Jakarta,Prokabar – Sekarang Apa apa mudah, izin ekspor tak berpungut. Sudah begitu, cepatnya tak kepalang.
Jika biasanya perizinan ekspor memakan waktu 13 hari, sekarang cukup 3 jam saja, beres.
Hal ini, terjadi setelah Menteri Amran Sulaiman merevisi Peraturan Menteri soal layanan perizinan dan skema izin ekspor, dari yang sebelumnya 13 hari menjadi tiga jam.
Langkah ini dilakukan Amran sebagai dukungan dari Kementerian Pertanian untuk mendorong peningkatan ekspor di dalam negeri.
“Kita mengeluarkan kebijakan baru yaitu memangkas skema perizinan ekspor dari 13 hari menjadi 3 hari,” jelas Andi Amran Sulaiman, didampingi Dirjen Hortikultura Sueandi, Senin (29/10).
Ia menjelaskan, langkah tersebut akan dilakukan pada minggu ini. Realisasi ini merupakan pengaplikasian skema online single submission (OSS) yang diluncurkan pemerintah pusat sebagai sistem terpadu satu pintu secara online untuk mengurus semua kebutuhan perizinan.
“Dari 312 jam kita pangkas menjadi tiga jam. Kita sudah koordinasi dengan asosiasi eksportir, kementerian luar negeri, kementerian perdagangan, kita sepakat izin ekspor 3 jam selesai,” jelas dia.
Amran menjelaskan, proses perizinan yang biasanya memakan waktu berhari-hari disebabkan oleh berbagai faktor. Mulai dari jadwal kerja ASN Kementan sampai durasi pelayanan.
“Dulu maksimal 13 hari kita uruskan. Itu bisa terjadi karena libur di Minggu dan Sabtu. Kemudian pelayanan jam 4 sudah tutup. Kita sudah membangun OSS dan itu beroperasi 24 jam,” kata dia.
Ia mengatakan, ada skema sift karyawan yang akan diterapkan untuk mengurus sistem perizinan ekspor.
“Nanti akan ada yang masuk jam 08.00 sampai jam 16.00 kemudian nanti akan ada yang masuk sore. Itu nanti ada jadwalnya. Kita di pertanian pengecekan karantina kita langsung diselesaikan disini, semua komoditas pertanian,” kata dia.
Ia mengatakan, para pengusaha tidak perlu datang ke kantor cukup mendaftarkan berbagai berkas dan kebutuhan perizinan melalui skema online.
“Nanti nggak usah ke kantor, online saja,” kata dia. Hadir dalam acara itu, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) bidang Industri Pangan Strategis Juan Permata Adoe, serta para pengusaha di bidang hortikultura, beberapa pejabat dari Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan dan Kementerian Luar Negeri.
Terdata dalam agenda acara, rapat koordinasi ini dihadiri pula CEO PT Great Giant Fruits dan berbagai eksportir jenis barang holtikultura.
Kementerian Pertanian melakukan ekspor sejumlah komoditas pertanian ke berbagai negara, dua hari lalu kementerian pertanian mengekspor sebanyak tiga komoditas pertanian yaitu benih kangkung, benih jagung manis, dan kacang hijau siap di ekspor kembali.
Komoditas hortikultura yang diekspor kali ini yakni benih kangkung 140 ton ke China dan benih jagung manis 60 ton ke Hongkong. Sementara komoditas pangan yang diekspor yakni kacang hijau sebanyak 2.200 ton ke China dan Philipina.
Selain kangkung, beberapa benih hortikultura yang telah diekspor yaitu benih pare, cabai, paprika, timun, gambas, melon, waluh, sweet corn, dan pare welut.
Untuk terus memacu volume ekspor, Kementan, telah menetapkan prognosa produksi sayuran 2018 mencapai 12,9 juta ton atau naik 3,4% dibandingkan 2017.
Tak Berbayar
Menteri Amran Sulaiman dalam rapat tersebut juga meminta seorang eksportir manggis asal Sumatera Barat, Muhammad Bayu Vesky yang merupakan Direktur Kerjasama Antar Lembaga PT Bumi Alam Sumatera, menyampaikan pengalamannya.
“Izin pak Menteri, soal pengurusan izin, kami tidak mengeluarkan uang satu rupiah pun. Pelayanan bagus, terimakasih pak Menteri Andi Amran,” kata Bayu Vesky disambut riuh tepuk tangan.
Hebatnya kata Bayu yang hadir bersama Dirut PT Bumi Alam Anggri Purnama Agung dan Direktur Operasional Suiseki Fadhail, Dirjen Hortikultura Suwandi, langsung menjemput bola. “Pak Dirjen yang datang langsung memberi kemudahan ekspor,” sambungnya.
Eksportir mengucapkan terimakasih kepada Presiden Joko Widodo, yang membuka kran ekspor hortikuktura, khusunya manggis ke China. Ini juga bahagian penting dalam menangkal pasar gelap manggis yang biasanya lewat negara tetangga. “Perlu diperketat,” katanya.
Harapan eksportir manggis lainnya, produk manggis Tanah Air tidak kalah dengan Thailand. “Kalau penanganannya diperketat, kupingnya diutak atik Karantina, manggis kita jelek di Thailand. Kami berharap, ini ditinjau lagi. Sebab buyer di China juga tidak mempersoalkan, apa akal kami?,” kata beberapa ekaportir di sela sela acara.
Menteri Amran Sulaiman sepakat, penanganan ini dapat diganti dengan cara cepat. “Makanya, kita gelar rakor akselerasi hari ini. Bagus program Dirjen Hortikultura,” kata Andi Amran Sulaiman. (vbm)
















