Opini

Hoax, Hipersemiotika dan Jurnalisme Makna (01)


“Rudi Yudistira (Wartawan Muda)”

Oleh : 
Rudi Yudistira (Wartawan Muda)

Sejarah singkat istilah “Hoax”
Banyak catatan dan beragam sejarah menjelasan tentang berita “Hoax” yang beredar di media sosial dan media masa saat ini. Bahkan pihak Kepolisian baru-baru ini gencar mensosialisasikan himbauan melalui media sosial untuk anti dan menolak berita Hoax. Hoax (baca Hoks) adalah sebuah tipuan dan kebohongan yang menyamar sebagai kebenaran. Istilah ini populer di internet dan media sosial karena peredaran hoax lebih mudah berkembang di internet dan media sosial.

Kata hoax lahir dari kata “hocus pocus” asal kata bahasa latin “hoc est corpus” yang artinya “ini adalah tubuh”. Kata-kata itu digunakan penyihir untuk mengklaim kebenaran, padahal itu dusta. Hocus digunakan untuk menipu yang digunakan untuk sihir atau mantra para penyihir dan pesulap jaman dahulu. Kata “hoax” sendiri didefinisikan sebagai tipuan berasal dari Thomas Ady dalam bukunya candle in the dark (tahun 1656) atau risalah sifat sihir dan penyihir.

Menurut Lynda Walsh dalam buku berjudul Sins Against Science, istilah hoax atau kabar bohong, merupakan istilah dalam bahasa Inggris yang masuk sejak era industri. Diperkirakan pertama kali muncul pada 1808. Istilah hoax biasa digunakan untuk berita palsu, legenda urban, rumor, dan kebohongan yang menipu. Pada dasarnya hoax diciptakan untuk menipu banyak orang dengan cara merekayasa sebuah berita agar terkesan menjadi sebuah kebenaran.

Istilah Hoax mulai populer sejak film drama Amerika yang dibintangi oleh Richard Gere “The Hoax”. Film itu dirilis tahun 2006 yang disutradarai oleh Lasse Hallstrom, penulis skenario William Wheeler yang berdasarkan dari novel dengan judul yang sama karya Clifford Irving (1981). Dalam film “The Hoax”, Irving ikut membantu sebagai penasihat teknis, namun ternyata hasil skenario film sangat jauh berbeda dengan isi novel aslinya.

Banyak kejadian yang diuraikan Irving dalam bukunya telah diubah atau dihilangkan dari film. Dengan alasan tidak suka dengan skenarionya yang melenceng jauh dari novel aslinya, Irving memutuskan mengundurkan diri dan tidak mau terlibat dalam pembuatan film itu dan meminta namanya dihapus dari kredit film tersebut.

Sejak saat itu film “The Hoax” dianggap sebagai film yang banyak mengandung kebohongan. Istilah hoax mulai populer digunakan dikalangan netizen berasal dari film tersebut untuk menggambarkan sebuah kebohongan. Seiring berjalannnya waktu, kata “hoax” mulai gencar digunakan netizen diseluruh dunia termasuk Indonesia untuk menyebut sebuah kebohongan.

Teori Hipersemiotika dan Hoax

Hipersemiotika sering disebut juga Hiperealitas yakni sebuah teori yang sering digunakan akademisi terkait sub-ilmu kesusastraan, lingusitik dan ilmu komunikasi, kelanjutan dari teori semiotika yakni ilmu tentang tanda-tanda dusta. M. Yunis, salah seorang akademisi Fakultas Ilmu Budaya Unand menjelaskan, hipersemiotik merupakan ilmu di luar batas realitas, yang mana realita yang digambarkan Hiper ini telah direalisasikan sejak zaman dahulu hingga zaman sekarang.

“Kata hiper berarti berlebih-lebihan dan diluar kaidah-kaidah yang ideal. Namun begitu, hipersemiotik tetap berangkat dan berasal dari pengembangan semiotik itu sendiri. Eko dalam Piliang (2003) mengatakan bahwa semiotika itu sendiri sesungguhnya teori untuk berdusta, yang mana di saat semiotika itu diterapkan akan menemukan dan mempraktekan dua tujuan sekaligus yaitu kejujuran dan dan kebohongan. Tepatnya semiotika itu adalah teori untuk berdusta, menipu dan membohongi siapa saja, teori dusta ini disebut Piliang dengan Hipersemiotik, ketika semiotika itu telah ditafsirkan melebihi idealnya dan melewati batas-batas terhadap apa yang telah digambarkan Ferdinan De Sausure (Bapaknya Lingustik) tentang semiotika dan relasi-relasi yang membangun kelahiran semiotika” kata Yunis.

