan kawan-kawan. Mimpi mereka untuk meraih kemenangan pertama di fase gugur Piala Dunia, yang sejak tahun 2002 belum juga kesampaian harus dikubur lagi untuk coba diulangi empat tahun lagi.

Lihat pula bagaimana pemain Cape Verde jatuh bangun membuat juara bertahan Argentina hilang akal dan ngos-ngosan. Spirit luar biasa dan tak kendor sedikitpun selama 120 hampir saja mempermalukan sang juara bertahan.

Hanya karena magis seorang Lionel Messi yang harus “dipaksa” pelatihnya bermain selama 120 menit, telah menyelamatkan tim Tango. Messi yang sudah berusia 39 tahun harus bermain dua jam demi untuk menjaga semnagat dan kepercayaan diri pemain Argentina di tengah gempuran tim negara kecil debutan Piala Dunia itu.

Karena Messi adalah panglima perang bagi teman-temannya di lapangan. Apa jadinya prajurit Argentina itu, tanpa seorang panglima di medan tempur yang begitu sengit dihadirkan oleh Cape Verde. Takdir pun berkata, sebuah gol bunuh diri pemain Cape Verde yang bermula dari sepak pojok Messi, telah mengakhiri laga heroik itu.

Tapi, dari semua laga 32 besar itu, yang paling jadi perbincangan adalah kekalahan Belanda dari Maroko. Pertempuran dahsyat di Stadion BBVA kota Monterrey di Meksiko itu diakhiri oleh adu penalti yang dimenangkan oleh Maroko.

Belanda, banyak diharapkan bisa melangkah jauh kali ini. Performa luar biasa dan memikat di fase grup, membuat orang mulai melirik De Oranje layak untuk melangkah jauh di Piala Dunia kali ini. Bahkan tak sedikit yang memasukan Belanda sebagai salah satu penantang serius untuk juara.

Harapan itu sebenarnya masuk akal, ketika Cody Gakpo menjebol gawang Maroko menit ke-72. Selama hampir 25 menit, Virgil van Dijk dan kawan-kawan mati-matian untuk mempertahankan keunggulan itu. Tapi pertahanan itu runtuh juga di menit 90+1 ketika Issa Diop menyamakan skor 1-1 dan memaksa perpanjangan waktu.

Disinlah drama Belanda dimulai. Sejak unggul 1-0 sampai habisnya extra time, pelatih Belanda Ronal Koeman justru menyerahkan lehernya dan timnya kepada Maroko yang tampil bak prajurit Hanibal melintasi pebunungan Atlas di Afrika Utara.

Dan itulah yang terjadi, Belanda seperti menunggu waktu untuk memaksakan adu penalti, yang jelas-jelas adalah sisi lemah Belanda. Dari empat kali adu penalti di Piala Dunia, Belanda hanya sekali menang, yaitu melawan Costa Rika di perempatfinal Piala Dunia 2014.

Sementara Maroko, adalah jagonya adu penalti. Empat tahun lalu mereka sampai semifinal menang lewat adu penalti melawan dua raksasa Eropa Spanyol dan Portugal. Kali ini Belanda yang mereka habisi dengan cara itu.

Belanda, tim yang banyak digilai penggemar sepakbola di dunia, termasuk di Indonesia. Sebabnya hanya satu, kalau ada satu negara yang identitas sepakbolanya paling gampang dikenali, jawabannya mungkin Belanda.

Selama puluhan tahun, mereka dikenal sebagai tim yang selalu ingin menguasai bola, mendikte permainan, dan memaksa lawan mengikuti ritme mereka. Filosofi itu sudah melekat begitu kuat sampai orang-orang menyebutnya Total Football. Filosofi yang diciptakan pelatih legendaris Rinus Michel tahun 1970-an, yang berbuah dua kali finalis Piala Dunia 1974 dan 1978.

Bagi Belanda, menang memang penting, tapi cara meraihnya juga selalu jadi bagian dari kebanggaan sepakbola mereka. Bicara Belanda adalah bicara sepakbola full menyerang yang sexy.

Mereka mungkin tak seindah Jogo bonito Brasil di masa jaya atau sekuat Cattenacio Italia dulu, tapi sepakbola Belanda adalah perpaduan skill tinggi dan seni sepakbola menyerang yang penuh totalitas sebagai sebuah tim.

Ketika Ronald Koeman yang semasa jadi pemain adalah seorang bek terbaik dunia, ‘mengkhianati” total football melawan Maroko, maka itu menjadi awal kekalahan Belanda yang sangat menyakitkan.

