Ekonomi

Diskriminasi Eropa Jadi Kendala Perkembangan Industri Sawit Indonesia

Padang, Prokabar — Ketua Bidang Koordinasi GAPKI Pusat Tofan Mahdi menilai selain black campaign tentang sawit, diskriminasi Uni Eropa menjadi salah satu permasalahan industri kelapa sawit Indonesia.

Hal tersebut diungkapkannya disela-sela Seminar Peningkatan Kompetensi Wartawan dan Humas Pemerintah Tentang Industri Kelapa Sawit yang mengangkat tema Pengembangan Industri Kelapa Sawit Menuju Kemandirian Energi.

“Sayangnya keputusan Komisi Uni Eropa pada 13 Maret yang cenderung mendiskriminasi kelapa sawit. Untungnya pemerintah Indonesia dengan gagah berani siap melawan keputusan itu. Seharusnya memang minyak sawit harus mendapatkan perlakuan yang sama dengan minyak nabati lainnya,” katanya

Lebih lanjut ia menjelaskan, Isu deforestasi, HAM hingga terakhir RED II (renewable energy directive) yang mengharuskan sawit dikeluarkan sebagai bahan baku biofuel di Uni Eropa.

“Kriteria ILUC (indirect land use change) tidak fair dalam menghitung emisi karbon dalam perkebunan kelapa sawit,” sambungnya..

Dalam konteks ILUC, dirinya mengkritisi Uni Eropa dalam menganalisis tutupan lahan dan cut off date dalam perhitungan deforestasi. Eropa menghitung berdasarkan selisih karbon stok hutan primer dengan karbon stok setelah menjadi perkebunan kelapa sawit sebagai emisi sawit tanpa melihat sejarah lahan sebelum menjadi perkebunan kelapa sawit.

“Padahal kenyataannya lebih dari 70% pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit Indonesia berasal dari degraded land, yakni lahan terbuka, semak belukar, dan bekas areal pertanian, di antaranya perkebunan karet,” katanya.

“Ini tidak fair, seharusnya selisih karbon dihitung dari  penggunaan lahan tersebut sebelum menjadi kebun sawit. Selain itu, cut off date penghitungan deforestasi dimulai dari periode 2008, padahal deforestasi untuk pembukaan lahan minyak nabati lain seperti kedelai dan bunga matahari di Eropa dan Amerika sudah jauh lebih dulu dilakukan,” tegasnya.

Jika membandingkan ekspansi perkebunan minyak nabati di dunia, Departemen Pertanian AS (USDA) 2017 menyebutkan pada 1965, dari seluruh lahan yang digunakan untuk produksi minyak nabati, luas kebun kedelai mencapai 52%, bunga matahari 17%, rapeseed 16%, dan kelapa sawit 8%.

Lalu, pada 2016 luas perkebunan kedelai 61% , bunga matahari 12%, dan rapeseed 17%, serta kelapa sawit 10%. Produktivitas pohon kelapa sawit 6-9 kali lipat lebih tinggi dibandingkan minyak nabati lainnya.

“Jadi sesungguhnya, Eropa dan Amerika telah melakukan deforestasi besar-besaran, tetapi tidak pernah dibicarakan. Sedangkan Eropa meributkan Indonesia yang tengah berjuang membangun bangsa dengan isu deforestasi,” terangnya.

Lebih lanjut, sebagai negara produsen minyak sawit terbesar di dunia, isu keberlanjutan tentu saja menjadi tantangan yang harus dihadapi. (hdp)

Berani Komen Itu Baik
Loading...
To Top