Oleh Rizal Marajo (wartawan Utama)
Sebelum Piala Dunia 2022 di Qatar, publik sepakbola dunia mungkin masih melihat Maroko sebagai tim semenjana, tim kuda hitam, tim medioker, atau dengan sejumlah sebutan lain yang menggambarkan Maroko bukanlah kekuatan elit dunia.
Tapi empat tahun lalu, paradigma itu mulai bergeser ketika Maroko tiba-tiba melesat sampai semifinal. Mereka sempat menyingkirkan dua raksasa Eropa, Spanyol dan Portugal di fase gugur. Mereka baru terhenti di semifinal oleh Prancis.
Walau begitu, capaian epik tim Singa Atlas itu masih ada saja dianggap sebagai sebuah kejutan dan keajaiban Piala Dunia Qatar 2022.
Empat tahun kemudian, tepatnya di Piala Dunia 2026 yang sedang berjalan, seharusnya pandangan yang merendahkan Maroko itu tak relevan lagi. Bahkan mereka mulai layak dilirik sebagai tim yang bisa melangkah lebih jauh dari sekadar semifinal tahun 2022.
Lihat saja faktanya, Maroko yang sudah berada di perempatfinal Piala Dunia 2026 setelah menumbangkan Kanada 3-0, ternyata belum terkalahkan dalam 34 laga beruntun di level internasional di semua kompetisi. Maroko adalah satu-satunya tim Afrika yang masuk 10 besar rangking FIFA.
Bahkan di babak 32 besar, tim sekelas Belanda pun gentar dan ketakutan melawan Maroko, sampai-sampai memilih bermain bertahan yang jauh melenceng dari gaya main Belanda yang selalu menyerang.
Kini, Maroko tak lagi dipandang sebagai kejutan, tetapi sudah disebut-sebut sebagai salah satu calon kuat juara Piala Dunia.
“Ini bukan kejutan, kami bukan lagi tim kejutan saat ini. Saat orang-orang berbicara tentang Maroko mereka berbicara soal calon juara, negara sepak bola besar dan ini jadi sumber kebanggaan,” kata pelatih Maroko, Mohamed Ouahbi menanggapi hal itu.
Apa kunci melesatnya Maroko ke panggung elit dunia?
Maroko adalah saksi bisu dari transformasi mendalam yang sedang terjadi di lanskap sepak bola internasional. Ada fenomena sosiologis sedang berlangsung di banyak negara yang ramai-ramai memburu pemain diaspora atau naturalisasi.
Maroko berada di garis depan revolusi ini. Bahkan tim elit Eropa pun melakukannya, seperti Jerman, Spanyol, apalagi Prancis yang hanya menyisakan Andras Rabbiot sebagai “putra daerah” asli dalam skuadnya di Pildun tahun ini.
Maroko, hampir seluruh pemainnya lahir di luar negara tersebut. Contohnya saat melawan Brasil di fase grup, Hanya Azzedine Ounahi yang lahir di Casablanca, Maroko. Ini manifestasi nyata dari globalisasi sepak bola yang semakin mengaburkan batas-batas geografis dan mendefinisikan ulang konsep kebangsaan olahraga.
Sukses Maroko menembus semifinal Piala Dunia 2022 di Qatar telah mengejutkan dunia, namun komposisi skuad mereka di tahun 2026 menceritakan kisah yang jauh lebih kompleks. Dari 26 pemain yang dibawa pelatih Mohamed Ouahbi, sebanyak 19 pemain lahir di luar Maroko.
Artinya, hanya tujuh pemain di skuad Maroko saat ini yang lahir di negara tersebut. Angka ini melonjak dari 14 pemain pada edisi 2022. Ini menegaskan strategi rekrutmen diaspora bukanlah solusi sementara, melainkan pilar utama pembangunan Timnas.
Mulai dari sang kapten Achraf Hakimi, adalah salah satu dari enam pemain Maroko yang justru lahir di Spanyol. Selain Hakimiu, ada Brahim Díaz, Chadi Riad, dan pencetak gol ke gawang Brasil, Ismael Saibari yang juga lahir di Negeri Matador.
Enam pemain berasal dari Prancis, yakni Issa Diop, Ayyoub Bouaddi, dan Gessime Yassine. Dari Belanda, diambil tiga pemain penting bagi Maroko, yaitu Sofyan Amrabat, Anass Salah-Eddine, serta bek sayap Manchester United Noussair Mazraoui. Semuanya lahir di Negeri Kincir Angin.
Dua winger muda berbakat, Bilal El Khannouss dan Chemsdine Talbi, lahir di Belgia, begitu juga dengan Zakaria El Ouahdi. Sementara itu, kiper andalan Yassine Bounou lahir di Montreal, Kanada, sebelum kembali ke tanah air orang tuanya di Maroko saat berusia tiga tahun.
Memang ada tudingan negatif bahwa apa yang dilakukan Maroko tak lebih sekadar ‘impor’ pemain dan program instant belaka. Para pemain ini hanya memilih Maroko sebagai “pelarian”, setelah gagal menembus Timnas negara kelahiran mereka yang merupakan tim elit Eropa.
Namun, analisis mendalam menunjukkan realitas yang berbeda. Dari 61 pemain diaspora yang dievaluasi Maroko antara tahun 2017 dan 2026, ternyata lebih dari separuh dari mereka telah memilih untuk mewakili Maroko sejak awal karier internasional mereka.
Hal ini membantah narasi bahwa para pemain ini hanya memilih Maroko setelah gagal menembus Timnas negara kelahiran mereka. Sebaliknya, ini menunjukkan keberhasilan Maroko dalam memobilisasi identitas sepak bola transnasional yang berakar pada sejarah migrasi, keterikatan keluarga, dan keterlibatan proaktif federasi.
Fenomena yang ditunjukkan Maroko, ternyata mampu memberikan validasi empiris bagi program naturalisasi yang juga digalakkan Indonesia melalui PSSI. Sejak dipimpin Erick Thohir, PSSI secara agresif mencari dan menaturalisasi pemain-pemain keturunan Indonesia yang berkarier di luar negeri, terutama di Eropa.
Langkah ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah, termasuk Kementerian Pemuda dan Olahraga serta Kementerian Hukum dan HAM . Nama-nama seperti Maarten Paes, Jay Idzes, Calvin Verdonk, kini menjadi tulang punggung skuad Garuda.
Baru-baru ini, di bawah arahan pelatih John Herdman, PSSI bahkan telah memulai proses naturalisasi untuk pemain-pemain dari Australia seperti Mitchell Baker dan Luke Vickery, menandakan ekspansi pencarian bakat di luar Eropa.
Strategi PSSI memiliki kesamaan fundamental dengan pendekatan Maroko. Keduanya tidak sekadar mencari ‘tentara bayaran’, melainkan menargetkan pemain yang memiliki garis keturunan dan ikatan emosional dengan negara tersebut.
Kehadiran pemain diaspora di Timnas Indonesia telah terbukti meningkatkan kualitas permainan secara instan, sekaligus memberikan efek domino berupa peningkatan standar kompetisi domestik dan motivasi bagi pemain lokal.
Erick Thohir, secara konsisten menegaskan program naturalisasi adalah bagian integral dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan level Timnas Indonesia di Asia dan pada akhirnya menembus putaran final Piala Dunia.
Kesuksesan Maroko membuktikan membangun Timnas yang tangguh melalui optimalisasi potensi diaspora adalah strategi yang sah dan terbukti efektif.
Apakah artinya Indonesia sudah ada di jalan yang benar menuju mimpi Piala Dunia?
















