Lebaran, momen tahunan untuk berkumpul dan bersilaturahmi dengan keluarga. Lebaran adalah puncak dari kemenangan, puncak melepas rindu, dan puncak dari kebahagiaan. Bagi kita sebagai makhluk sosial, tidak ada yang lebih indah dari berinteraksi. Kami, prokabar.com, menyadari bahwa lebaran adalah momentum dimana interaksi adalah yang paling hebat. Saling menyapa, bersalaman, berpelukan, dan berbagi adalah interaksi yang hebat itu. Berlandaskan itu, prokabar.com merancang platform interaksi di website kami. Melalui halaman "mudik yok" warganet disuguhkan beragam informasi yang bermanfaat. Ada info lalu lintas, info cuaca, cctv dan berita seputar mudik, termasuk destinasi wisata di Sumatera Barat. Tidak hanya itu, prokabar.com juga menyediakan fasilitas "message" di sudut kiri bawah halaman web. Dengan fasilitas ini pengunjung bisa berbagi foto teks dan video. Lalu tim kami akan menayangkan informasi yang anda bagikan. Yang lebih heboh lagi, sepanjang libur lebaran, prokabar membuat lomba artikel dengan tema umum lebaran di Sumatera Barat. Hadiah totalnya Rp. 10 juta. Lomba ini terbuka untuk umum, termasuk perantau yang sedang pulang kampung. Prokabar mengajak warganet untuk berbagi informasi di prokabar.com. informasi anda akan sangat bermanfaat bagi orang lain. Selamat Lebaran, sempurnakan pulang kampung anda bersama prokabar.com Salam Tim redaksi
Ekonomi

Harga Minyak Serai Selangit, Petani Berebut Beli Bibit


Pasaman, Prokabar – Sarai wangi harganya mahal. Petani pun tergoda dan bergegas menanamnya. Akibatnya harga bibit naik. Waduh!

Sepekan ini saja sudah naik Rp5 ribu, menjadi Rp12 ribu. Akankah harga sarai wangi akan sewangi namanya setelah ini? Tak ada yang bisa memprediksi. Sekarang harga minyak serai Rp300 ribu per kg.

“Pekan lalu harga bibit sarai masih berkisar Rp7 ribu per kilo, sekarang harga mencapai Rp12 ribu per kilo. Kenaikan ini disinyalir karena tingginya permintaan para petani yang ingin bercocok tanam sarai harum,” kata Edi warga Lembah Bukik, Jorong Salibawan, Nagari Sundata kepada prokabar.com, Selasa (15/5).

Dijelaskan Edi, untuk di Lembah Bukik, struktur tanah dan cuaca sangat mendukung bercocok tanam sarai wangi. “Bahkan ada yang beralih, dari kebun kakao ke sarai. Nilai jualnya tinggi, minyak daun sarai yang sudah disuling mencapai Rp300 ribu per kilo,” kata Edi.

Selain di kawasan kebun, masyarakat Lembah Bukit juha memanfaatkan lahan pinggir rumah untuk menanam sarai wangi.

Terkait proses panenya, Edi mengaku, dari mulai musim tanam, rata-rata bibit unggul sarai sudah bisa dipanen selama 4 bulan. Nantinya, daun sarai yang dipotong tanpa batang, bakal dimasukan ke dalam dorom penyulingan. Satu dorom besar bekas tempat oli yang sudah bersih, diisi daun sarai berkisar 30 kilo. Setelah disuling, bakal mendapat sekitar 0,7 ons minyak sarai.

“Inilah yang dikumpul lalu dijual. Selain harga tinggi, perawatannyapun tidak serumit komoditi lain,” tukas Edi. (ola)

Berani Komen Itu Baik


To Top