Trending | News | Daerah | Covid-19

Opini

Dampak Corona Merembes Kemana-mana. Ini Catatan Jurnalis

Dibaca : 372

Jakarta, Prokabar – Dampak corona merembes kemana-mana. Termasuk kesediaan kamar inap di RS. Rumah sakit di Jakarta, kekurangan kamar karena ada yang dijadikan ruang isolasi. Jika ini terjadi di daerah, bisa kalang kabut, pusing 7 keliling.

Vinna Melwanti, seorang jurnalis yang sedang sakit mengukirkan pengalamannya di akun medsos, sekaligus memberi pesan bagi masyarakat akan jaga jarak. Juga ada imbauan kepada pemerintah untuk punya kepiawaian kebijakan menyangkut soal ketersediaan RS.

Atas postingan di medsos, banyak apresiasi positif karena mengandung muatan yang baik, saran dan tindakan yang dilakuka  ke depan. Apalagi di daerahnya corona bukan kabar pertakut, tapi kenyataan yang mesti disikapi secara kompak.

Berikut torehannya di laman Facebooknya :

Ke Rumah Sakit Mana Kami akan Pergi?

Saya sudah lama tak mempublish hal-hal personal. Yang biasa diposting di sini banyak tentang link informasi yang (mungkin) berguna bagi orang banyak. Sekarang beda.

Begini:

Selama ini, soal kesehatan saya memang lalai. Sudahlah lalai, rentan pula. Sering demam, migren, mual dan banyak lagi.

Apalagi mengingat beban kerja dan hiruknya Jakarta, kesehatan kian berpacu bersama waktu.

Beberapa hari lalu, saya tiba-tiba mengalami demam tinggi di tengah situasi corona. Untung saat bersamaan tempat saya bekerja sudah melakukan metode work from home (WFH).
Saya di rumah saja, namun karena makin parah kemudian harus dilarikan ke IGD Rumah Sakit (maaf saya rahasiakan). Di sini dilakukan tes darah. Lama menunggu, akhirnya hasilnya keluar: saya positif typus. Leukisit saya tinggi.

Saya was-was, mungkin stress, karena berita corona yang amat masif. Apalagi sebagai pewarta saya tau dan sadar akan parahnya penanganan corona di Indonesia. Semua kita tenggelam dalam situasi yang sama.

Dokter jaga di IGD akhirnya meyakinkan saya.

“Aman. Corona biasanya membuat trombosit dan leukisit itu rendah, Anda sebaliknya. Tipus ini harus diobati cepat, karena menggerus imun tubuh. Anda harus dirawat inap, tidak boleh tidak,” ungkap dokter membacakan hasil tes darah.

Saya tertegun mendengarkannya. Apalagi harus dirawat.
Karena harus dirawat, maka perlu kamar. Lama mencari tak dapat-dapat.
Saya kemudian lebih tertegun lagi tatkala pihak rumah sakit mengatakan seluruh kamar habis. Rumah sakit sebesar ini kehabisan kamar? Jangankan yang kelas biasa, VIP saja sudah terisi. Full.

Seorang petugas menyodorkan kepada saya kamar yang tersedia, deluxe, grand royale dan VIP deluxe. Harganya selangit. Perkamar Rp3,5 juta sehari, tak beda dengan hotel yang bertaraf international. Bak disambar petir saja.

Saya keberatan. Pada dokter, saya sampaikan agar rawat jalan saja. “Tidak bisa, karena risiko tinggi, harus dirawat,” katanya. Dokter ini coba membantu merekomen RS lain, tapi RS lain pun penuh.

Di sini mahal, di sana penuh, sementara saya harus dirawat.

Saat pihak manajemen rumah sakit sudah berlalu, dengan suara yang direndahkan, dokter yang baik hati itu memberi informasi yang mengagumkan.

“Rumah sakit ini mendapat limpahan pasien PDP dan suspect corona dari RS rujukan yang sudah penuh.
Karenanya RS ini terpaksa mensterilkan satu lantai gedung untuk pasien tersebut. Ini dilakukan guna pengamanan,” katanya.

 

Saya menjadi maklum atau terpaksa maklum. Karena yang tersedia adalah kamar paling mewah, sebab VIP pun sudah terisi oleh pasien umum lainnya. Sementara 1 lantai semua kamar disterilkan untuk PDP corona.

Kini saya harus menunggu lagi, menenangkan hati dan mengambil keputusan tepat. Apalagi, karena yang tersisa hanyalah kamar mewah yang kita tak tau sampai berapa waktu akan dirawat, itupun waiting list.

Sekitar dua jam, saya masih di IGD yang penuh. Kami di sini seperti pasien buah simalakama. Menolak atau mengangguk sama sama merugi.

Sore telah turun menuju senja raya. Tetes-tetes cairan infus dan antibiotik yang masuk ke tubuh saya nyaris habis.
Kepada petugas saya bilang, saya ambil kamar mewah itu.

Perawat membawa saya dengan kursi roda ke kamar tujuan. Maka mulailah saya dirawat di sini, dengan perasaan penuh rasa campur.

 

Selain mencicipi kamar yang tak ramah kantong, saya harus jalani 3 rangkaian test, karena demam ini mengakibatkan batuk-batuk dan semua sendi2 perih. Labor foto paru paru, CT scan, dan rontgen. Total 7 juta lebih.

Tenaga Medis Hebat

Rumah sakit bagi saya bukan hal baru, setiap tahun masuk ke sana. Saya rentan sakit. Jujur, kali ini jadi momok menakutkan karena di sana sebenarnya sarangnya penyakit yang kini dibicarakan di seluruh dunia: corona.
Saya dirawat dan diberi obat-obatan dengan telaten oleh dokter dan perawat. Saya berusaha secepat-cepatnya sembuh, seluruh anjuran saya iyakan.

Alhamdulillah hasilnya: Demam yang tadinya 38,8 C sudah pada angka 36,3 C.
Sekarang saya ingin cepat pulang, karena ya mahal dan cemas2nya lain.

Di sini saya menyaksikan sendiri, Semua tenaga medis luar biasa cara kerjanya. Dokter maupun perawat yang menangani, mereka terlihat lelah namun tetap bekerja.

Yang mereka gundahkan selain keluarga di rumah, adalah tak ada lagi tempat bagi pasien penyakit lain. Karena situasi ini tak tau kapan berakhir.

Seminggu dirawat, dan semua tes yang dijalani keluar, paru-paru saya baik. Radang tenggorakan akhirnya mereda, demam menurun. Tipus saya dari 60 menjadi 20. Pulang. Saya pulang dengan segepok obat-obatan.

Lalu saya diharuskan untuk diisolasi di rumah, hingga seminggu depan kontrol kembali ke dokter.

Betapa leganya boleh pulang, setelah dinyatakan sehat.

Namun tatkala menerima invoice, saya kembali tersekat. Biayanya benar-benar di luar dugaan. Puluhan juta rupiah!

Atas pengalaman dan pandangan mata ini, saya punya catatan, implikasi dampak dari covid 19, menyebabkan kamar di rumah sakit penuh. Nyaris sudah tak tersedia lagi, kecuali kamar yang mahal. Benar adanya, sehat itu mahal. Lebih baik menjaga kesehatan daripada berobat dan menguras semua isi tabungan agar sehat.

Risau akan RS di Daerah
—————————————-

Ini Jakarta, rumah sakitnya banyak, tapi penuh. Saya membayangkan di daerah yang rumah sakitnya sedikit, bisa dihitung dengan jari, lalu apa yang bakal terjadi?

Padang contohnya. Ilustrasinya RS M Djamil yang menjadi rujukan penanganan corona dan ruang isolasinya penuh, mereka melempar ke RS Yos Sudarso. RS ini akan menempatkan pasien di lantai 3, dan demi keamanan lantai 2 akan disterilkan. Ruang isolasi di RS Achmad Muchtar, Bukittinggi setali tiga uang, kabarnya. SPH juga sudah menyiapkan ruang isolasi. Sementara itu, pagar pengamanan diri warga rapuh, sehingga rentan diserang corona. Hari demi hari kabar buruk terus muncul.
Karena itu, otomatis semua pasien apapun penyakitnya, hanya akan diberi pilihan. “Kamar kami habis, kami hanya punya kamar VIP deluxe .Ini situasional jika tdk bisa ya di RS lain saja.”

Saya tak terbayang nasib pasien lain yang tak sanggup membayar hanya untuk sehat. Saya tak terbayang mereka dilanda kebingungan kala di IGD. Pasti memilih sakit saja ketimbang semua tabungan habis.
Saya.. Ah sudahlah.

Semoga Ada Solusi
——————————-

Dalam situasi semacam ini, semestinya ada solusi. itulah harapan saya. Daerah-daerah bisa gagal tapi para pemimpinnya harus bisa mengambil langkah pasti untuk sebuah solusi.
Contoh seperti yang dilakukan Erick Tohir yang menyulap hotel jadi tempat perawatan pasien diduga corona atau kena corona. Ini langkah bijak, yang sebelumnya tak terpikirkan. Tindakan serupa juga dilakukan pengusaha, Surya Paloh menyediakan hotelnya dijadikan rumah sakit corona. Dengan demikian masyarakat pencari kesehatan tak terganggu.

Di daerah, di seluruh Indonesia, tindakan semacam ini mesti dilakukan, agar warga yang sakit bisa tertolong dengan cepat. Atau akan ada pemandangan mengerikan, orang-orang bergelimpangan di halaman rumah sakit.

HARAPAN
——————————–

Mengurung diri di rumah, itu saran pemerintah. Saran pertama dalam sejarah bangsa ini. Semestinya benar benar dipatuhi, tapi pemerintah wajib mengiringinya dengan bantuan jatah hidup untuk yang tak punya. Mereka berhenti bekerja, uang berhenti masuk.

Karena itu, kita musti menghindari kerumunan, semoga sudah tidak ada yang berkerumun. Kenapa? Karena penyebaran virus dalam kerumunan sangat masif. Menyebar kemana-mana tanpa kita bisa tahu.

Jika Anda menjaga diri dengan social distancing, saya yakin itu membantu kerja tenaga medis yang berjibaku siang malam. saya yakin langkah itu menolong Saya, saudara, kawan, teman Anda yang sedang berjuang menuju kesembuhan di rumah sakit.

Tindakan kecil pasti ada manfaat, jika kita lakukan bersama. Aamiin **


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top