COVID-19, Udara Kota Padang Menjadi Segar

Penulis -

Kamis, 30 April 2020 - 16:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Widya Prarikeslan, M.Si

Dosen Geografi Universitas Negeri Padang dan Mahasiswa Pascasarjana (S3) Ilmu Lingkungan UNP.

Pembatasan perjalanan paling luas diberlakukan di seluruh dunia. Begitu juga dengan kota Padang Tercinta. Biasanya ramai baik dijalan, di kantor-kantor maupun pasar, tapi sekarang telah ditutup dan orang-orang diperintahkan untuk tinggal di rumah mereka.

Penerbangan dibatalkan atau diputar di udara, saat industri penerbangan tertutup. Mereka yang mampu melakukannya bersembunyi di rumah, mempraktikkan jarak sosial dan bekerja dari jarak jauh. Itu semua bertujuan mengendalikan penyebaran Covid-19 dan mudah-mudahan mengurangi korban jiwa. Tetapi semua perubahan ini juga menyebabkan beberapa konsekuensi yang tidak terduga. Ketika industri, jaringan transportasi, dan bisnis ditutup, ini telah menyebabkan penurunan emisi karbon secara tiba-tiba.

Alam memang memiliki kekuatan serta kemampuan dalam melindungi kehidupan kita sebagai manusia. Tetapi kondisinya telah rusak, maka manusia harus berhadapan langsung dengan semua bencana dan selalu menjadi korban dari bencana tersebut. Dalam konteks COVID-19 ini, memberikan kesempatan kepada lingkungan hidup untuk bernapas, memulihkan daya dukung dan daya tampungnya. Sehingga orang-orang sadar, COVID-19 bukanlah sekadar siklus alam belaka yang memakan banyak korban jiwa.

Terlebih lagi, “COVID-19 mampu membenarkan cara pandang kita, bahwa alam tidak sekadar komoditi ekonomi, bahwa alam lingkungan dan semesta memiliki nilai sosial dan kultural, memiliki kemampuan mereduksi segala bentuk bencana, harus segera kita lakukan.

Lingkungan buatan adalah kumpulan lingkungan yang telah dibangun masyarakat kota Padang, termasuk bangunan, mobil, jalan, angkutan umum, dan ruang buatan manusia lainnya. Karena sebagian besar masyarakat menghabiskan > 90% kehidupan sehari-hari mereka di dalam lingkungan buatan, penting untuk memahami potensi dinamika transmisi COVID-19 dalam ekosistem lingkungan buatan dan perilaku manusia, dinamika spasial, dan membangun faktor operasional yang berpotensi mempromosikan dan mengurangi dampak negatif tersebut. Penyebaran dan transmisi COVID-19.

Lingkungan buatan berfungsi sebagai vektor transmisi potensial untuk penyebaran COVID-19 dengan mendorong interaksi erat antar individu, dengan mengandung fomites (benda atau bahan yang kemungkinan membawa penyakit menular), dan melalui pertukaran virus dan transfer melalui udara. Kepadatan penghuni dalam bangunan, dipengaruhi oleh jenis dan program bangunan, jadwal hunian, dan aktivitas dalam ruangan, menfasilitasi aktual mikroorganisme terkait manusia.

Kepadatan penghuni yang lebih tinggi dan peningkatan tingkat aktivitas dalam ruangan biasanya meningkatkan interaksi sosial dan konektivitas melalui kontak langsung antara individu serta kontak yang dimediasi lingkungan dengan permukaan abiotik. Partikel-partikel virus ini kemudian dapat mengendap pada objek abiotik di lingkungan buatan dan berpotensi berfungsi sebagai reservoir untuk penularan virus.

Lingkungan buatan lainnya dapat meningkatkan potensi jalur paparan yang dimediasi lingkungan dan menambah kompleksitas untuk memberlakukan langkah-langkah yang menjauhkan sosial. Misalnya, dalam kasus di mana moda transportasi alternatif dulunya merupakan kendaraan hunian tunggal, perjalanan ini sekarang sering diganti dengan program rideshare atau perusahaan jaringan transportasi, potensi paparan dapat meningkat. Berkurangnya moda transportasi menyebabkan sedikitnya emisi yang dikeluarkan oleh asap kendaraan, baik untuk transportasi darat, laut dan udara.

COVID-19, mirip dengan SARS, adalah beta-coronavirus yang dapat menyebar ke manusia melalui host perantara seperti kelelawar, meskipun rute sebenarnya dari transmisi masih dapat diperdebatkan. Penularan dari manusia ke manusia telah diamati melalui tetesan pernapasan yang sarat virus, karena semakin banyak pasien yang dilaporkan tidak memiliki paparan pasar hewan, dan kasus juga terjadi pada pekerja kesehatan. Dari catatan tenaga kesehatan kota Padang juga ada yang terdampak.

