Pendidikan

Ini Tanggapan Mendikbud Terkait Sekolah yang Diliburkan Akibat Kabut Asap

Jakarta, Prokabar — Akibat asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sebagian wilayah Sumatera dan Kalimantan, para siswa diliburkan. Liburnya bervariasi dari masing-masing daerah, ada yang sudah sembilan hari, ada yang baru tiga hari, tergantung tingkat keparahan dari kabut asap tersebut.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan, kalau memang sekolah diliburkan bukan berarti anak-anak tidak belajar, kegiatan belajar tetap berjalan dengan proses dari rumah dengan dipantau oleh guru dan orang tua. “Jadi Kepala Sekolah dan Guru tetap kerja memantau kegiatan belajar anak-anak di rumah bekerjasama dengan orang tua,” kata Muhadjir dilansir Prokabar, Rabu (18/9).

Disebutkan, pemantauan tersebut bisa menggunakan teknologi yang dimiliki, misalnya ada yang melalui WA Group. “Saya lihat malah ada hikmahnya, orang tua dengan sekolah menjadi sangat dekat,” tuturnya.

Namun demikian, ada juga orang tua yang keberatan,  mereka minta tetap anaknya sekolah, karena ketika tidak sekolah sulit dikendalikan, ada yang main di luar. “Saya minta untuk diyakinkan kepada keluarganya, libur itu lebih baik daripada sekolah saat ada kabut asap tersebut,” ujarnya.

Kalau kabut asap tersebut terjadi terlalu lama, pihaknya akan mengadakan rapat kemungkinan untuk membangun atau menyiapkan namanya ruang belajar bebas asap. Kemendikbud sudah bekerjasama dengan ITB sebetulnya, sudah melakukan sejak tahun 2015 untuk mengatasi asap pada tahun 2015. Kemudian itu tidak digunakan karena 2016-2018 itu aman.

“Kalau situasi nanti semakin parah, tidak mungkin kita membiarkan anak-anak terus tidak masuk sekolah, maka nanti kita akan minta sekolah-sekolah merancang ruang-ruang belajar bebas asap,” kata Mendikbud.

Menurutnya, teknologinya sederhana dan murah, dan tidak memerlukan waktu lama, hanya dua atau tiga hari selesai untuk dibangun di setiap sekolah. “Tapi kita lihat sampai seberapa lama kondisi kabut asap tersebut, kalau hanya satu minggu, saya kira tidak perlu, tapi kalau sampai satu bulan harus kita bangun,” paparnya.

Teknologinya sederhana, di jendela sekolah dipasangi saringan untuk partikel, kemudian diberikan pelembab, di dalam harus ada kipas angin untuk sirkulasi udara, kemudian ada eksos untuk menghisap udara keluar, sehingga secara otomatis udara dari luar akan masuk dan lewat pintu yang sudah diberi penyaring.

Kemudian di dalam disarankan ada aquarium untuk menjaga kelembaban sama untuk menjaga agar pergantian produksi 02 itu bisa bekerja dengan baik. Kemudian ada tanaman-tanaman interior yang bisa memproduksi O2, bisa ditaruh di ruang-runag. “Terutama yang kita prioritaskan adalah SMK, karena  yang praktek tidak mungkin di rumah,” ungkapnya. (*/hdp

Berani Komen Itu Baik

Loading...
To Top