Ekonomi

Investasi Triliunan Rupiah Siap Mengalir ke KEK Palu, Ini Dia Para Investor

Jakarta, Prokabar — Rangkaian bencana alam yang menimpa Palu di Sulawesi Tengah rupanya tidak hanya mendatangkan sengsara. Ada pula manfaat yang bisa dipetik, misalnya oleh Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Palu. Setelah bencana, justru banyak calon investor yang datang ke KEK Palu.

”Setelah gempa bumi, tsunami dan likuifaksi yang mendera Palu, seluruh dunia tahu Palu. Banyak tenant yang datang ingin berinvestasi di KEK Palu,” kata Komisaris Utama PT Bangun Palu Sulawesi Tengah (BPST), Iwan Yunus, dilansir Sabtu (24/8).

BPST ditetapkan Pemerintah Kota Palu sebagai Badan Usaha Pembangun dan Pengelola KEK Palu.

Iwan Yunus menjelaskan, banyaknya investor yang tertarik menanamkan modal di KEK Palu pasca terjadinya bencana sungguh di luar perkiraan.

”Setelah bencana alam itu ternyata banyak sekali investor yang tertarik. Kami tanya kenapa. Pertama, mereka baru tahu Palu itu di mana. Begitu mereka melihat Palu, ternyata berada di pusat Indoensia. Dekat dengan ALKI II yang setiap tahun ada 10.000 vessel (kapal) yang lewat di situ,” tutur Iwan Yunus.

KEK Palu juga didukung keberadaan Pelabuhan Pantoloan yang merupakan salah satu pelabuhan alam terbaik di dunia, dengan kedalaman sekarang ini 18 meter tanpa pengerukan. Sehingga mother vessel dengan kapasitas di atas 50.000 MT pun bisa sandar.

”Salah satu investor yang datang setelah gempa Palu itu adalah Hashimoto. Mereka bilang, kami ini dari Jepang yang merupakan negara bencana. Jadi tahu bahwa tidak akan ada bencana yang sama pada titik yang sama dalam kurun waktu cepat. Minimal 50 tahun baru terjadi lagi. Itu pun titiknya akan bergeser tidak di situ lagi,” kata Iwan Yunus.

Dia yakin KEK Palu ini cukup aman karena berada di sebelah timur teluk. Jarak antara teluk itu 9,5 kilometer. ”Tidak mungkin hempasan ombak besar datang dari teluk, tapi dari laut lepas. Sehingga KEK Palu ini relative aman,” sambungnya.

Hingga saat ini, kata Iwan Yunus, ada beberapa perusahaan dengan nilai investasi cukup besar yang sudah dalam proses konstruksi di KEK Palu. Salah satunya adalah PT Wanhong yang berinvestasi Rp 800 miliar untuk membangun pabrik pengolahan tembaga.

”Wanhong ini produksinya akan diekspor ke China. Karena memang perusahaan asal China. Mereka pilih Palu karena lokasinya strategis. Secara geografis dekat dengan China,” kata Iwan Yunus.

Ada juga PT Indomangan Industri yang membangun smelter mangan dengan nilai investasi sebesar Rp 1,2 triliun. Perusahaan ini merupakan joint venture antara Inggris dan Indonesia. Perusahaan ini akan mendatangkan bahan baku dari tambang batu mangan di Nusa Tenggara Timur dan Kalimantan Barat untuk diolah di pabrik yang sedang dibangun di KEK Palu. Targetnya, pabrik itu bisa beroperasi tahun 2020.

Selain itu terdapat beberapa investor yang sedang melaksanakan konstruksi diantaranya adalah PT Alfa Industri Mandiri yang akan membangun Pabrik Pengolahan Karbon Aktif, Coco Feat, dan Coco Fiber yang berbahan baku kelapa. PT Sarana Dwima Jaya yang akan membangun pabrik baja ringan dengan nilai investasi sebesar Rp 10 Miliar. Serta ada PT Sulawesi Global Komoditi yang bergerak dibidang pengolahan kakao dan gudang pengeringan dengan nilai investasi Rp 510 juta.

PT. Sula Kor Energi yang akan membangun pembangkit listrik 33 MW senilai Rp 1,5 triliun. dan PT Hashimoto yang akan membangun industri wood pelet dengan nilai investasi Rp 2,4 triliun.

Sedangkan investor yang sudah produksi di KEK Palu adalah PT Asbuton Jaya Abadi yang bergerak di bidang perdagangan besar bahan bakar padat, cair dan gas dengan nilai investasi Rp 100 miliar. PT Hong Thai International yang bergerak di bisnis pengolahan getah pinus dengan nilai investasi Rp 13,7 miliar dan telah melakukan ekspor sejak akhir 2018. Nilai ekspor pada tahun 2019 adalah sebesar USD 2.1 juta untuk Gumrosin dan USD 3.3 juta untuk Turpentin.

PT. Kaili Rotan Industri yang bergerak di pengolahan barang jadi maupun setengah jadi dari bahan rotan, bambu dan kayu dengan investasi Rp 25,5 miliar. Dan PT. Tata Kokoh Abadi yang memproduksi batu bata dari tanah liat/keramik, perdagangan besar genteng, batu bata, ubin dan sejenisnya dari tanah liat, kapur semen atau kaca dengan nilai investasi Rp 20 miliar.

”Kami bersyukur calon investor terus berdatangan ke KEK Palu. Wilayah kami memang relatif aman dari bencana. Pada saat bencana alam tahun lalu itu hanya kantor pengelola KEK saja yang rusak. Semua pabrik milik investor tidak rusak,” katanya.

Sementara itu, KEK Pariwisata Tanjung Lesung di Kabupaten Pandeglang, Banten terus berbenah pasca bencana tsunami tahun lalu. Fasilitas yang mengalami kerusakan pasca tsunami adalah Beach Club, Tanjung Lesung Beach Hotel, komplek Villa Kalicaa dan Golf Course. Total kerugian mencapai Rp 150 miliar.

”Kami perbaiki fasilitas-fasilitas yang rusak itu,” kata Poernomo Siswoprasetijo, Direktur Utama PT. Banten West Java. Pihaknya juga bersama BNPB dan BMKG melakukan mitigasi bencana. Misalnya dengan mengembangkan berbagai peralatan dan radar untuk deteksi dini tsunami.

”Bagaimana kami juga mengamankan pengunjung dan investor, misalnya dengan pengembangan shelter atau tempat berkumpul wisatawan ketika ada peringatan dini tsunami. Sehingga memberikan keamanan dan kenyamanan kepada para pengunjung,” kata Poernomo. (*/hdp)

Berani Komen Itu Baik
Loading...
To Top