Melawan Maroko, Koeman memilih bermain dengan lima bek dan hanya dua gelandang. Secara taktik, keputusan itu tentu sah-sah saja, kalau memang harus menyesuaikan diri dengan lawan yang dihadapi.

Masalahnya, buat banyak orang Belanda, memainkan lima bek dan dua gelandang sama artinya memilih bertahan membiarkan diri diserang. Bagi orang Belanda itu jelas menabrak nilai-nilai sepakbola Belanda yang hanya punya satu rumus, yaitu menyerang adalah pertahanan terbaik.

Tidak heran sepanjang pertandingan, Maroko yang lebih sering mengambil inisiatif permainan. Achraf Hakimi Cs tenang saat mengalirkan bola, berani memainkan kombinasi umpan-umpan pendek, dan terus bergerak mencari ruang.

Malah terlihat, permainan Maroko itu terasa seperti sedang “merampas’ senjata milik Belanda dan dihadapkan kepada tuan pemilik asli senjata itu.

Ironi yang sangat telak bagi Belanda, apalagi beberapa pemain penting Maroko memang tumbuh besar di Belanda. Sebut saja, Noussair Mazraoui lahir di Leiden. Sofyan Amrabat besar di Utrecht. Anass Salah-Eddine juga lahir dan mengawali kariernya di Belanda.

Mereka belajar sepakbola dari sistem yang sama, lalu membawa filosofi itu ke Piala Dunia untuk melawan Belanda. Bedanya, malam itu mereka mengenakan jersey Maroko.  Sementara Belanda yang harusnya lebih banyak pegang bola, justru lebih banyak menunggu.

Tentu ini tak sepenuhnya kesalahan Koeman sebagai pelatih. Dia pasti punya alasan sehingga harus mengingkari identitas sepakbola Belanda sendiri. Bagaimana pun Maroko bukan lawan yang bisa diremehkan. Bermain lebih hati-hati dan tak memaksakan diri menyerang, tentu bukan keputusan yang muncul tanpa pertimbangan.

Bahkan setelah pertandingan, Koeman membela diri dengan mengatakan bahwa kalau saja Maroko tidak mencetak gol penyeimbang di menit-menit akhir, mungkin semua orang justru sedang memuji keputusannya memasang lima bek dan bermain menunggu.

Tapi publik Belanda tak bisa menerima itu, kekalahan Belanda dari Maroko tidak hanya sekedar soal hasil akhir. Mereka marah, karena Timnas Belanda mulai kehilangan sesuatu yang selama ini membuat mereka berbeda.

Belanda memang kalah dari Maroko, namun yang lebih menyakitkan buat suporter dan pendukung Belanda adalah cara mereka kalah. Dimana mereka kalah karena meninggalkan identitas sepakbola mereka.

Kini, Koeman telah mengundurkan diri sebagai Pelatih Belanda. Siapapun penggantinya, PR besarnya bukan mencari formasi baru atau menemukan pemain baru lagi. Tantangan terbesarnya justru adalah menemukan lagi versi Belanda yang selama puluhan tahun sejak era 1970-an membuat dunia jatuh cinta pada sepakbola mereka.

Sebuah dilema memang, karena disaat hampir semua tim di dunia mulai bermain lebih pragmatis, dan hanya menjadikan kemenangan sebagai satu-satunnya tujuan, apakah Belanda akan tetap bersikukuh untuk kembali kepada identitas aslinya. Yang jelas, di Piala Dunia 2026 Koeman sudah menggali kuburan untuk total football.

Menarik dinanti, apakah total footbal akan senasib dengan Jogo Bonito yang sudah dikuburkan Brasil, atau serupa dengan kick and rush yang sudah dipasangi batu nisan oleh Inggris. Bisa jadi akan sama pula dengan Cattenaccio yang sudah mulai ditinggalkan Italia dan pressure football ala Jerman yang tak terlihat lagi.

Kalau tidak, maka kita masih ada harapan untuk menikmati total footbal sebagai “The last Pholosophy” di panggung sepakbola dunia.(*)

 

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi
Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur
IKHLAS itu MUDAH
Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional
Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak
Munajat Cinta di Sepenggal Tanah Surga
Muktamar NU ke-35, Menentukan Arah Khidmah NU dan Masa Depan Umat
Di Tanah Kelahiran, Harapan Kami Menggantung di Ujung Pena Regulasi

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 11:11 WIB

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi

Selasa, 29 September 2026 - 10:10 WIB

Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur

Minggu, 13 September 2026 - 05:44 WIB

IKHLAS itu MUDAH

Rabu, 2 September 2026 - 13:57 WIB

Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional

Senin, 31 Agustus 2026 - 15:36 WIB

Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak

Berita Terbaru