oleh Rizal Marajo (Wartawan Utama)
Jika ada tim yang paling menarik perhatian keikutsertaannya di Piala Dunia 2026, itu bukan Brasil yang pemegang lima gelar juara Piala Dunia. Bukan Pula juara bertahan Argentina dengan Lionel Messi-nya. Jangan sebut Prancis, dengan skuadnya yang bernilai Rp137 Triliun. Atau, Spanyol yang disebut-sebut sebagai calon terkuat Juara Piala Dunia 2026.
Tim yang paling menyita perhatian dunia itu adalah Iran. Ya, wakil Asia keturunan bangsa Persia. Sejarah mencatat, mereka adalah bangsa petarung, cerdas, dan tak kenal takut yang pernah menguasai separoh bumi ini.
Kini, ditengah konflik geopolitik dan kecamuk perang dengan Amerika Serikat di Timur Tengah, 26 pemuda terbaik Iran dengan darah Persia-nya, datang ke tanah Amerika yang jadi musuh mereka untuk bertarung, menjaga harkat dan martabat negara mereka di ajang bernama Piala Dunia 2026.
AS sebagai tuan rumah, walau dalam konteks olahraga dan sepakbola tetap memandang Iran sebagai musuh yang harus ditekan, diteror, dan dilemahkan dengan perlakuan yang sangat diskriminatif dan memalukan.
Berbagai usaha terselubung dan propaganda telah dilakukan AS demi menghambat Iran meneruskan partisipasinya di Piala Dunia 2026. Tujuannya satu, bagaimana agar Iran yang sudah berdarah-darah meraih tiket ke Piala Dunia tidak datang ke Amerika dan membatalkan keikutsertaannya.
Salah satunya melobi FIFA agar mencoret Iran dan menggantinya dengan negara lain. Terserah apapun caranya dan jalannya, yang penting “si bengal” dari Teluk Persia itu harus diganti dengan negara lain.
Tapi sayangnya FIFA tak punya dalil dan fasal di kitab besar mereka untuk mengeliminasi Iran. Sempat bergulir rencana FIFA membuat laga play off khusus untuk mencari pengganti Iran. Bahkan FIFA sempat terpengaruh dengan usulan AS agar mengganti Iran dengan Italia. Untungnya Italia paham arti harga diri, menolak mentah-mentah wacana gila AS itu.
Iran sendiri tetap kukuh dan teguh dengan pendiriannya, akan tetap ikut Piala Dunia ditengah konflik dan perang politi negaranya dengan negara yang jadi tuan rumah. Mereka siap datang ke sarang musuh, tanpa keraguan sedikitpun.
Bahkan mereka tak akan gentar sedikitpun kalaupun harus bertanding di kota-kota utama Amerika seperti Los Angeles ataupun Seattle. Mereka tetap datang dengan kepala tegak ke tempat yang tak bedanya dengan sarang harimau.
Tapi AS tak pernah berhenti menebar tekanan dan teror. Kedatangan tim Iran di Bandara Los Angeles langsung disambut unjuk rasa dan pengawalan super ketat, seolah yang datang adalah rombongan pembuat onar.
Belum cukup, proses di imigrasi untuk tim Iran juga dipersulit. Bahkan ada pemain Iran yang diinterogasi sampai tujuh jam, dan sejumlah kebijakan aneh yang sengaja dibuat dan dilakukan untuk mempersulit tim Iran, sekaligus sebagai tekanan dan teror secara halus.
Tak hanya itu, tim Iran yang seharusnya selama Piala Dunia bermarkas di California “dipaksa” mengungsi ke kota Tijuana di Meksiko. Tapi Iran dengan dingin menuruti, tapi di dalam hati mereka tersimpan sebuah tekad membara, bahwa mereka telah siap berperang di tanah Amerika, apapun kondisinya.
