Trending | News | Daerah | Covid-19

Bola

Features: Ketika Anak Nunang Menembus Eropa, Dingin dan Membeku di Kota Praha

Dibaca : 975

  • Oleh: Rizal Marajo
    (Wartawan Utama)

“Saat Kurniawan Dwi Julianto diblow-up media Indonesia ketika bermain di klub Eropa bersama FC Lucerne Swiss, dan Bima Sakti di klub Helsingborg Swedia, ternyata jauh sebelum itu tanpa gembar-gembor media sudah ada putra Indonesia yang menembus tembok tebal kompetisi Eropa. Empat pemain muda dari proyek Garuda II, ternyata sudah mencicipi kompetisi Eropa awal 1990-an. Salah satunya, adalah Nilmaizar, anak Minang tulen dari Nunang. Payakumbuh

**********

Setelah tim Garuda II berlatih selama dua bulan di Cekoslowakia, tim kembali ke Tanah Air. Tapi seminggu kemudian, empat pemain harus terbang kembali ke Praha. Mereka adalah Agus Yuwono, Rochy Poetiray, Heriansyah, dan Nilmaizar.

Penanggungjawab Tim Garuda II Sigit Hardojuyanto dan Ismet Tahir memerintahkan empat pilar itu harus berlatih di Ceko, karena dinilai berpotensi besar menjadi pemain sepakbola yang berkualitas.

“Agustus 1990, saya bersama Agus, Rochy dan Herry kembali ke Praha, membuat kami dijuluki media sebagai “Kwartet Eropa”. Alasan pengiriman kami ke Eropa lagi, seperti disebutkan penanggungjawab Tim Garuda II, karena kami adalah pemain yang sangat potensial, dan perlu diberi pengalaman bermain lebih banyak di Eropa.”ujar Nil memulai cerita.

Selain itu, pelatih Josef Masopust juga menyebutkan, sejumlah klub di Praha tertarik untuk memberikan kesempatan kepada keempat pemain itu untuk berlatih di sana. “Hal ini tentu sejalan dengan status kami sebagai pilar Tim Garuda II dan Tim Pra Olimpiade, kami diharapkan bisa mengecap pengalaman bermain di Eropa dengan iklim kompetisi yang sehat dan kompetitif.”ucap Nil

Nil mengisahkan, berangkat ke Praha bulan Agustus 1990. Saat itu, mulai memasuki musim gugur, dan cuacanya mulai dingin. “Jika rencana trial itu benar-benar berlangsung selama empat setengah bulan, maka kami akan ada disana sampai akhir tahun. Itu artinya kami akan berhadapan dengan musim dingin.”

Sungguh sebuah pengalaman yang berharga, empat pemain muda yang baru berumur 20 tahun, harus bertarung dengan segala kondisi yang serba baru. Harus mandiri, bertarung dan beradaptasi dengan cuaca, juga dengan gaya hidup masyarakat setempat. “Kami juga harus siap berkomunikasi apa adanya, karena kami tak dibekali bahasa setempat. Bahasa Inggris kamipun, boleh dikatan cuma pas-pasan.”

Namun tekad kuat mengalahkan segalanya, keinginan mencari ilmu dan menambah pengalaman sebagai pemain sepakbola, lebih menantang ketimbang mengeluhkan cuaca dingin dan suasana asing di sekeliling. “Satu tekad, kami datang kesini pasti karena PSSI dan Indonesia ingin menjadikan kami pesepakbola yang baik, dan pada akhirnya berguna untuk membela negara, hanya itu.”tegas Nil

Di Praha, Nil bersama Agus dititipkan berlatih di klub terkemuka di Cekoslowakia waktu itu, Sparta Praha. Sedangkan Rochy dan Herry berlatih di klub Dukla Praha. Meskipun berstatus pemain “tamu” dari negara yang secara kultur dan reputasi hanya negara “antah berantah” di jagat sepakbola dunia, tapi mereka mendapat sambutan sangat bersahabat.

Di Sparta Praha itulah, Nil mendapat kesempatan berlatih dengan bintang-bintang timnas Cekoslowakia. Sebut saja Jan Stejskal, Julius Bielik, Michael Bilek, Thomas Hasek, Vaclav Nemecek, dan Thomas Skuhravy. Mereka semuanya anggota tim nasional Cekoslowakia yang baru saja pulang dari Piala Dunia 1990 di Italia sebulan sebelumnya.

“Saya dan Agus memang hanya berlatih di Sparta Praha, begitupun Rochy dan Herry di Dukla. Tapi untuk berkompetisi saya dan Agus bermain untuk klub Benesov . Sedangkan Rochy dan Herry di klub Montaza. Baik Benesov maupun Montaza adalah klub Divisi II Liga Cekoslowakia.”

Benesov adalah kota di wilayah Bohemian Tengah Cekoslowakia, berjarak sekitar 40 km sebelah Tenggara ibukota Praha. Sedangkan Montaza adalah kawasan masih di sekitar kota Praha.

