Opini

Eduardo Almeida, 8 Laga Final Pembuktian Sang The Magicians


Oleh: Rizal Marajo (Wartawan Utama)

Siapapun pendukung atau suporter Semen Padang FC saat ini, pastilah tak bisa tidur nyenyak. Dalam bahasa yang lebih gaul, sedang galau. Bayang-bayang degradasi yang mengintai tim kesayangan, menjadi momok yang akan selalu menghantui sampai akhir kompetisi Liga 1 2019 ini.

Betul, masih banyak yang optimis tim ini bisa bertahan, tapi sebanyak itu pula yang setengah pasrah, bersiap melihat Kabau Sirah kembali turun kasta ke Liga 2.

Menyisakan delapan laga, empat kandang dan empat tandang, benar-benar
menjadi pertaruhan nasib Semen Padang. 8 laga itu ibaratnya adalah laga
final yang harus dimenangkan.

Ketatnya persaingan keluar dari jurang degradasi, Semen Padang dituntut meraih hasil maksimal, tak peduli hasil kandang ataupun tandang. Minimal, semua laga kandang dimenangkan, sementara di laga tandang bisa mencuri satu poin.

Tugas berat jelas ada di bahu Eduardo Almeida, sang pelatih berpaspor Portugal. Sebagai leader team, sekaligus juru taktik dan startegi, nasib Semen Padang di kompetisi ini akan banyak tergantung pada pria 41 tahun ini.

Sejak mengambilalih tampuk kepelatihan Kabau Sirah, sejatinya ada progres signifikan terlihat pada permainan Semen Padang. Fakta pertama, ditangan Eduardo pertama kali Semen Padang keluar dari dasar klasemen pada pekan ke-22. Ditandai kemenangan atas Persija Jakarta di kandang lawan.

Asa seketika melambung, terutama di kalangan fans Semen Padang. Karena langsung nampak bukti tangan dingin Eduardo. 5 laga berujung 3 kali menang dan dua seri, tanpa terkalahkan sejak pekan ke-18. Bahkan pundit sepakbola Indonesia menyebut hasil sebagai progres terbaik tim Liga 1. Cap The Magician pun dirasa cocok disematkan pada lelaki yang satu ini.

Sayangnya, setelah masa bangkit itu tak bertahan lama. Tiga laga berikutnya berujung kekalahan. Bahkan dua diantaranya di kandang, yakni melawan Madura United dan Persipura Jayapura Semen Padang terkapar. Ditambah kalah lawan Arema, membuat Semen Padang kembali ke dasar klasemen.

Sayang memang, jika trend positif usai laga lawan Persija bisa dipertahankan, dengan memaksimalkan lawan Madura United dan Persipura Jayapura, mungkin posisi Semen Padang saat ini sudah sedikit aman dari ancaman degradasi, berada di posisi 13.

Itulah permasalahan terbesar Semen Padang, konsistensi dari pertandingan ke pertandingan yang belum terjaga. Inilah PR terbesar Almeida dalam mengharungi 8 laga sisa.

Lebih khusus lagi, anomali Semen Padang musim ini adalah hilangnya “tuah” bermain di kandang. Sejak awal musim, delapan dari 13 kali kekalahan justru diderita di kandang sendiri. Musim-musim sebelumnya, Semen Padang sangat beken dengan sebutan “jago kandang”.

Tak mudah bagi tim lain untuk meraup angka di Stadion H,. Agus Salim Padang. Bahkan saat ISC 2016, Semen Padang sama sekali tak tersentuh kekalahan dika bermain di Stadion H. Agus Salim.

Musim ini keangkeran Stadion yang mulai dioperasikan tahun 1983 itu sirna.
Justru Semen Padang lebih lepas jika bermain diluar kandang, hanya lima kekalahan saat tandang.

Untungnya, Almeida adalah sosok pelatih yang “tahan banting”, tetap cool dan optimis dengan prospek timnya. Dalam situasi sulit timnya saat ini, dia tetap menebar optimistis, bahwa dia bisa menyelamatkan Semen Padang.

Ditambah riwayat kepelatihannya yang beberapa kali menyelamatkan timnya dari degradasi, menjadi semacam referensi khusus bagi fans Semen Semen Padang bahwa Almeida akan menjadi penyelamat tim kebanggaan Ranah Minang ini.

Eduardo diibarat bak panglima perang yang datang dengan gagah menunggangi kuda putih, pedang yang terhunus menebas semua kendala di hadapannya.
Sulit memastikan apakah sang panglima berlisensi A UEFA ini dengan pedang taktical dan strateginya bisa menebas semua lawan di laga sisa, agar bisa membawa Semen Padang pada status aman.

Faktanya, tak banyak panglima asing yang bisa sukses di kursi pelatih Semen Padang. Kursi yang tak pernah empuk bagi pelatih luar Sumbar. Karena kalau dibuka catatan prestasi terbaik Semen Padang, nama pelatih yang muncul adalah pelatih lokal seperti Suhatman Imam, Jenniwardin, Nimaizar, ataupun Jafri Sastra. Apakah Eduardo akan jadi sebuah anomali?

Hanya waktu yang bisa menjawabnya.(*)

Berani Komen Itu Baik
Tirto.ID
Loading...
To Top