Teori Hipersemiotika atau Hiperealitas melalui tanda-tanda dustanya (simbol, ikon, lambang atau indeks), baik secara sadar dan tidak sadar, telah digunakan sekelompok manusia untuk kepentingan bisnis Industri Kapitalis dan Liberal. Contoh seperti berita atau pesan maupun iklan-iklan di televisi, koran, majalah serta di media sosial atau situs internet sekaligus. Kebanyakan berita maupun iklan yang diciptakan, sering menggambarkan sebuah prodak serba “wah” dan sensasional secara berlebih-lebihan. Karya teknologi dokumentasi dan informasi tersebut melalui ciptaan dari seorang penulis atau editor foto dan video. Menggiring sebuah imajinasi, kayalan, mimpi, halusinasi dan ilusi atau sebuah mitos berupa kebendaan (materialistis), sehingga hal tersebut sudah dianggap sebuah kebenaran yang ideal, padahal belum tentu.

Dan seiring perkembangan teknologi informasi, manusia telah memasuki dunia cyber melalui situs jaringan intenet (dunia maya). Segala informasi yang diinginkan dapat diperoleh melalui Mbah Goggle, meski tidak semua informasi di internet tersebut belum pasti kebenaran atau faktualnya. Kecuali Prodak Jurnalistik dari sebuah Media Massa yang sudah teruji kualitas, profesionalitas serta akuntabilitas dari pengelolanya.

Secara lahiriah, kedustaan dan kebohongan itu sudah lahir dan tercipta pada disetiap pribadi seseorang. Bahkan dalam keseharian seperti bercanda pada sesama terkadang membully, memanfaatkan cara dusta. Dan cara-cara tersebut telah mendarah daging, sehingga dusta menjadi kebiasaan dan dianggap hal biasa. Padahal akibat kebiasaan berdusta tersebut meski hanya untuk gurauan, akan tetap berdampak pada psikologis seseorang.

Seperti kutipan nasihat Mohammad Hatta, “Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar, kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur sulit diperbaiki”. Artinya, sikap tidak Jujur atau berbuat bohong atau dusta seharusnya tidak dibiasakan, karena sulit untuk dirubah dan diperbaiki pada diri seseorang nantinya.

Korelasi teori Hipersemiotika dengan istilah Hoak sangat signifikan, sama-sama berkaitan dengan kebohongan atau kedustaan. Melalui teori Hipersemiotika atau hiperealita salah satu teori atau sub-ilmu tentang cara memprediksi tanda-tanda dalam bahasa (lisan, tulisan dan isyarat atau kode) yang berdusta. Mulai dari cara penyihir membohongi orang dengan sulapnya, hingga film, iklan dan berita yang beredar mengandung Hoax. Atau pun kata-kata yang diucapkan seseorang, melalui bahasa tutur, kiasan maupun sikap atau psikolosi seseorang. Segala sesuatu tanda dan petanda (bahasa kode, lisan dan tulisan) yang berlebih-lebihan adalah salah satu contoh ciri-ciri berita bohong.

Untuk itu, setiap individu pembaca, dituntut jeli dan menggali semua data terkait dari kebenaran informasi yang diterima. Kapan perlu dipelajari melalui sub bidang ilmu pengetahuan yang dimiliki. Ya, semua bergantung dari pembaca itu sendiri, harus cerdas memilah, meneliti dan menguji kebenaran dari sebuah informasi maupun berita yang beredar. Bahkan juga informasi dari sebuah doktrin keyakinan atau paham tertentu yang tidak diketahui asal muasalnya. Banyaknya kelompok jemaah menjamur yang tidak diketahui asal usulnya, namun telah banyak pengikut. Dan dimungkinkan jemaah tersebut jemaah beraliran sesat. Makanya, literasi atau minat baca disertai analisis observasi, persepsi, interprestasi serta verifikasi data perlu dilakukan oleh setiap individu. Tentu juga pada tingkat Keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan Kitap Suci dan Rasul pembawa pesan Illahi.

Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top