Oleh: Khairul Jasmi
Rontok. Koper salah kunci itu diangkat, pulang menjelang siang. Selendang branding yang berangin, tak berpengaruh: Jerman, Belanda dan Jepang. Balik mudik!
Babak 32 besar Piala Dunia 2026 dan tiga nama besar tumbang hampir berbarengan. Jerman takluk dari Paraguay di titik putih, kekalahan adu penalti pertama mereka sepanjang sejarah Piala Dunia. Belanda rontok dari Maroko, juga lewat adu penalti. Dan Jepang, utusan Asia kita itu, takluk dari Brasil di ujung napas. Selendang nama besar berkibar-kibar, tapi angin tak menahan bola.
Lapangan hijau di Piala Dunia punya lekuk sejarahnya. Tak tertebak oleh komputer, raja judi dan ahli sepak bola sekali pun. Yang main bukan mereka. Peringkat sepuluh dunia bisa rebah di kaki peringkat empat puluh satu dan tak satu pun rumus sanggup menebaknya. Lapangan itu menyimpan cekung dan liat, tempat hal-hal tak terduga mengendap.
Hoyak hosen penonton berkutang saja, atau beragam gaya yang disorot kamera, atau senyum manis gadis dari bangsa-bangsa yang malepok di bangku penonton, itu bukan adegan utama. Itu bumbu jeda mata belaka.
Bola ada di kaki-kaki pemain yang sedang berkeringat. Kita tinggal bersorak-sorak saja dari siaran TVRI. Beli antena dulu atau paket. Bentuknya saja yang perai, tapi jadi jugalah. Lewat TVRI juga, satu paket dengan pildun FIFA ini. Bukan cuma yang sekarang. Pildun U-17 di November nanti ikut masuk, Pildun Wanita 2027 pun masuk. Tiga helat sekali tebus. Sempat ramai orang bersuara soal angkanya, Rp1,3 triliun katanya, padahal itu untuk tiga turnamen, bukan satu.
Mangarengkang juga lagi sama Prabowo? Haha.
Ada-ada saja bangsa kita ini. Secerdik Messi bawa pola, kata yang satu, tukar gubernur. Kata yang lain: rakyatnya saja yang ganti, sebab banyak cincong. Heninglah sebentar, pildun kita dulu. Negeri ini, bola takkan selesai oleh kita. Hidup SPFC. Saya eks komutnya, catat ya, haha. Salam Pak Andre.
Jepang, Belanda, Jerman. Kenapa pula yang bagus -bagus berpapasan begitu awal, kenapa tak sesudahnya? Itulah, tak dapat akal kita. Jepang, utusan Asia, kita memihak padanya. Namun lawannya Brasil dan saya menonton. Bulat mata saya melihat mereka bertanding.
Babak 32 besar, digelar Senin, 29 Juni 2026 (Selasa, 30 Juni dini hari, pukul 00.00 WIB). NRG Stadium, Houston, Amerika Serikat. Brasil 2, Jepang 1. Rancak lapangan bolanya, bertingkat tempat duduknya.
Jepang memimpin dulu. Menit ke – 29, Kaishu Sano lari sendiri dari tengah lapangan dan gawang Brasil bobol. Satu kosong untuk Asia. Dan Jepang bertahan, hampir satu babak penuh, dengan dada yang dibusungkan.
Casemiro menyamakan di menit ke-56 lewat sundulan. Lalu, di menit ke-90, di injury time itu, Gabriel Martinelli yang baru masuk menghukum di napas penghabisan.
Angka berkata Brasil menguasai, enam puluh berbanding empat puluh. Tembakan dua puluh lawan lima. Tapi Jepang main hemat dan dari lima tembakan itu mereka sudah unggul. Kiper Zion Suzuki seorang diri menahan badai, lima kali ia menepis. Suzuki ini menarik: namanya Jepang, mainnya untuk Jepang, tapi kulitnya hitam, sebab ayahnya orang Ghana di Afrika sana, ibunya orang Jepang. Inilah wajah Jepang yang baru, yang sudah bercampur darah.
