Oleh : Annisa Amin
Mahasiswi UIN Imam Bonjol
“Harga beras naik, BBM naik, tarif listrik nak, kurs dolar naik. Yang tidak kunjung naik hanya gaji dan harapan sebagian orang.”
Kalimat itu mungkin terdengar seperti keluhan yang sering lewat di media sosial. Namun di balik candaan dan meme yang berseliweran setiap hari, ada kegelisahan yang nyata. Kegelisahan tentang biaya hidup yang semakin tinggi, tentang masa depan yang terasa semakin mahal, dan tentang mimpi yang perlahan-lahan tampak menjauh dari jangkauan.
Beberapa waktu terakhir, masyarakat kemali disuguhi berbagai kabar yang membuat dahi berkerut. Nilai tukar dolar menguat, harga kebutuhan pokok bergerak naik, biaya transportasi meningkat, sementara daya beli masyarakat masih belum sepenuhnya pulih. Di tengah situasi itu, muncul pula pernyataan pejabat yang mengatakan bahwa masyarakat desa tidak menggunakan dolar sehingga tidak perlu terlalu khawatir terhadap kenaikan kurs.
Secara harfiah, pernyataan itu memang bear. Tidak ada petani yang membeli cabai dengan dolar. Tidak ada pedagang di pasar yang menerima pembayaran dalam mata uang Amerika Serikat. Namun persoalannya tidak sesederhana itu.
Dalam ekonomi modern, masyarakat munkin tidak memegang dolar di tangan mereka, tetapi dampak dolar bisa terasa sampai ke dapur rumah tangga. Ketika nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar, biaya impor bahan baku meningkat. Harga pupuk, pakan ternak, obat-obatan, bahan bakar, hingga berbagai kebutuhan industri ikut terdorong naik. Akibatnya, harga barang yang sampai ke tangan masyarakat pun ikut terkerek.
Maka benar, warga desa tidak menggunakan dolar. Tetapi harga pupuk yang dibeli petani bisa dipengaruhi oleh dolar. Harga pakan yang digunakan peternak bisa dipengaruhi oleh dolar. Bahkan harga barang yang dijual di warung kecil sekalipun bisa terkena efek berantai dari pelemahan nilai tukar.
Karena itulah, ketika kurs dolar naik, dampaknya bukan hanya dirasakan oleh pengusaha besar atau investor di kota-kota metropolitan. Gelombangnya bisa sampai ke sawah, pasar tradisional, dan rumah-rumah sederhana di pelosok negeri.
Yang membuat situasi semakin berat adalah kenyataan bahwa kenaikan harga tidak selalu diikuti kenaikan pendapatan. Banyak pekerja merasakan bahwa pengeluaran bulanan bertambah, sementara pemasukan berjalan di tempat. Gaji yang dulu cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok kini harus dibagi untuk berbagai biaya tambahan yang terus meningkat.
Akibatnya, banyak anak muda mulai memandang masa depan dengan cara yang berbeda. Jika dulu mereka berbicara tentang membeli rumah sebelum usia 30 tahun, membangun usaha, atau menabung untuk masa depan, kini sebagian mulai bertanya pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana caranya bertahan hidup dengan layak?
Fenomena ini terlihat jelas di media sosial. Semakin banyak konten yang membahas sulitnya mencari pekerjaan, mahalnya biaya hidup, dan sempitnya peluang ekonomi. Di tengah kondisi tersebut, muncul pula tren yang sempat ramai diperbincangkan “Kabur Aja Dulu.”
Bagi sebagian orang, kalimat itu hanyalah lelucon internet. Namun bagi sebagian lainnya, itu adalah bentuk kekecewaan sekaligus harapan. Kekecewaan terhadap situasi yang dianggap tidak memberikan ruang berkembang, dan harapan bahwa kehidupan yang lebih baik mungkin bisa ditemukan di tempat lain.
Banyak anak muda mulai melirik peluang bekerja di luar negeri. Ada yang ingin menjadi tenaga profesional, ada yang mengejar pendidikan, ada pula yang sekadar mencari penghasilan yang dianggap lebih manusiawi dibandingkan dengan biaya hidup yang harus mereka tanggung di dalam negeri. Namun pertanyaannya sederhana: jika kondisi ekonomi sedang sulit, apakah semua orang punya kesempatan untuk “kabur”? Jawabannya tentu tidak.
Untuk bekerja atau belajar di luar negeri diperlukan biaya, keterampilan, pendidikan, kemampuan bahasa asing, serta akses informasi yang tidak dimiliki semua orang. Tidak sedikit yang bahkan masih berjuang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Maka ketika muncul slogan “Kabur Aja Dulu”, sebagian orang justru bertanya balik, “Kaburnya pakai apa?”
Di sinilah letak persoalan sebenarnya. Bukan semata-mata soal pergi atau tetap tinggal. Bukan pula soal pesimis atau optimis. Yang menjadi masalah adalah ketika sebagian masyarakat mulai merasa bahwa mimpi mereka semakin sulit diwujudkan.
Padahal bangsa yang kuat membutuhkan generasi muda yang percaya bahwa masa depan mereka layak diperjuangkan. Ketika anak muda mulai kehilangan keyakinan terhadap peluang hidup yang lebih baik, maka yang terancam bukan hanya kondisi ekonomi hari ini, tetapi juga energi pembangunan untuk masa depan.
Tentu kita tidak boleh terjebak dalam pesimisme. Indonesia masih memiliki banyak potensi. Sumber daya alam melimpah, bonus demografi masih berlangsung, dan peluang ekonomi digital terus berkembang. Namun optimisme tidak bisa dibangun hanya dengan slogan dan pidato. Optimisme membutuhkan bukti yang bisa dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Masyarakat membutuhkan harga yang lebih stabil, lapangan kerja yang lebih luas, upah yang lebih layak, dan kebijakan yang mampu menjawab persoalan nyata. Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan pembangunan bukanlah seberapa indah narasi yang disampaikan, melainkan seberapa ringan beban yang dirasakan rakyat.
Hari ini mungkin kita masih bisa menertawakan meme tentang harga yang terus naik dan gaji yang jalan di tempat. Namun jika kondisi itu terus berlangsung tanpa solusi yang jelas, candaan perlahan bisa berubah menjadi keputusasaan. Dan ketika generasi muda mulai merasa bahwa bermimpi saja sudah mahal, di situlah seharusnya kita semua mulai khawatir.
Sebab sebuah bangsa tidak akan kehilangan masa depannya ketika dolar naik atau harga-harga melonjak. Bangsa kehilangan masa depannya ketika anak mudanya berhenti percaya bahwa kerja keras masih bisa mengubah kehidupan.
