Selama empat setengah bulan berlatih di Cekoslawakia. Hal positif yang Nil dapatkan, dapat merasakan suasana sepakbola yang sesungguhnya. Berlatih di klub yang sangat profesional, dan bertanding di kompetisi yang tertata rapi, dan dikelola secara profesional pula.

“Saya dan Agus selama empat bulan, memang tak masuk dalam pemain reguler yang selalu dimainkan sebagai starting XI di setiap laga Benesov. Saya terkadang masuk sejak menit pertama, tapi di ganti di babak kedua. Atau saya masuk sebagai pemain pengganti di babak kedua. Bahkan, ada yang sama sekali tak dimainkan dalam satu pertandingan.”kenang Nil

“Empat setengah bulan, memang bukan waktu yang cukup untuk menyerap semua ilmu yang ada disana. Namun, banyak pengalaman yang kami dapatkan dengan waktu sesingkat itu. Setidaknya, kami sudah punya pengalaman bermain di Eropa.”lanjutnya.

Bisa dikatakan, Nil dan kawan-kawan adalah pemain-pemain Indonesia pertama yang mampu menembus tembok tebal bermain di Eropa. Tanpa gembar-gembor dan publikasi berlebihan. Beberapa pemain generasi dibawah mereka, seperti pemain PSSI Primavera di Italia, yang sempat bermain di Eropa mendapat porsi publikasi yang begitu luas, dan sedikit berlebihan ketika mereka mendapat kesempatan bermain di klub benua biru itu.

Sebutlah misalnya Kurniawan Dwi Julianto dan Indriyanto Nugroho di FC Luzerne, Swiss, Kurnia Sandy di Sampdoria, atau Bima Sakti di Helsingborg, Swedia. Sepertinya, mereka dianggap pioneer pemain Indonesia yang mampu menembus Eropa.

“Tapi sesungguhnya jauh sebelum mereka, saya, Agus, Rochy, dan Herry sudah lebih dulu merasakannya. Itu semua karena publikasi media yang terlalu berlebihan akan kiprah Eropa mereka.”

Selain pengalaman berlatih dan bermain di Cekoslowakia, Nil mengaku juga merasakan bagaimana hidup mandiri di kota seperti Praha. Semuanya harus dipelajari dan dibiasakan sendiri, misalnya soal transportasi, tinggal di aparteman, kuliner, dan tentunya beradaptasi dengan cuaca musim dingin.

Tapi untunglah mereka tak benar-benar kesepian disana. Karena disaat-saat senggang mereka bisa merasakan suasana yang Indonesia sekali, ketika berkunjung ke Kedutaan Besar Republik Indonesia. Bertemu dengan orang-orang sebangsa, sungguh sebuah obat yang ampuh untuk mengobat kerinduan pada Tanah Air.

Tapi, musim dingin bagi mereka yang dari negara tropis, sejatinya memang cukup menyiksa diri dan membutuhkan kekuatan fisik dan mental untuk menghadapinya.  Kedinginan dan seolah membeku di Praha. Pernah mereka berlatih dibawah suhu minus 2 derajat.

“Saya dan Agus masih ingat, setiap kembali dari lapangan, hal pertama yang dicari adalah sesuatu yang bisa memanaskan badan. Berpegangan pada pipa gas pemanas ruangan sangat efektif untuk menghangatkan badan. Selain itu, kami juga memilih berdiam di apartemen, kalau tak ada keperluan yang benar-benar penting keluar.”

Tapi sebagai pemain muda, situasi seperti itu tak urung membuat  home sick. Ya, merindukan rumah dan Tanah Air yang hangat. “Saking rindunya, sebulan sebelum pulang setiap hari saya dan Agus yang tinggal satu apartemen, merasa perlu menyilangi satu tanggal di kalender setiap hari. Untuk menghitung mundur hari kepulangan kami ke Indonesia.”

Akhirnya, setelah empat setengah bulan, waktu yang dinanti pun datang. Empat pemain muda itupun terbang menuju Jakarta. Mereka  rasanya tak sabar,  kalau bisa pesawat ini terbang lebih cepat dan segera mendaratkan rodanya di Tanah Air. Ketika roda pesawat menyentuh landasan di Bandara Cengkareng,  menjadi sebuah kebahagiaan yang tak terkira.

“Kami pun berempat “histeris” dan bertepuk tangan gembira, meluapkan kegembiraan dengan cara kami berempat. Tak peduli penumpang lain melihat kami dengan pandangan penuh tanda tanya. Yang jelas kami sangat bahagia bisa kembali menginjakan kaki di Tanah Air tercinta.”

Untuk selanjutnya keempat pemain bergabung kembali bersama rekan-rekannya di Tim Garuda II, menjalani berbagai program latihan, dan dipersiapkan sebagi proyek timnas masa depan Indonesia, yang salah satunya adalah untuk mencoba meraih tiket ke Olimpiade Barcelona 1992.(*)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top