Trending | News | Daerah | Covid-19

Peristiwa

Kisah Mereka yang Selamat Dari Bencana Palu

Foto : Liputan6.com (AFP/ ADEK BERRY)
Dibaca : 1.3K

Jakarta, Prokabar – Sore itu, matahari akan kembali ke peraduannya. Langit jingga menghiasi Kota Palu. Cantik. Tak salah Kota ini diberi julukan “Surga di Bawah Khatulistiwa”. Pada Jumat (28/9) sore itu, suasana sedang ramai. Ratusan orang berkumpul di bibir pantai Kota Palu. Mereka menunggu pembukaan Festival Palu Nomoni. Rencananya pembukaan yang didisain secara akbar itu dibuka pukul 18.45 WITA. Meriah, Panggung besar yang menghadap laut sudah dihiasi lampu sorot, aneka rupa warna.

Dorothea Suzana, satu dari ratusan orang yang menunggu acara pembukaan. Suzana adalah salah satu tim liputan Calender of Event (CoE) yang ditunjuk oleh Generasi Pesona Indonesia. Dia dan anggota tim lain yang berasal dari berbagai daerah, hadir untuk mengabarkan pada dunia tentang Festival Palu Nomoni.

Jam menunjukkan pukul 18.02 WITA. Tiba-tiba bumi berguncang hebat. Suasana bahagia berubah menjadi kekalutan luar biasa. “Kita gak kayak menginjak tanah, kepental melulu, tidak ada tempat berpegangan, seperti berdiri di pasir,” kenang Suzana.

Tangis, teriakan minta tolong dan kepanikan, menggema di Pantai Talise. Apalagi tiba tiba air laut naik, dan merendam venue Festival Palu Nomoni.

Suzana dan ratusan orang lainnya, panik, satu satunya yang terpikir adalah menyelamatkan diri. Tim CoE terpisah, berpencar menjauhi pantai.

“Saya sempat membantu om Bambang Wijanarko, salah satu Tim CoE, badannya sudah basah kuyup dan berlumpur, dia sempat terjebak di air, beruntung dia bisa selamat,” kata Suzana, yang juga koordinator Genpi Sulawesi Tengah.

Suzana lari menyusuri rumah warga, dari sana dia sempat melihat air mulai membesar. Kakinya melangkah cepat, mencari tempat yang lebih tinggi.

Tsunami bagai hantu mengejarnya. Laut bergemuru, di darat pekik histeris menyatu dalam ketakutan yang luar biasa.

Dan langit kian gelap saja. Tangis kian hebat. Listrik mati. Kota cantik ini remuk sudah.

Malam itu, Palu gelap gulita, tangisan dimana mana. Orang tua mencari anak, kakak mencari adik. Tempat tinggi menjadi pengungsian. Tidak ada yang benar benar tidur nyenyak. Sementara, korban luka tidak tahu akan dilarikan kemana. Rumah sakit seperti tempat penampungan. Korban luka harus dirawat di tempat parkir, dengan peralatan seadanya. Sementara, makin malam korban terus berdatangan.

Palu larut dalam duka. Nyaris terisolir. Komunikasi dengan dunia luar terputus, jaringan GSM apalagi internet benar benar mati. Belum lagi kondisi jalan yang rusak parah. Warga tidak lagi tahu mengadu kemana. Mereka saling menguatkan, saling membantu.

Suzana malam itu menginap di bandara. Tim CoE yang bercerai berai tidak tahu dimana. Sebagai tuan rumah, Suzana punya tanggung jawab, menyelamatkan tim. “Saya berusaha mencari terus informasi di tengah kekalutan,” kata perempuan asal Poso ini.

Di tempat lain, Frea Augustine, yang menjadi penanggung jawab tim. Juga dilanda kepanikan. Ini pertama kali dirinya dalam situasi kekacauan seperti ini. Dia ikut berlarian menyelamatkan diri. Tujuannya adalah hotel tempat dia dan tim menginap. Namun, hotel yang dituju sudah rubuh.

“Barang yang ada hanya tas sama baju yang nempel di badan,” tulis Frea di Instagramnya.

Frea ditengah kondisi ketidakpastian mengungsi di lapangan Makorem. Menunggu bisa berkomunikasi dengan tim Genpi di Jakarta, dan anggota tim lainnya.

Matahari pagi menyinari Kota Palu. Kota indah itu sudah porak poranda, mayat bergelimpangan, terlebih di bibir pantai. Dunia sudah tahu tentang duka Palu. Tapi akses sangat terbatas. Warga bergotong royong mengevakuasi korban selamat dan korban meninggal.

Tim CoE, pagi itu masih bertahan di posisi masing masing. Satu per satu dari mereka sudah bisa berkomunikasi dengan keluarga maupun dengan tim di Jakarta.

 

Mereka yang sudah berhasil berkomunikasi, diarahkan untuk berkumpul di Bandara. Bergabung dengan tim dari Kemenpar yang sedianya membuka acara Festival Palu Nomoni.

Jelang tengah hari, tim CoE bertemu di bandara. Berpelukan dan meluapkan kekalutan. Akhirnya 7 orang Tim CoE dan rombongan dari Kemenpar, dievakuasi ke Makassar menggunakan pesawat Hercules milik TNI. Mereka selamat. Namun trauma masih berputar dalam ingatan mereka.(laf)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top