Transmisibilitas COVID-19 yang ditentukan oleh unit yang diproduksi telah diperkirakan 4,08, menunjukkan bahwa rata-rata, setiap kasus COVID-19 akan menciptakan hingga 4 kasus baru. Periode inkubasi rata-rata diperkirakan 5,2 hari, dengan variasi yang signifikan di antara pasien, dan mungkin mampu menyebar tanpa gejala. Gejala infeksi termasuk demam, menggigil, batuk, coryza, sakit tenggorokan, kesulitan bernapas, mialgia, mual, muntah, dan diare. Pria yang lebih tua dengan komorbiditas medis lebih banyak terinfeksi, dengan hasil yang lebih buruk. Kegagalan pernafasan, sindrom gangguan pernapasan akut, dan kematian. Tingkat fatalitas kasus sementara oleh WHO adalah sekitar 2%, tetapi beberapa peneliti memperkirakan tingkat berkisar antara 0,3% hingga 0,6%.

Supaya korban tidak bertambah maka diberlakukan semua kegiatan dilakukan dirumah saja, sehingga semua pusat keramaiaan ditutup seperti kantor, sekolah, mall, pasar dan industry. Penurunan nitrogen dioksida, yakni emisi gas buang dari kendaraan bermotor dan asap industri, yang turun secara drastis. Tingkat polusi udara dan gas yang memanas di kota Padang dan wilayah menunjukkan penurunan yang signifikan karena dampak Virus Corona COVID-19, di mana banyak orang menghentikan kegiatannya untuk sementara waktu.

Polusi dan emisi gas rumah kaca telah turun saat virus covid 19. Hal pertama yang perlu dipertimbangkan. Ambil transportasi, misalnya, yang merupakan 23% dari emisi karbon global. Emisi ini telah jatuh dalam jangka pendek di negara-negara di mana langkah-langkah kesehatan masyarakat, seperti menjaga orang di rumah saja, telah memotong perjalanan yang tidak perlu. Berkendaran dan penerbangan merupakan kontributor utama emisi dari transportasi, berkontribusi masing-masing 72% dan 11% dari emisi gas rumah kaca sektor transportasi.

Pengurangan emisi kemudian sebagian besar disebabkan oleh berkurangnya aktivitas industri, yang berkontribusi pada emisi karbon pada skala yang sebanding dengan transportasi. Gabungan emisi dari proses industri, manufaktur dan konstruksi merupakan 18,4% dari emisi antropogenik global.
Namun, hal ini tampak bertolak belakang dengan isu lingkungan yaitu perubahan iklim dan dampak pemanasan global. Jika Virus Corona sudah dinyatakan sebagai pandemik oleh WHO, maka perubahan iklim pun derajat isunya seharusnya setingkat dengan penyebaran Corona. Hal tersebut menunjukkan kondisi bumi memasuki masa kritis karena kenaikan suhu bumi mencapai 2 derajat Celcius akan menyebabkan kekeringan ekstrem dan kenaikan permukaan laut. Dengan adanya virus corona ini bumi sudah mulai stabil lagi karena yang menyebabkan perubahan iklim ini dari berkurangnya aktivitas manusia yang ada diatasnya.

Kita lihat kota Padang dengan adanya pandemic ini warga dilarang beraktifitas diluar rumah sehingga kendaraan yang lalu lalang jauh berkurang, aktifitas industry juga berkurang dan berkurangnya kegiatan-kegiatan perkantoran. Tutupnya banyak kantor dan pusat perbelanajaan yang banyak menggunakan bahan-bahan yang menyebabkan pemicu pemanasan global, sehingga pada awal tahun ini di pesisir kota Padang kita rasakan suhu sangat menyengat pada siang hari berkisar 32 sampai 34 derajat celcius. Jauh berbeda kita rasakan saat ini, suhu kota Padang tidak sepanas pada sebelum banyaknya corona yang masuk ke daerah kita ini. Dari kejauhan bisa kita lihat gunung dan perbukitan, segarnya udara yang kita hirup karena berkurangnya debu serta suhu yang tidak panas menyengat lagi. Ini adalah sisi lain yang dapat kita rasakan pada saat COVID 19 ini berjangkit di daerah kita ini.(*)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi
Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur
IKHLAS itu MUDAH
Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional
Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak
Munajat Cinta di Sepenggal Tanah Surga
Muktamar NU ke-35, Menentukan Arah Khidmah NU dan Masa Depan Umat
Di Tanah Kelahiran, Harapan Kami Menggantung di Ujung Pena Regulasi
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 11:11 WIB

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi

Selasa, 29 September 2026 - 10:10 WIB

Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur

Minggu, 13 September 2026 - 05:44 WIB

IKHLAS itu MUDAH

Rabu, 2 September 2026 - 13:57 WIB

Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional

Senin, 31 Agustus 2026 - 15:36 WIB

Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB