Dari Sini, Tikam Samurai itu Bermula

Penulis -

Rabu, 16 Mei 2018 - 11:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LADANG LAWEH, PROKABAR – Adakah cerita silat yang dipajang di dinding mobil, ditunggu-tunggu tiap hari selama bertahun-tahun? Ada.

Itulah Tikam Samurai, cerbung silat paling legendaris di Ranah Minang. Penulisnya wartawan Makmur Hendrik, memulai kisah heroik semasa penjajahan Jepang itu dari sini: Situjuah Ladang Laweh.

Sebuah samurai komandan tentara Jepang Saburo Matsuyama, tertancap di tubuh ayahnya di halaman rumah yang berkuah darah.

Lelaki cengeng itu,  si anak tak tahu apa-apa itu, selamat. Ia si Bungsu.  Dia kuburkan semua jenazah di desa yang sudah sepi tak berorang itu. Setelahnya ia pergi. Ia pergi ke Gunung Sago.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Makmur Hendrik wartawan nan disegani orang itu, amat mengalir membuat kisah si Bungsu.  Tragedi bermula dengan penyerbuan sepasukan kecil tentara Jepang di sekitar tahun 1942 ke desanya, Ladang Laweh, Situjuah Limo Nagari, Limapuluh Kota, Sumbar.

Foto : Makmur Hendrik

Samurai yang ditinggalkan oleh Saburo dan menembus ulu hati bapaknya, menjadi sarana latihan untuk mulai meretas jalan menuju Jepang untuk menuntut balas. Ia akhirnya menciptakan jurus Samurai yang khas yang dapat memenangkan pertarungan demi pertarungan melawan para penjahat bahkan prajurit Jepang sendiri.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Dari Ladang Laweh, si Bungsu berpetualang menuju Jepang. Berkenalan  dengan anggota pasukan khusus Inggris Green Barret dan bertarung dengan Yakuza. Dia akhirnya berhasil menemukan pembunuh keluarganya, Saburo Matsuyama, musuh besarnya di Kyoto, dan mengantarkan Saburo untuk memilih harakiri setelah dikalahkan dalam pertarungan Samurai sejati oleh si Bungsu.

Perjalanan Samurai Minang itu juga dibalut dengan kisah romantiknya dengan para gadis yang dikenalnya, Mei-Mei, Mei Ling, Salma dan yang paling tragis : Michiko Matsuyama yang sangat mencintainya, yang juga putri Saburo Matsuyama, sang pembunuh ayahnya.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Dalam beberapa episode, Amerika Serikat juga menjadi latar belakang kisah anak muda Situjuah Ladang Laweh nan ditulis Makmur Hendrik ini.

“Ladang Laweh, adalah satu dari lima nagari di Situjuah Limo Nagari yang nama nagarinya, sudah melegenda kemana mana karena Tikam Samurai Makmur Hendrik,” kata Bupati Limapuluh Kota, Irfendi Arbi.

Dia berencana, tahun depan, akan membangun akses jalan dari Sialang, Tungkar menuju perbukitan di Koto Rajo, Ladang Laweh. Koto Rajo sendiri, diyakini menjadi salah satu objek dalam kisah yang ditulis Makmur Hendrik. (vbm)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman
Mengapa Manusia Membutuhkan Oksigen di Udara?
Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong, Jejak Keindahan Seni dan Kearifan Leluhur Bali
Uluwatu dan Pelajaran Tentang Kesadaran Manusia Sebagai Pemimpin di Muka Bumi
Syekh Burhanuddin Ulakan (Ulama yang Mengubah Surau Menjadi Pusat Peradaban Islam Minangkabau)
Kebenaran, Keniscayaan dan Kebermaknaan  Agama Pada Manusia (Membaca Agama dari Perspektif  Kesadaran, Filsafat dan Kajian Budaya)
Filosofi Kenetralan dan Fungsi Keseimbangan Dalam Menjalani Kehidupan
Aeratie Gebouw dan Rumah Air Kandang Ditabek, Simbol Modernitas dan Jejak Sejarah Air Bersih dari Paninjauan

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 20:33 WIB

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Jumat, 25 September 2026 - 11:22 WIB

Mengapa Manusia Membutuhkan Oksigen di Udara?

Senin, 21 September 2026 - 11:49 WIB

Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong, Jejak Keindahan Seni dan Kearifan Leluhur Bali

Minggu, 13 September 2026 - 08:59 WIB

Uluwatu dan Pelajaran Tentang Kesadaran Manusia Sebagai Pemimpin di Muka Bumi

Selasa, 8 September 2026 - 11:12 WIB

Syekh Burhanuddin Ulakan (Ulama yang Mengubah Surau Menjadi Pusat Peradaban Islam Minangkabau)

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB