Oleh : Febby Dt Bangso
Karih Curak Simandang Giri atau yang lebih terkenal dengan julukan Karih Sikatimuno, mempunyai riwayat, bahwa, ketika Sang Sapurba urang semenda (Sumando) yang berhasil membunuh Ular Naga yang bernama Sikati Muno, adalah suami adiknya Suri Dirajo yang bernama Indo Jalito. Beliau Diangkat sebagai raja dan diberi Gelar Sri Maharajo Dirajo.
Tetapi yang memegang kendali kuasa pemerintahan tetap Suri Dirajo sebagai orang tua, sedangkan Sang Sapurba hanya sebagai lambang saja. Untuk raja dengan permaisurinya dibuatkan istana “Balairung Panjang” tempatnya memerintah.
Istana ini konon kabarnya terbuat dari tonggaknya tareh jilatang, parannya akar lundang, disana terdapat Tabuah dari batang puluik-puluik dan gendangnya dari batang selaguri, getangnya jangek tumo, mempunyai cenang dan gung, tikar daun hilalang dsb.
Karena Pariangan makin lama makin ramai juga, akhirnya Sang Sapurba pindah ke tempat yang baru di Batu Gadang.
Seorang orang jahat yang datang dari negeri seberang tiba pula di daerah itu. Karena tubuhnya yang besar dan tinggi bagai raksasa ia digelari orang naga “Sikati Muno” yang keluar dari kawah Gunung Merapi.
Rakyat sangat takut kepadanya dan didongengkan mereka, bahwa orang itu berwujud naga, dan naga itu tubuhnya besar dan panjangnya ada 60 depa dan kulitnya keras. Ia membawa bencana besar yang tidak terperikan lagi oleh penduduk. Kerjanya merampok dan telah merusak kampung-kampung dan dusun-dusun. Padi dan sawah diladang habis dibinasakannya. Orang telah banyak yang dibunuhnya, laki-laki, perempuan dan gadis-gadis dikorbankannya.
Keempat penghulu dari Pariangan Padang Panjang diutus Suri Dirajo menghadap Sang Sapurba di Batu Gadang tentang kekacauan yang ditimbulkan oleh Sikati Muno.
Untuk menjaga prestisenya sebagai seorang sumando, Sang Sapurba lalu pergi memerangi Sikati Muno. Pertarungan hebat pun terjadi berhari-hari lamanya.
Pedang Sang Sapurba sumbing-sumbing sebanyak seratus sembilan puluh. Akhirnya naga Sikati Muno itu mati dibunuh oleh Sang Sapurba dengan sebilah keris yang bernama Curak Simandang Giri.
Karena peristiwa itu, akhirnya keris Curak Simandang Giri lebih dikenal dengan julukan “Karih (Keris) Sikati Muno”. Keris bertuah, tak diujung pangkal mengena, jejak ditikam mati juga.
Dalam perjalanan sejarah, karena ada peristiwa Sang Sapurba membunuh Ular Naga yang bernama Sikati Muno, akhirnya Keris Curak Simandang Giri lebih dikenal dengan julukan Keris Sikati Muno.
Keris Curak Simandang Giri dengan julukan Keris Sikati Muno sekarang masih tersimpan dan terpelihara dengan baik secara fisik di Istana Basa Pagaruyuang.
Penulis : Febby Dt Bangso
Editor : Nofal Wiska
















