Gubernur Jawa Barat: Humanis di Medsos, Kontroversial di Lapangan

Penulis -

Jumat, 30 Mei 2025 - 09:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Sherly Mitriza

Anggota Muda UKM Surau Konstitusi

Mahasiswa Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Tidak bisa dikatakan tidak, bahwa akhir-akhir ini fyp media sosial dipenuhi dengan sosok gubernur Jawa barat yang menjadi pusat perhatian. Hal ini tidak lain tidak bukan disebabkan tindakan-tindakan beliau yang tidak biasa dipertontonkan oleh seorang pemimpin sebelumnya.

Tak hanya itu, media juga menyoroti kebijakan-kebijakan beliau yang penuh kontroversial, seperti mengirim anak yang melanggar aturan sekolah ke lingkungan militer, kemudian juga mendatangi langsung rumah warga yang dianggap tidak patuh. Kebijakan-kebijakan ini memicu perdebatan sengit, baik pro maupun kontra di tengah masyarakat.

Di satu sisi, para pendukungnya melihat kebijakan beliau sebagai bentuk tindakan tegas dan efektif untuk menegakkan disiplin dan aturan. Mereka menganggap bahwa pendekatan keras itu perlu dilakukan, hal ini sebagai upaya membentuk karakter dan memberikan efek jera, sekaligus menunjukkan komitmen kuat dalam menciptakan ketertiban dan kepatuhan.

Namun, di sisi lain ada juga pihak yang menentang kebijakan tersebut. Mereka menilai bahwa tindakan yang beliau lakukan merupakan pelanggaran hak asasi manusia, khususnya hak-hak anak. Pihak kontra menyarankan untuk menekankan pendekatan yang lebih humanis, edukatif, dan restorative justice dalam menangani pelanggaran, daripada menggunakan metode yang berpotensi traumatis dan melanggar norma kesopanan.

Secara fakta Dedi Mulyadi tidak menyalahi aturan gaya kepemimpinan, dia memiliki gaya kepemimpinan digital yang humanis. Dedi mulyadi berbeda dengan pemimpin yang lain. Ia memiliki gaya kepemimpinan yang merakyat dapat dilihat bahwa ia sering turun ke lapangan untuk melihat keadaan dan membantu masyarakat.dedi mulyadi yang lebih merakyat terlihat dari media sosialnya. Media sosial di manfaatkan sebagai membangun komunikasi politik yang berbasis kedekatan dengan rakyat.

Kedekatan yang beliau bangun tidak hanya melalui simbolisme semata, melainkan lewat pemanfaatan platform digital yang cerdas dan strategis. Dampak dari pemanfaatan platform digital tersebut membuat masyarakat merasa dekat dan nyaman dengan sosok gubernur mereka. Bahkan, masyarakat merasa bahwa Dedi Mulyadi bukan hanya pantas menjadi Gubernur Jawa Barat, tetapi juga digadang-gadang untuk menjadi Presiden pada tahun 2029. Hal ini dikarenakan gaya kepemimpinan Dedi Mulyadi yang banyak disukai masyarakat, terutama setelah melihat kinerja baiknya yang terekspos melalui media sosial.

Apakah semua ini nyata, atau hanya rekayasa semata

“Tak selamanya yang mirip itu sama, dan tak selamanya yang berbeda juga berbeda. Bisa jadi berpura-pura saja.” Ungkapan ini sangat relevan saat melihat fenomena kepemimpinan digital yang kini tengah dipertontonkan oleh Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat yang tengah naik daun di media sosial. Namun di balik semua pencapaian dan gaya kepemimpinan yang terlihat sempurna di layar, muncul pertanyaan yang tidak bisa dihindarkan, apakah ini realistis adanya?

Sosok Dedi Mulyadi sangat identik dengan gaya kepemimpinan yang humanis dan merakyat, sebuah citra yang telah ia bangun jauh sebelum menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat. Jejak rekamnya, terutama saat menjabat sebagai Bupati Purwakarta selama dua periode (2008-2018) menunjukkan bahwa beliau konsistensi dalam pendekatan ini.

