Artikel

Dongeng untuk Anak Kita

Dibaca : 2.7K

Oleh: Rezi Veronika (Mahasiswa Sastra Minangkabau, FIB, Universitas Andalas)

Padang, Prokabar —  Tanggal 20 Maret mendatang merupakan hari peringatan dongeng sedunia, dongeng identik dengan cerita anak yang disampaikan oleh orang tuanya menjelang tidur. Secara umum dongeng adalah suatu karya sastra lama, yang berisi cerita luar biasa, dan penuh khayalan atau fiksi yang oleh masyarakat umum disadari sebagai cerita yang tidak benar-benar terjadi. Pendapat lainnya menurut James Danandjaja, dongeng adalah suatu cerita rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi oleh si empunya cerita, dongeng juga tidak terikat oleh suatu tempat atau pun waktu, karena dongeng diceritakan untuk menghibur.

Pada tulisan ini penulis akan menyederhanakan pengertian dongeng sebagai sebuah cerita fiksi yang diperuntukan untuk anak-anak. Namun, penulis tidak hanya akan membahas dongeng yang diceritakan lewat tuturan lisan. Hal ini karena pada era milenial sekarang dongeng-dongeng tidak hanya bisa disampaikan lewat tuturan lisan kepada anak-anak. Dongeng telah dibungkus cara penyampaiannya ke dalam media cetak ataupun media elektronik.

Sebelum membahas mengenai dongeng yang telah diadopsi kemedia cetak atau elektronik, sebaiknya kita meninjau lebih jauh ke belakang bagaimana pengaruh dongeng yang disampaikan secara lisan selama bertahun-tahun. Dongeng berjenis mite atau mitos adalah jenis dongeng yang menceritakan hal-hal yang berhubungan dengan makhluk halus, seperti jin, setan, atau dewa-dewi. Dongeng jenis ini tentu dimiliki oleh masyarakat manapun di dunia. Berbicara mengenai mite atau mitos, bangsa Yunani adalah bangsa yang harus dibicarakan. Negeri  Yunani yang dijuluki Negeri Para Dewa telah mengalami puncak peradaban pada masanya. Kejayaan bangsa Yunani pada masa lampau tentu tidak terlepas dari peran dongeng yang berkembang pada masyarakatnya. Dongeng-dongeng yang bercerita tentang kepahlawanan Herkules dan keagungan Dewa Zeus telah membuat anak-anak Yunani tumbuh besar dengan keberanian dan keagungan layaknya Herkules dan Dewa Zeus.

Jauh didalam negeri sendiri yaitu Minangkabau, cerita adu kerbau antara kerbau orang Minang dan kerbau orang Jawa telah memberikan dua dampak bagi masyarakat Minang. Menurut Sultan Pagaruyuang, Muhammad Taufik cerita adu kerbau merupakan cerita yang dikarang oleh orang Belanda untuk mengadu domba masyarakat Minang dengan masyarakat Jawa. Dongeng tersebut telah memunculkan paradigma yang buruk terhadap orang Minang dan Jawa. Orang Minang dianggap sebagai orang yang licik sedangkan orang Jawa dianggap sebagai orang yang bodoh.

Apabila kita melupakan pandangan yang diberikan oleh Muhammad Taufik di atas, maka dongeng adu kerbau jika ditinjau lebih jauh justru memiliki manfaat bagi masyarakat Minang. Seperti yang sama-sama diketaui sebelum kedatangan bangsa Eropa pada abad ke 15, Nusantara terdiri dari berbagai kerajaan yang saling menakhlukan. Maka bisa jadi dongeng tentang adu kerbau adalah dongeng yang dibuat oleh masyarakat Minang sendiri untuk menjaga kepercayaan diri mereka sebagai sebuah suku bangsa yang sedang ditakhlukkan oleh kerajaan dari Jawa (majapahit). Dampaknya pada saat itu masyarakat Minangkabau tidak merasa seperti sebuah bangsa yang terjajah, mereka tetap hidup bebas menjalankan kebudayaan dan aturan adatnya.

Tidak hanya tentang dongeng adu kerbau, di Minangkabau juga dikenal sebuah tradisi yang disebut tradisi manjujai di Tanah Datar dan di daerah Minangkabau lainnya. Diceritakan oleh Gusnawilis, manjujai merupakan tradisi turun temurun masyarakat komunitas Minangkabau yang ada di Sumatra Barat. Manjujai juga bisa diartikan sebagai meninabobokan anak atau untuk menidurkan anak, sama halnya dengan membacakan dongeng untuk anak yang akan tidur. Bentuk  manjujai pun beragam mulai dari ungkapan atau idiom, tepuk ame-ame, pantun, nyanyian nina bobok khas minang, permainan sederhana dan lain sebagainya yang berisikan ajaran kesopanan yang mengandung nilai-nilai agama serta adat istiadat. Manjujai memiliki banyak manfaat bagi tumbuh kembang anak, salah satunya adalah mengaktifkan perkembangan otak kanan dan saraf motorik si anak dengan menanamkan nilai-nilai kebaikan lewat dendangan atau nyanyian. Menurut Dr. Helmizar, SKM,M. Biomed peneliti dan ahli gizi dari Faklultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Andalas manjujai tertbukti dapat memperbaiki perkembangan fisik dan psikologis anak ke arah yang lebih baik.

Itu adalah beberapa contoh peran dongeng yang dituturkan secara lisan. Pada era milenial sekarang dongeng sebagai cerita fiksi yang diperuntukkan untuk anak-anak bisa disampaikan lewat media lain. Di Jepang, dongeng telah dimanfaatkan dan dituangkan ke berbagai media termasuk media elektronik. Yoichi Takahashi (pada tahun 1981) pengarang cerita serial anime Capten Tsubasa yang menceritakan tekad anak-anak Jepang sampai dewasa untuk menjadi pesepakbola hebat.Akibatnya anime Captain Tsubasa menjadi pelecut bagi anak-anak di Jepang pada masa itu untuk berprestasi. Dengan tajuk “demi Jepang” usaha keras tersebut secara jelas bisa disebut berhasil. Sembilan tahun setelah anime tersebut disiarkan, Jepang menjadi juara Asia. Enam tahun berselang mereka lolos untuk pertama kali ke Piala Dunia.

Semua contoh diatas memperlihatkan dongeng memberikan pengaruh baik bagi pemiliknya. Dari dulu sampai sekarang dongengpun telah berkembang, baik itu ceritaya ataupun media penyajiannya. Dongeng juga memiliki manfaat yang baik bagi pembaca atau pendengarnya, salah satunya adalah menanamkan etika dan nilai-nilai kehidupan. Melalui karakter yang ada pada dongeng, anak-anak dapat belajar nilai-nilai kejujuran, rendah hati, rasa empati, juga sikap tolong menolong. Seperti yang dikatakan oleh penggemar penulis dongeng dari Anggela Carter hingga Neil Gaima, dongeng melengkapi seorang anak dengan bekal selamat dari tantangan-tantangan masa depan dan mengajari mereka tentang sisi kejiwaan mereka sendiri.

Namun, sebagai orang tua kita juga perlu berhati-hati untuk memilih dongeng yang akan di konsumsi oleh anak. Karena selain pengaruh baik yang ada pada dongeng juga terdapat pengaruh buruknya. Seperti; (1). Terbawa mimpi buruk, ada beberapa cerita yang dapat membuat anak bermimpi buruk sepanjang malam. Terlebih, jika anak memiliki daya ingat yang kuat, ditambah sifat penakut dalam diri. Tokoh seperti monster atau oenyihir jahat yang ada dalam dongeng akan malayangkan imajinasi mereka terhadap sosok tersebut. Imajinasi inilah yang nantinya dapat membuat mereka takut dan terbawa ke dalam alam mimpi. (2). hidup dalam imajinasi, terlalu larut dalam cerita dongeng membuat anak tidak bisa lagi membedakan antara realita dan imajinasi. Mereka bisa jadi akan menggangap diri seperti layaknya tokoh yang ada dalam cerita tersebut. (3). diri yang merasa buruk, hampir semua tokoh dalam cerita dongeng memiliki kesempurnaan fisik maupun kamampuan hebat. Meskipun cacat diawal, pasti akan berakhir dengan cerita indah. Terutama dongeng mengenai Putri kerajaan dan Pangeran. Inilah dampak yang paling menakutkan bagi anak-anak, terutama anak perempuan. Tokoh putri yang selalu tampil cantik bisa membuat anak-anak rendah diri, sehingga mereka menjadi minder dan enggan bersosialisasi. (4). takut menhadapi hidup yang berbeda dengan dunia dongeng, anak-anak terbiasa dengan kisah dongeng yang berakhir bahagia. Stereotip inilah yang terbawa dalam diri anak sehingga mereka beranggapan bahwa hidup harus sesuai dengan dongeng yang ceritanya selalu berakhir bahagia. Ketika ada suatu masalah datang maka mereka akan cemas dan takut karena tidak sesuai dengan gambaran yang mereka bayangkan. (5). berpikir buruk, dongeng yang melibatkan putri dan ibu tiri, pasti sosok ibu tiri adalah orang yang jahat dan suka menindas. Sehingga konsep ibu tiri jahat sudah tertanam dalam pikiran anak. Hal ini membuat mereka langsung takut dan berprasangka buruk terhadap ibu tiri di dunia nyata.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dongeng memiliki pengaruh yang baik dan dampak buruk bagi perkembangan anak. Baik itu dongeng yang disampaikan dalam lisan, dibaca lewat tulisan ataupun ditonton secara audio visual.Maka penting bagi orang tua untuk memilih dongeng yang tepat untuk anaknya dan bagaimana orang tua mampu menyampaikan dongeng kepada anaknya.  (***)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top