Kegagalan Branding Pariwisata di Sumatera Barat

Penulis -

Selasa, 28 Mei 2024 - 23:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Branding telah menjadi salah satu aspek penting untuk meningkatkan citra pariwisata internasional, nasional dan tak terkecuali regional. Selama ini terdapat berbagai pariwisata daerah di Indonesia yang telah sukses melakukan branding pariwisata yang berdampak terhadap banyaknya kedatangan para wisatawan yang datang dari daerah lain bahkan juga tidak sedikit wisatawan dari mancanegara. Bali yang dianggap sebagai surganya Indonesia telah berhasil menerapkan branding BALI DWE yaitu menunjukkan kearifan lokal Bali seperti elemen kesenangan dalam merek yang dimaknai sebagai “The way to real Bali” (Mastika & Nimran, 2020). Oleh karena itu, Bali menjadi tujuan utama wisatawan mancanegara untuk menikmati keindahan alam di sana. Kemudian Bandung yang banyak dikunjungi wisatawan dari Singapura dan Malaysia karena produk fashion dan tekstilnya yang terkenal murah (Dalimunthe & Nurunnisha, 2017).

Namun, tidak semua wilayah di Indonesia berhasil mengelola branding pariwisata dengan baik. Sumatera Barat adalah salah satu contoh daerah yang menghadapi kegagalan dalam aspek ini. Meskipun memiliki potensi wisata yang besar dengan keindahan alam, kekayaan budaya, dan kuliner khas yang menarik, branding pariwisata Sumatera Barat belum berhasil menarik minat wisatawan secara maksimal. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kegagalan branding pariwisata di Sumatera Barat, antara lain kurangnya strategi branding yang jelas, promosi yang kurang efektif, infrastruktur yang kurang memadai, manajemen dan koordinasi yang lemah, serta kurangnya inovasi dalam produk wisata.

Banyak destinasi di Sumatera Barat belum memiliki strategi branding yang terarah dan konsisten, padahal strategi yang kuat diperlukan untuk membedakan destinasi tersebut dari tempat lain dan menarik perhatian wisatawan. Promosi pariwisata di Sumatera Barat juga belum dilakukan secara maksimal dan efisien, sehingga informasi mengenai destinasi wisata sering kali tidak sampai kepada calon wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Media promosi yang digunakan masih terbatas dan tidak menyasar pasar yang tepat. Infrastruktur yang mendukung pariwisata di Sumatera Barat masih kurang memadai, seperti akses transportasi menuju destinasi wisata, fasilitas umum, serta sarana dan prasarana lainnya yang sering kali tidak memenuhi standar yang diharapkan wisatawan. Pengelolaan destinasi wisata sering kali dilakukan secara terpisah-pisah tanpa adanya koordinasi yang baik antara pemerintah daerah, pelaku industri pariwisata, dan masyarakat setempat, sehingga pengembangan dan promosi pariwisata menjadi kurang optimal.

Destinasi wisata di Sumatera Barat cenderung menawarkan produk wisata yang monoton dan tidak inovatif, padahal wisatawan membutuhkan pengalaman yang unik dan berbeda dari tempat lain. Untuk meningkatkan branding pariwisata di Sumatera Barat, diperlukan langkah-langkah strategis yang meliputi pengembangan strategi branding yang komprehensif dengan fokus pada keunggulan dan kekhasan Sumatera Barat, seperti kekayaan budaya Minangkabau dan keindahan alamnya; peningkatan promosi pariwisata dengan memanfaatkan berbagai media promosi, termasuk digital marketing, untuk menjangkau pasar yang lebih luas; peningkatan infrastruktur yang mendukung pariwisata, termasuk akses transportasi, akomodasi, dan fasilitas umum lainnya; penguatan manajemen dan koordinasi dengan membentuk badan atau lembaga khusus yang bertanggung jawab atas pengelolaan dan promosi pariwisata; serta inovasi dalam pengembangan produk wisata yang kreatif dan inovatif untuk menarik minat wisatawan. Oleh karena itu, langkah-langkah terseut diharapkan Sumatera Barat dapat memperbaiki branding pariwisatanya dan menarik lebih banyak wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Keberhasilan dalam branding pariwisata akan memberikan dampak positif yang signifikan terhadap perekonomian daerah dan kesejahteraan masyarakat setempat.

 

Dalimunthe, G. P., & Nurunnisha, G. A. (2017). Komunitas Aleut and History-based Tourism in City Branding: the Case of Bandung, West Java, Indonesia. Rev. Integr. Bus. Econ. Research, 6(1), 264–275.

Mastika, I. K., & Nimran, U. (2020). Destination branding model of an ecological tourism village in Bali, Indonesia. Geojournal of Tourism and Geosites , 31(3), 1068–1074. https://doi.org/10.30892/gtg.31319-542

Fadhlil Wafi
Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi UNAND

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi
Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur
IKHLAS itu MUDAH
Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional
Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak
Munajat Cinta di Sepenggal Tanah Surga
Muktamar NU ke-35, Menentukan Arah Khidmah NU dan Masa Depan Umat
Di Tanah Kelahiran, Harapan Kami Menggantung di Ujung Pena Regulasi

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 11:11 WIB

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi

Selasa, 29 September 2026 - 10:10 WIB

Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur

Minggu, 13 September 2026 - 05:44 WIB

IKHLAS itu MUDAH

Rabu, 2 September 2026 - 13:57 WIB

Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional

Senin, 31 Agustus 2026 - 15:36 WIB

Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB