Opini

Dr Abdullah Khusairi : Cendekiawan Muslim Lamban Menguasai Media

Dibaca : 694

Oleh : Khairul Jasmi

Pemred Singgalang

“Awak ke Jakarta, baok amak, istri, anak dan adik perempuan,” kata Abdullah Khusairi. Dan pada Senin (15/7) mereka duduk dengan takzim, menyaksikan Khusairi jadi doktor di UIN Ciputat.

Ini Senin yang cemerlang bagi mantan wartawan itu, setelah jungkir balik membiayai dirinya sendiri. Ibunya, memandang nyaris tak berkedip tatkala semua guru besar menyatakan, ia berhak menyandang gelar doktor. Khusairi lulus cum laude dengan nilai 95.

“Dinyatakan lulus dengan nilai 95, cum laude,” kata Prof. Jamhari, ketua sidang ujian promosinya.

Pada awalnya, ia mendaftar S3 di UIN dengan bekal keras hati belaka. Hanya ada pesan:

“Sekolahlah tinggi-tinggi,”  membuatnya tak henti untuk meneruskan sekolah hingga sampai ke tingkat doktoral. Itulah kalimat dari sang ayah sebelum pergi untuk selama-lamanya, 20 tahun silam. Kini ia meraih doktor dengan lika-liku panjang pengalaman. Salut!

Apapun tujuan hidupmu, fokuslah ke situ. Bergeraklah. Lalu hadapi segala onak dan duri, begitulah para motivator handal negeri ini. Itu pula yang terasa, setelah mendapat kabar seorang sejawat yang kerap terlibat besama dalam dunia kepenulisan dan kewartawanan yang berhasil meraih gelar doktor. Sebuah capaian puncak dunia pendidikan. Saya hanya baru sampai magister, entahlah kalau esok. Kini belum.

Dia adalah Abdullah Khusairi, penulis, jurnalis dan dosen, yang saya kenal puluhan tahun silam. Waktu itu, seorang mahasiswa dekil yang mengundang saya menjadi pembicara pelatihan jurnalistik di kampusnya. Setelah itu, kami kerap bertemu di lapangan. Beda media satu tujuan, mendapatkan berita. Dia wartawan yunior saya sudah senior. Selebihnya, sama. Sama-sama menulis, penyuka berat buku sastra. Suatu hari ia sodor cerpen karya lewat email, saya komentari. Beri masukan. Entah diikutinya entah tidak, saya tak tahu.

“Selamat meraih doktor, salut!” begitu kalimat yang saya kirim whatsappnya. Bangga dan turut bahagia. Kini mantan wartawan itu sedang bahagia, bisa meraih doktor lewat beasiswa, Ministry of Religion Affair (MORA) Kemenag RI 2016. Program doktor 3 tahun diselesaikan dengan hasil cumlaude.

Halaman : 1 2 3

Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top