Bola

Features: Ketika Anak Nunang Menembus Eropa, Dingin dan Membeku di Kota Praha

Dibaca : 1.4K

  • Oleh: Rizal Marajo
    (Wartawan Utama)

“Saat Kurniawan Dwi Julianto diblow-up media Indonesia ketika bermain di klub Eropa bersama FC Lucerne Swiss, dan Bima Sakti di klub Helsingborg Swedia, ternyata jauh sebelum itu tanpa gembar-gembor media sudah ada putra Indonesia yang menembus tembok tebal kompetisi Eropa. Empat pemain muda dari proyek Garuda II, ternyata sudah mencicipi kompetisi Eropa awal 1990-an. Salah satunya, adalah Nilmaizar, anak Minang tulen dari Nunang. Payakumbuh

**********

Setelah tim Garuda II berlatih selama dua bulan di Cekoslowakia, tim kembali ke Tanah Air. Tapi seminggu kemudian, empat pemain harus terbang kembali ke Praha. Mereka adalah Agus Yuwono, Rochy Poetiray, Heriansyah, dan Nilmaizar.

Penanggungjawab Tim Garuda II Sigit Hardojuyanto dan Ismet Tahir memerintahkan empat pilar itu harus berlatih di Ceko, karena dinilai berpotensi besar menjadi pemain sepakbola yang berkualitas.

“Agustus 1990, saya bersama Agus, Rochy dan Herry kembali ke Praha, membuat kami dijuluki media sebagai “Kwartet Eropa”. Alasan pengiriman kami ke Eropa lagi, seperti disebutkan penanggungjawab Tim Garuda II, karena kami adalah pemain yang sangat potensial, dan perlu diberi pengalaman bermain lebih banyak di Eropa.”ujar Nil memulai cerita.

Selain itu, pelatih Josef Masopust juga menyebutkan, sejumlah klub di Praha tertarik untuk memberikan kesempatan kepada keempat pemain itu untuk berlatih di sana. “Hal ini tentu sejalan dengan status kami sebagai pilar Tim Garuda II dan Tim Pra Olimpiade, kami diharapkan bisa mengecap pengalaman bermain di Eropa dengan iklim kompetisi yang sehat dan kompetitif.”ucap Nil

Nil mengisahkan, berangkat ke Praha bulan Agustus 1990. Saat itu, mulai memasuki musim gugur, dan cuacanya mulai dingin. “Jika rencana trial itu benar-benar berlangsung selama empat setengah bulan, maka kami akan ada disana sampai akhir tahun. Itu artinya kami akan berhadapan dengan musim dingin.”

Sungguh sebuah pengalaman yang berharga, empat pemain muda yang baru berumur 20 tahun, harus bertarung dengan segala kondisi yang serba baru. Harus mandiri, bertarung dan beradaptasi dengan cuaca, juga dengan gaya hidup masyarakat setempat. “Kami juga harus siap berkomunikasi apa adanya, karena kami tak dibekali bahasa setempat. Bahasa Inggris kamipun, boleh dikatan cuma pas-pasan.”

Halaman : 1 2 3 4

Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top