Tapi kondisi sulit dan diskriminatif yang dialami Iran, telah membuat gelombang simpati berdatangan dari berbagai penjuru dunia. Dunia seakan menyayangi tim yang satu ini, dengan berbagai ucapan simpati dan rasa kagum dengan keteguhan hati mereka ditengah situasi yang sengaja diciptakan untuk menghancurkan mereka.
Bahkan di Meksiko tempat mereka mengungsi, mereka begitu dihormati dan dihargai. Bahkan ada kartel Meksiko yang siap memberikan perlindungan sempurna selama tim Iran ada di wilayah mereka.
Iran pun menjalani laga pertamanya melawan Selandia Baru, Selasa pagi di Stadion paling dibanggakan Amerika, Stadion Sofi yang sangat futuristik di Los Angeles. Tuan rumah kembali melancarkan teror untuk menghambat agar Iran tampil tak maksimal dan tertekan.
Melalui berbagi keputusan wasit dan menaikan harga tiket secara tak masuk akal, agar laga sepi penonton, itulah yang dilakukan AS. Termasuk ketika lagu kebangsaan Iran diperdengarkan, ada yang menyambut dengan sorakan dan siulan.
Bahkan Presiden Amerika Donald Trump merasa perlu untuk berkomenta jelang pertandingan itu. Secara terang-terangan Trump menyebut kalau Iran sempat menang, itu akan sangat mengkhawatirkan. Benar-benar situasi poltik kedua negara telah merasuki laga Iran ini.
Tapi, disinilah Iran membuktikan mental hebat ala bangsa Persia yang mengaliri darah mereka. Tak kenal takut, tak runtuh oleh tekanan di lapangan. Dua kali tertinggal oleh Selandia Baru, tapi tak membuat semangat Mehdi Taremi dan kawan-kawan melemah. Justru mereka makin menggila, seolah siap mati di lapangan.
Ketika Mohammad Mohebi menyamakan skor 2-2 pada menit ke-64, lhatlah selebrasinya. Dia spontan memperlihatkan dan memegang otot pangkal lengannya. Dia seolah memberitahu, bahwa semangat, perjuangan, dan tekad mereka tak akan bisa dihancurkan, walau dengan kondisi sesulit apapun.
Tapi pihak yang sentimen menganggap selebrasi itu berbau provokasi, karea dinilai membuat simbol senjata yang diarahkan ke tanah dan kemudian mengacungkannya ke udara. Inilah yang membuat pengamat dan jagat sosmed Amerika meminta FIFA menyelidiki selebrasi yang dinilai sensitif itu.
Begitu juga selebrasi Ramin Rezaeian yang mencetak gol pertama Iran untuk menyamakan skor jadi 1-1. Ramin tidak merayakan dengan emosional, tapi mengambangkan tangan dan kemudian berpangku tangan santai dan tenang. Tidak lupa senyum yang terukir tanpa beban. Ramin seakan ingin mengatakan, apa yang mereka alami di Amerika bukanlah apa-apa.
Well, apapun itu, hasil 2-2 yang mereka dapatkan melalui perjuangan luar biasa membuktikan Iran memang telah siap segalanya mengharungi Piala Dunia 2026 dengan segala konsekwensi yang mereka hadapi. Termasuk ketika mereka langsung dipaksa pulang ke Tijuana seusai laga.
Iran telah mengajarkan, bahwa sepakbola itu tak hanya soal kalah atau menang, tapi juga soal ketabahan, kebulatan tekad, perjuangan, dan bagaimana bertahan ditengah gelombang yang sengaja dikirim untuk menghancurkan mereka. Sangat pas dengan julukan “Team Melli” yang mereka sandang.
Melli yang dalam bahasa Persia berarti nasional, benar-benar dijaga oleh 26 pemuda terplih Iran untuk bertarung di lapangan hijau. Tak peduli apapun hasil yang mereka dapatkan di laga-laga berikutnya, tapi perjuangan tim Iran di Tanah Amerika telah membuat dunia menyayangi mereka.(*)
