Namun, penting untuk tidak langsung terbuai oleh citra kedekatan dan kerakyatan ini. Ada baiknya kita bersikap skeptis terhadap pandangan yang menggadang-gadangkan Dedi Mulyadi sebagai presiden cocok untuk 2029. Tidak sedikit pemimpin yang berhasil memoles citra mereka melalui media sosial, namun kemudian gagal memenuhi janji-janji atau menyelesaikan persoalan nyata di lapangan. Perlu diingat bahwa media sosial bukanlah satu-satunya ukuran kinerja dan keberhasilan sesungguhnya seorang pemimpin. Kinerja yang sesungguhnya harus dinilai dari dampak kebijakan, konsistensi, dan kemampuan dalam mengatasi tantangan riil yang dihadapi masyarakat.

Pemimpin Ala Superhero

Metafora “pemimpin ala superhero” menciptakan citra idealis namun menyesatkan, menggambarkan pemimpin sebagai sosok sempurna yang mampu mengatasi semua masalah dan selalu berhasil. Realitasnya, pemimpin adalah manusia biasa dengan keterbatasan dan kekurangan, bekerja dalam sistem yang kompleks dengan berbagai kendala. Idealisaasi ini dapat menimbulkan ekspektasi yang tidak realistis, mengurangi akuntabilitas, dan mengabaikan peran serta tanggung jawab warga negara dalam pembangunan. Oleh karena itu, penilaian kepemimpinan yang efektif harus didasarkan pada kompetensi, integritas, dan kemampuan bekerja sama, bukan pada kekuatan super yang hanya ada dalam imajinasi.

Gaya kepemimpinan Dedi Mulyadi yang kerap disandingkan dengan citra “superhero” menunjukkan bagaimana media sosial dapat membentuk persepsi publik. Ia berhasil membangun citra dekat dengan rakyat, responsif terhadap permasalahan, dan selalu hadir di tengah masyarakat. Namun, penting untuk melihat fenomena ini secara kritis. Penggunaan media sosial yang intensif untuk menampilkan dirinya sebagai pemimpin yang selalu hadir dan mampu mengatasi segala permasalahan dapat menciptakan ilusi kepemimpinan yang sempurna, seolah-olah ia memiliki kekuatan super untuk menyelesaikan semua masalah. Padahal, kenyataannya, kepemimpinan melibatkan proses yang kompleks dan membutuhkan kerja sama berbagai pihak.

Faktanya, pemanfaatan media sosial yang cerdas memang bisa menutupi berbagai kekurangan dan menimbulkan kesan kedekatan yang mungkin hanya bersifat simbolis atau bahkan sekadar strategi pemasaran politik. Dengan kata lain, citra yang dibangun lewat postingan, video, dan interaksi digital bisa jadi adalah “rekayasa citra” yang dirancang untuk menarik simpati publik, tanpa menjamin substansi dan integritas kepemimpinan yang sesungguhnya.

Jadi, sebelum kita terlalu terbuai dan menjadikan Dedi Mulyadi sebagai sosok ideal yang patut dicontoh, ada baiknya kita membuka mata dan menilai secara kritis. Apakah gaya kepemimpinan ini benar-benar merepresentasikan perubahan dan kemajuan, ataukah hanya topeng digital yang menutupi kenyataan? Karena sekali lagi, tak selamanya yang tampak mirip itu berbeda, dan tak selamanya yang tampak beda itu benar-benar berbeda.

Penulis : Opini

Editor : Nofal Wiska

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi
Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur
IKHLAS itu MUDAH
Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional
Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak
Munajat Cinta di Sepenggal Tanah Surga
Muktamar NU ke-35, Menentukan Arah Khidmah NU dan Masa Depan Umat
Di Tanah Kelahiran, Harapan Kami Menggantung di Ujung Pena Regulasi
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 11:11 WIB

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi

Selasa, 29 September 2026 - 10:10 WIB

Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur

Minggu, 13 September 2026 - 05:44 WIB

IKHLAS itu MUDAH

Rabu, 2 September 2026 - 13:57 WIB

Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional

Senin, 31 Agustus 2026 - 15:36 WIB

Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB