Trending | News | Daerah | Covid-19

Opini

Jurnalisme Hoax, Jurnalisme Makna Dan Kesejahteraan Jurnalis (02)

Dibaca : 181

Oleh : Rudi Yudistira (Wartawan Muda)

 

“Hai orang-orang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpa musibah suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatan itu,” (Dalam agama Islam, Kitab suci Al-Quran, Surat Al-Hujarat ayat 6 menerangkan).

Berita hoak menjadi pembahasan hangat hingga saat ini. Berita hoak telah berkembang pesat di media sosial dan internet. Sejumlah pihak termasuk Kepolisian RI secara serentak di seluruh daerah melalui Polres setempat, mesosialisasikan tolak berita hoak yang didukung Forkopinda (Forum Komunikasi Pimpinan Daerah). Bahkan mantan wartawan senior Kompas, Yurnaldi Paduka Raja melahirkan Karya terbarunya berupa buku Kritik Presiden dan Jurnalisme Hoax, Februari 2018 ini. Salah satu bentuk kepedulian dan keprihatinannya terhadap pekerja jurnalistik saat ini turut menyumbang menyebarkan berita hoak. Buku tersebut secara terang benderang menjelaskan kondisi mengkuatirkan terhadap wartawan yang tidak lagi berkualitas dan bermartabat.

Dewan Pers gencar melakukan verifikasi media (Perusahaan Pers) serta peningkatan kompetensi wartawan yang bertugas dilapangan. Bertujuan Perusahaan Pers bersama Wartawannya, dapat bekerja secara Profesional, bekerja berdasarkan Kode Etik Jurnalistik dan Undang-undang Nomor 40 tahun tahun 1999 tentang Pers. Perusahaan pers berkewajiban memenuhi kewajibannya dan memenuhi hak-hak wartawannya, seperti dari kesejahteraan, standar kompetisi dan standar opersional perusahaan.

Maraknya berita Hoax, karena wartawan sudah salah kaprah memaknai kemerdekaan pers. Karena ada kepentingan dan partisan, berita yang diturunkan tidak berimbang, tidak konfirmasi. Sikap dan praktik jurnalisme hoax ini juga ditenggarai karena pers yang tidak sehat. Wartawan tidak digaji menurut semestinya, sehingga berita sesuai pesanan, sesuai keinginan narasumber, dengan imbalan sejumlah uang (amplop). Ada duit, ada berita. Setidaknya, begitulah prinsip yang menyebabkan semakin banyaknya berita hoax tutur Yurnaldi.

Dan tidak heran pula entah sudah berapa banyak wartawan yang ditemui dilapangan, dengan hanya modal kartu pers dicetak sendiri dengan nilai tidak lebih dari 50 ribu rupiah. Mengaku wartawan, tapi tidak memiliki media, atau hanya mau menerima amplop saja. Hal tersebut membuat miris kondisi Jurnalistik saat ini. Padahal, wartawan profesional selain memberitakan berdasarkan data dan narasumber yang berkompeten dibidangnya, cek dan ricek atau cover both sides dilengkapi cover all sides atau balance comment wajib dilakukan agar tidak terjadi kekeliruan menyampaikan informasi kepada publik Lanjut Yurnaldi.

Menurut Bill Kovach dan Tom Rosentiel dalam bukunya Sembilan elemen jurnalisme yaitu 1. Kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran, 2. Loyalitas utama jurnalisme adalah kepada warga, 3. Intisari jurnalisme adalah disiplin verivikasi, 4. Para praktisisnya harus menjaga independensi terhadap sumber berita, 5. Jurnalisme harus berlaku sebagai pemantau kekuasaan, 6. Jurnalisme harus menyediakan forum publik untuk kritik maupun dukungan warga, 7. Jurnalisme harus berupaya membuat hal penting, menarik dan relevan, 8. Jurnalisme harus menjaga agar berita komperhensif dan proporsional, Dan 9.  Para praktisinya diperbolehkan mengikuti nurani mereka.

Dalam Sembilan elemen diatas terlihat bagaimana kiprah jurnalistik dalam menyajikan sebuah informasi yang ditujukan pada warga. Betapa sebuah berita itu harus berimbang, itu dalam tataran teori yang dipelajari, namun di luar dalam tataran nyata seorang journalist cenderung mempunyai keberpihakankeberpihakan tertentu akan sebuah masalah, kadang ada yang berkilah keadilan itu milik Tuhan, saya manusia hanya bisa mengupayakannya, seperti itu ungkap Bill Kovach.

Menurut Jacob Oetama, Jurnalis dan Pendiri Kompas Group, misi pokok dari para jurnalis adalah untuk mendidik dan mencerahkan hati nurani anak bangsa. Dan gaya jurnalisme-nya yang khas itu disebut dengan Jurnalisme Makna.

Pada Akhirnya, kekuatan dan kelemahan seseorang wartawan terletak pada jam terbang ataupun pada goncangan serta kuatnya badai yang dihadapi. Ini akan membentuk watak, karakter serta mentalitas sang wartawan. Setelah rekrutmen, standar kompetensi wartawan akan menjalar ke kesejahteraan wartawan. Ini penting karena menyangkut kenyamanan dalam bekerja. Misalnya, sudah profesional dalam bekerja tapi perusahaan tidak memberikan kenyamanan dalam hal kesejahteraan. Seorang profesional tentunya akan berpikir ulang: apakah ada masa depan disini? Kata Wiztrian Yoetri dalam Bukunya “Catatan Ringan Sekitar Pers,” terbitan Agustus 2017. (rud)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top