Ketika Langkah Terhenti di Gerbang Jembatan Kembar

Penulis -

Rabu, 24 Desember 2025 - 18:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

oleh: Januardi, SS, MsI*

BAGI yang sering melintas di jalur Padang Bukittinggi, mungkin sesekali pernah berhenti sejenak di areal Jembatan Kembar Padang Panjang. Menepi untuk sekedar melepas lelah, menikmati secangkir kopi hangat atau semangkuk mie rebus. Sebagian lainnya mungkin singgah untuk menunaikan sholat di mushalla yang cukup bersih di sana.

Berlokasi di Kelurahan Silaing Bawah, areal Jembatan Kembar merupakan wilayah paling ujung barat Kota Padang Panjang yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Tanah Datar. Dilingkupi perbukitan hijau dengan berbagai pepohonan yang membuat lokasi tersebut terlihat indah permai dengan udara yang sejuk.

Di tempat ini berdiri gerbang kota yang megah dan anggun. Pada lokasi yang cukup lapang tersebut juga tersedia mushalla, warung kopi, serta area parkir yang memadai. Dengan kondisi demikian, tak heran kalau areal Jembatan Kembar kerap berfungsi sebagai rest area bagi para pengendara yang melintas.

Sebagai rest area dadakan, lokasi Jembatan Kembar memang sangat menarik. Gerbang Kotanya memiliki arsitektur yang estetik. Didepannya sebuah taman kecil yang tertata rapi. Tak jauh dari gerbang itu terpancang rapi barisan aksara bertuliskan KOTA PADANG PANJANG berukuran besar dengan latar belakang Sungai Batang Anai.

Gerbang dan nama kota itu seakan menjadi landmark, sebagai penanda bahwa para pendatang sudah sampai di kota kecil berhawa sejuk itu. Tak sedikit mereka yang menyempatkan diri berfoto di kedua ikon kota tersebut.

Di balik gerbang arah ke Padang, membentang dua jembatan kokoh yang melintasi Sungai Batang Anai. Publik mengenalnya sebagai Jembatan Kembar, tapi nama resminya adalah Jembatan Margayasa A dan B. Orang Padang Panjang menyebutnya ‘Jambatan Kamba” itu lah asal muasalah areal tersebut akhirnya di sebut Jembatan Kembar.

Di ujung Jembatan Kembar berdiri tapak jembatan kereta api. Jembatan Tinggi, demikian orang biasa menyebutnya. Membentang sepanjang 85 m melintasi Batang Anai pada ketinggian 14,7 m.

Jembatan tinggi itu adalah salah satu karya monumental arsitektur perkeretapian yang telah berumur lebih kurang 135 tahun, Dibangun pada tahun 1890 berdasarkan rancangan Ontwerpert A. Kuntze seorang insinyur dari Pabrik Societe Cockeril di Seiraing-Belgia.

Atas keunggulan arsitektur serta perannya yang luar biasa sebagai infrastruktur transportasi, Jembatan Tinggi tersebut telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya sejak tahun 2007.

Dan saat ini, mengingat Jembatan Tinggi merupakan bagian dari Jalur transportasi Kereta Api Batubara Ombilin, maka ia pun termasuk dalam dari Situs Warisan Dunia Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto yang ditetapkan UNESCO tahun 2019 silam.

Secara geografis, areal jembatan kembar diapit dua sungai, sebelah kanan Batang Anai, sebelah kiri Batang Air Putih, keduanya alirannya menyatu selepas jembatan kembar menuju Samudera Hindia.

Hari ini wajah permai Jembatan Kembar sudah berubah drastis. Para pengendara yang melintas di Jembatan Kembar tak akan lagi bisa mencium aroma kopi hangat yang baru diseduh, atau sedapnya mie rebus pedas racikan pemilik warung. Tak akan lagi terdengar suara adzan yang mendayu dayu dari muazin mushalla kecil di sana. Semua berganti puing, lumpur dan batu yang berserakan.

Gerbang yang anggun itu berdiri muram dan lelah dengan lumpur yang mengotori, ibarat seorang prajurit yang baru pulang dari medan perang. Nun jauh di ujung perbukitan, tanah merah terkelupas menganga. Pemandangan itu menggetarkan hati, betapa luar biasanya bencana hari itu.

Gerbang yang anggun dengan segala keindahan yang terpatri di areal itu selama ini menjadi simbol penyambutan Padang Panjang untuk mereka yang datang memasuki kota itu, Sekarang menjadi monumen Bencana Hidrometerologi di Padang Panjang yang menyisakan duka mendalam.

Longsor dan banjir bandang menjelang siang tanggal 27 November 2025 yang menghantam Jembatan Kembar telah mengubah segalanya. Belasan rumah hilang disapu banjir, puluhan jiwa terenggut dalam bencana dahsyat itu.

Di Gerbang Kota itu terpatri sebait harapan yang berbunyi “ SELAMAT JALAN, SEMOGA SELAMAT SAMPAI TUJUAN”. Namun tak semua harap terkabulkan, beberapa korban langkahnya terhenti di gerbang ini.

*) Penulis adalah Kabid Litbang Bappeda Kota Padang Panjang yang menikmati setiap goresan penanya

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Gebyar Kader PKK di INS Kayutanam, Ny. Vanny Andree Algamar : Ajang Perkuat Silaturahmi dan Tingkatkan Kreatifitas !
Ahmad Fadly, Pria Humble yang Makin Kesini Makin Mengalir
Eka Putra, Sang Petarung yang tak Tumbang oleh Covid 19 dan Galodo
Sisi “Kebapakan” Fadly Amran Dalam Membentuk Karakter Anak
Pilkada Pasaman Diwarnai Nasib Incumbent Di Ujung Tanduk
Pilkada Pasaman Dan Seni Berpolitik Benny Utama – Yusuf Lubis
4 Bulan 4000 Kali Letusan, Ketika Harapan Ribuan Petani Disapu Abu Vulkanik Marapi
Rotasi Kembali Bergulir di Pemda Tanah Datar

Berita Terkait

Rabu, 24 Desember 2025 - 18:30 WIB

Ketika Langkah Terhenti di Gerbang Jembatan Kembar

Rabu, 9 Oktober 2024 - 19:42 WIB

Gebyar Kader PKK di INS Kayutanam, Ny. Vanny Andree Algamar : Ajang Perkuat Silaturahmi dan Tingkatkan Kreatifitas !

Rabu, 2 Oktober 2024 - 23:15 WIB

Ahmad Fadly, Pria Humble yang Makin Kesini Makin Mengalir

Rabu, 25 September 2024 - 12:21 WIB

Eka Putra, Sang Petarung yang tak Tumbang oleh Covid 19 dan Galodo

Minggu, 18 Agustus 2024 - 13:18 WIB

Sisi “Kebapakan” Fadly Amran Dalam Membentuk Karakter Anak

Berita Terbaru