PADANG – Pemilihan umum (PEMILU) merupakan proses demokrasi yang diadakan setiap lima tahun sekali.
Hal ini ditujukan untuk memilih satu orang dari beberapa tokoh dengan latar belakang yang berbeda, yang nantinya akan dijadikan wakil rakyat serta menjadi pemimpin di negara Indonesia.
Pemilu menjadi wadah bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam menentukan kepemimpinan di Indonesia untuk lima tahun kedepan.
Menurut sejarah, Pemilu pertama kali diadakan di Indonesia pada tahun 1955. Dikutip dari laman kemendikbud.go.id, pemilu di laksanakan sebanyak dua kali.
Tahap pertama untuk memilih anggota DPR, dan tahap kedua untuk memilih Dewan Konstituante.
Pemilu yang diadakan di tahun 1955 ini dilabeli sebagai pemilu di Indonesia yang paling demokratis karena diikuti oleh 29 partai dan perseorangan.
Seiring perkembangan zaman, euforia dalam menyambut pesta demokrasi ini pun beragam, baik dari kalangan muda, maupun tua.
Kebanyakan anak muda sering memberikan pandangan, aspirasi, dan keinginan mereka terkait kemajuan Indonesia melalui media sosial.
Euforia yang ditunjukkan oleh kalangan muda dalam meramaikan pesta demokrasi 2024 di media sosial, terlihat dari kampanye politik daring dengan memanfaatkan tagar (hastag) yang populer untuk menggalang dukungan dan menyebarkan pesan politik.
Ada juga yang membuat postingan, meme, atau pun video sebagai wujud partisipasinya dalam pemilu.
Selain itu, anak muda juga menggunakan media sosial seperti twitter, instagram, tiktok untuk membuat video sebagai wadah berdiskusi, mengkampanyekan pendidikan sebagai pemilih, memberikan kritik terhadap pemerintah, bahkan juga sebagai upaya untuk meningkatkan partisipasi pemilih usia muda.
Anak muda membutuhkan dukungan dari pemerintah agar bisa menciptakan generasi muda yang berprestasi, berkarya, dan bisa membangun Indonesia.
Saat ini sedang heboh Gibran Rakabuming Raka anak Presiden Joko Widodo, sekaligus wali kota Surakarta, yang dicalonkan menjadi wakil presiden bersama Prabowo Subianto.
Gibran dinilai sebagai contoh perwakilan generasi muda yang mempunyai potensi dalam memimpin, serta lebih memahami dan mewakili aspirasi generasi muda.
Sejumlah generasi muda menilai Gibran merupakan agen perubahan yang akan melahirkan ide-ide baru serta inovasi yang dapat memajukan bangsa nantinya.
Meskipun demikian, generasi muda tidak selalu homogen karena pasti akan ada perbedaan pendapat diantara mereka.
Sebagian dari mereka akan menilai Gibran sebagai contoh anak muda yang mampu memimpin, sementara yang lain mungkin saja lebih kritis dengan mempertimbangkan pengalaman, rencana, serta latar belakangnya. Terlebih lagi Gibran merupakan anak Presiden Joko Widodo.
Beberapa orang akan melihat hal ini sebagai bentuk nepotisme yang akan menimbulkan ketidakpuasan dan kekhawatiran.
Oleh karena itu preferensi politik merupakan hal yang sangat subjektif, sehingga banyak faktor dapat mempengaruhi pandangan seseorang.
Tidak jauh berbeda dengan generasi muda, generasi tua tentu juga memiliki cara tersendiri dalam menyambut pesta demokrasi 2024.
Generasi tua adalah mereka yang sudah lama berpartisipasi dalam proses demokrasi dan boleh dikatakan sudah banyak pengalaman dalam hal politik.
Generasi tua lebih condong untuk memberikan nasehat dan wejangan kepada generasi muda mengenai pentingnya berpartisipasi dalam pemilu, serta pentingnya suara mereka dalam membentuk masa depan negara.
Beberapa dari generasi tua juga turut aktif dalam kegiatan pengawasan pemilu. Secara keseluruhan tentu saja generasi tua juga memiliki harapan untuk para calon pemimpin negara.
Tidak hanya mengumbar janji, visi, misi dalam kampanye saja, tapi juga bentuk nyata ketika mereka terpilih nantinya.
Pengalaman yang panjang dalam pemilu bagi generasi tua, tentu menghadirkan lebih banyak pertimbangan dalam memilih calon pemimpin.
Euforia generasi tua dalam menyambut pemilu merupakan peran penting dalam menjaga demokrasi yang kuat.
Partisipasi mereka merupakan salah satu kunci dalam menjaga pemilu yang adil, serta dapat mempengaruhi seluruh spektrum masyarakat.
Dengan adanya partisipasi aktif dari generasi tua, akan menciptakan kesinambungan demokrasi yang ada di indonesia.
Harapannya tentu saja baik generasi tua maupun muda memiliki euforia yang sama dalam menyambut pesta demokrasi yang akan diselenggarakan di awal tahun 2024.
Meskipun adanya perbedaan kepentingan antara generasi muda dan tua, pada akhirnya akan dipimpin oleh satu tokoh yang hendaknya mampu menyelaraskan kepentingan antar generasi ini. (*)
















