Jakarta, Prokabar – Kebakaran hutan dan lahan (karthula) masih terjadi hingga pekan kelima September 2019. Data BNPB mencatat luas lahan terdampak karhutla mencapai 857.756 ha dari Januari hingga September 2019.
Enam provinsi yang menjadi prioritas penanganan BNPB masih mengindikasikan terjadinya karhutla, dilihat dari beberapa indikator seperti kualitas udara dan titik panas atau hot spot.
Ditinjau dari kualitas udara yang diukur dengan PM 2,5 dan bersumber dari KLHK dalam 24 jam terakhir menunjukkan kualitas udara pada kategori baik hingga tidak sehat.
Data kualitas udara di Kalimantan Barat (Kalbar), Kalimantan Tengah (Kalteng), Kalimantan Selatan (Kalsel), dan Jambi menunjukkan kategori sedang, di wilayah Sumatera Selatan tidak sehat dan Riau baik.
Jumlah titik panas dengan tingkat kepercayaan lebih dari 30% melalui citra satelit modis-catalog Lapan pada 24 jam terakhir menunjukkan 148 titik, dengan distribusi di Sumsel 48 titik, Kalsel 58, Kalteng 30, Jambi 7, Kalbar 5 dan Riau tidak terpantau titik panas.
Di samping karhutla di enam provinsi prioritas tadi, karhutla juga terjadi di beberapa wilayah di seluruh Indonesia. Untuk Pulau Jawa, karhutla terjadi di lahan mineral atau di kawasan gunung. BNPB memantau karhutla yang masih terjadi di Gunung Ungaran, Cikuray, Sumbing, Arjuno, Ringgit dan Rinjani.
BNPB juga mencatat beberapa laporan karhutla khususnya di Pulau Jawa, sebagai berikut:
Bandung, Bandung Barat, Banjarnegara, Banyuwangi, Blitar, Bogor, Bojonegoro, Bondowoso, Brebes, Cirebon, Garut, Grobogan, Jember, Jepara, Jombang, Karanganyar, Kediri, Kendal, Kota Batu, Kota Malang, Kota Semarang, Kota Surakarta, Kota Tegal, Kudus, Kuningan, Lumajang, Madiun, Magelang, Magetan, Majalengka, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Pangandaran, Pasuruan, Pekalongan, Ponorogo, Probolinggo, Purbalingga, Purwakarta, Purworejo, Semarang, Sidoarjo, Situbondo, Sragen, Sukabumi, Sukoharjo, Sumedang, Sumenep, Tegal, Temanggung, Trenggalek, Tuban, Wonosobo, dan Wonogiri.(rls/eym)
