Yang membunuh Jepang bukan Brasil semata, tapi waktu. Mereka kuat delapan puluh menit, lalu bobol di saat genting. Tiga Piala Dunia berturut-turut Jepang memimpin di babak gugur lalu kalah: Belgia 2018, Kroasia 2022, kini Brasil 2026. Utusan Asia itu sudah berkali-kali mengetuk pintu, tapi pintunya belum juga terbuka.
Dua satu. Tamat. Tergangga kita, tak ada yang gatal, tapi terasa. “Yo ebat Brasil,” kata hati Anda kan? Ya iyalah, tergarujai Jepang dibuatnya. Pulang. Sayonara.
Sekarang Belanda. Bangsa yang dulu, waktu kita masih dijajah, mendirikan Klokketoren, menara jam yang kita kenal sebagai Jam Gadang di Bukittinggi itu. Eh, bukan Belandanya yang menukang, arsiteknya orang awak juga, tapi pokoknya di zaman merekalah ia berdiri, 1926. Dan ingat, Jam Gadang itu dibangun pakai semen dan besi, barang yang nyata. Jangan mau lagi kena loge putih telur. Itu cerita karang-karangan.
Belanda, bekas tuan kita itu, kini pulang. Dipulangkan Maroko, lewat adu penalti di Monterrey, Meksiko. Mereka memimpin dulu di menit ke 72, tampak mau mencuri kemenangan, tapi Maroko menyamakan di menit ke-90, di ujung napas. Sampai 120 menit podo, lalu titik putih. Dan di situ Belanda takluk. Ini kekalahan adu penalti ketiga beruntun mereka di Piala Dunia, rupanya ada kutukan yang mereka pikul sendiri.
Maroko itu wakil Afrika, negeri Muslim yang di Piala Dunia lalu sudah sampai semifinal. Kotanya yang termasyhur, Casablanca, kerap jadi lokasi film. Saya teringat pula seorang penyanyi Amerika, Jennifer Grout namanya, gadis dari Boston.
Tahun 2013 dia jadi finalis Arabs Got Talent, padahal tak bisa berbahasa Arab, tapi melagukan lagu-lagu Arab klasik dengan sempurna. Belakangan dia masuk Islam, pandai pula mengaji, bacaan ayat Al-Qur’annya ditonton ratusan ribu orang.
Suaminya orang Maroko. Entah dia menonton laga ini atau tidak, saya cuma teringat saja. Begitulah, satu bola menarik bermacam ingatan. Banyak juga orang kita yang memihak Maroko. Maka tumbangnya Belanda di kaki mereka, ada rasa lain di hati. Saya teringat Van Dijk, kapten itu, pemain jangkung yang rambutnya diikat ke belakang, sedih betul wajahnya. Ibo wak ye, ndak. Tapi sudahlah. Ini bukan soal 350 tahun, ini soal bola.
Sekarang Jerman. Pak Habibie dulu sekolah di sana, tapi teknik kapal terbang, bukan bola. Bangsa insinyur, tapi malam itu rumus tak menolong di lapangan hijau. Dan Jerman, ingat baik-baik, dipulangkan Paraguay, bukan Uruguay. Jangan keliru, keduanya beda negara.
Jerman 1-1 Paraguay, dan Jerman kalah adu penalti. Pada Senin, 29 Juni 2026 di sana, di kita Selasa, 30 Juni dini hari, pukul 03.30 WIB. Tak tidur semalaman kita dibuat pildun-pildun ini. Main di Gillette Stadium, Foxborough, Boston, Amerika Serikat. Trump.
Paraguay memimpin lebih dulu menit ke-42 lewat Julio Enciso. Jerman menyamakan menit ke-54 lewat Kai Havertz. Sampai 120 menit tetap 1-1, podo, lalu adu penalti.
Ada tiga puncak di laga ini. Pertama, dominasi yang sia-sia. Jerman menguasai bola tujuh puluh lima berbanding dua puluh lima. Mereka melepas dua puluh satu tembakan, Paraguay cuma tujuh. Sepak pojok enam belas lawan enam. Di atas kertas ini bukan pertandingan, ini pengepungan. Tapi gawang Paraguay tak juga jebol lebih dari sekali. Inilah ironinya: yang mengepung habis-habisan justru pulang.
Kedua, dan ini puncaknya, sang penjaga gawang. Orlando Gill, kiper Paraguay, berdiri seperti tembok di tengah badai. Di waktu normal ia berkali-kali menggagalkan peluang Jerman. Lalu di adu penalti, dialah pahlawannya, menepis tendangan Jerman satu per satu. Tiga algojo Jerman gagal: Havertz, Woltemade, dan Tah. Bayangkan, raksasa empat kali juara dunia, penaltinya ditolak mentah-mentah.
Ketiga, sejarah yang patah. Ini kekalahan adu penalti pertama Jerman sepanjang sejarah Piala Dunia. Selama puluhan tahun, titik putih adalah panggung kemenangan Jerman, mereka nyaris tak terkalahkan di situ.
Malam itu mitos itu runtuh, di kaki bangsa kecil peringkat empat puluh satu dunia.
Bangsa insinyur yang menguasai segalanya kecuali nasib. Kalah bukan karena kurang bola, tapi karena dua belas langkah dari titik putih ternyata lebih jauh dari yang mereka kira.
Dan saya ingat Panser Jerman itu. Tapi ini bola, bukan medan Perang Dunia II. Pulang. Angkat koper.
Tadi saya sebut Paraguay, bukan Uruguay. Batang airnya memang tak sama, tapi satu kaumlah mereka, Amerika Latin: Brasil, Argentina, Paraguay, Uruguay. Akan halnya Shakira di Kolombia sana, dia bukan satu batang air, tapi tetap satu benua.
Shakira itu stempel masuk Pildun. Tak sero kalau tak ada dia. Dia sudah empat kali menempel di hajatan ini. Mulai 2006 di Jerman, tampil di penutupan dengan “Hips Don’t Lie”. Lalu 2010 di Afrika Selatan, “Waka Waka”, yang ini lagu resmi, dan sangat memikat, jadi lagu Piala Dunia paling laku sepanjang sejarah.
Berikutnya 2014 di Brasil, “La La La”, lumayanlah, walau lagu resmi tahun itu sebetulnya milik Pitbull dan Jennifer Lopez. Dan tahun ini dia datang lagi, “Dai Dai” namanya, berduet dengan Burna Boy. “Dai Dai” itu seruan dari bahasa Italia, artinya “ayo, ayo”.
Coba bayangkan kalau lagunya berbahasa Indonesia, rantak tejan kita satu negeri dibuatnya. Bukan mustahil, sebab sudah pernah. Via Vallen pernah tampil di Asian Games 2018 membawakan lagu tema resmi “Meraih Bintang”, sampai kini candu juga kita menontonnya, terutama goyang rambut ekor kudanya.
Lagu itu bahkan dinyanyikan ulang di banyak negara Asia, dari Arab, India, Jepang, sampai Mandarin. Dan lucunya, “Meraih Bintang” pun penuh pekik “yo yo ayo”, sama saja dengan “Dai Dai” Shakira. Rupanya semangat bola dan semangat olahraga, di benua mana pun, berbunyi serupa: ayo, ayo. Kalau tak percaya, tanya sama Pak Erick.
Begitulah sajian Pildun, masih akan panjang, tanding demi tanding. Akan sehangat kompor gas 3 kg saat-saat menjelang puncak. Siapkan kacangmu!
Bagi saya yang menarik dari Pildun ini: kiper Jepang yang hitam itu. Hahaha.
















